CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Diam


Adinda menjauh dari Raka namun Raka sengaja merapatkan tubuhnya membuat Adinda terpojok. Adinda berusaha untuk menunjukkan raut wajah datarnya namun membuat Raka gemas dan menarik Pipi Adinda yang tidak lebam, membuat Adinda menepis tangan Raka.


"Gemes banget kalau kamu jadi pendiam kayak gini!" goda Raka ia kemudian dengan tidak sopannya membaringkan kepalanya di paha Adinda.


Adinda berusaha mendorong kepala Raka namun Raka menahannya dengan memeluk tubuh Adinda. Kesal? tentu saja, ingin rasanya menjambak rambut Raka saat ini juga, tapi jika kelakuannya yang bar-bar diketahui Mamanya, ia bisa dihukum sang Mama. Apalagi laki-laki yang saat ini menjadikan pahanya sebagai bantal empuknya adalah tunangannya alias calon suaminya.


"Kamu ini jangan suka ngambek Adinda, dosa kamu meperlakukan saya seperti ini!" ucap Raka menyembunyikan wajahnya di perut Adinda.


*Yang dosa itu sampean tahu, apa-apan tidur diperut gue, masuk kekamar anak gadis orang, cium-cium anak gadis orang. Dasar egois giliran gue dijambak kayak tadi dan ditampar malah tersangkanya dilepasin gitu aja. Pengorbanan gue kan jadi sia-sia.


Batin Dinda ingin berteriak*.


Adinda segera menarik tangan Raka agar lepas dari tubuhnya namun kekuatan Raka lebih besar membuat Adinda kesal. "Kalau kamu bilang minta dilepasin dari pelukan saya, saya akan melepaskannya!" ucap Raka meminta Adinda agar mengeluarkan suaranya.


Ogah gue ngambek sama lo Om, selama satu minggu gue mau bebas dari lo Om. Bukan hanya lo yang bisa menghukum gue, gue juga bisa menghukum lo.


"Dinda..." panggil Raka namun Adinda hanya diam saja. Raka menarik kepalanya agar bisa menatap Adinda namun membuat Adinda merasa ini kesempatan untuk menarik tangan Raka, agar lepas dari tubuhnya dan akhirnya Adinda berhasil. Adinda dengan cepat turun dari ranjang tapi tangan panjang Raka dengan juga sangat cepat menarik tangan Adinda dan membuat Adinda terjatuh kedalam peluka Raka. Saat ini Adinda berada diatas tubuh Raka. Ia ingin segera turun dari tubuh Raka tapi Raka menahan tubuhnya.


"Kalau mau turun dari tubuh saya, ngomong dong Din!" ucap Raka menatap mata Adinda dengan tatapan berbeda. "Jangan marah!" ucap Raka lagi.


Tahan Dinda, jangan mudah luluh, biar om kapok bersikap sesuka hatinya sama lo. Om harusnya tahu kalau lo juga bisa ngambek dan membuat dia pusing.


Cup.. cup... cup... Raka mengecup pipi lebam Adinda membuat Adinda ingin tertawa karena pasti bibir Raka saat ini terasa tidak enak rasanya karena salep lebam yang diolesi Raka dipipinya tadi.


*Senjata makan tuan kan lo... emang enak cium salep hahahaha...


Gimana rasanya Om?


Raka mengelap bibirnya dan Adinda menahan tawanya melihat tingkah Raka. Adinda menyembunyikan ekspresi wajahnya ingin sekali ia mengejek Raka saat ini.


Tiba-tiba Raka menarik baju Adinda dan membersihkan bibirnya dengan baju Adinda membuat Adinda melototkan matanya, sedangkan Raka tersenyum puas. Bunyi ketukan pintu membuat Raka segera melepaskan Adinda. Ia duduk dan membuka pintu kamar lalu keluar saat melihat Alfa berdiri didepan pintu kamar Adinda.


"Waktu habis Ka, kamu bisa buat dosa kalau berada didalam kamar adik saya terlalu lama!" ucap Alfa.


Dasar Kak Alfa, kalau Kak Alfa nggak kerjasama, sama si Om. Gue nggak akan bukain pintu kamar gue. Om Raka emang sering buat dosa kalau berada didekat gue, Dia itu sama kayak Mbak Ayunda yang suka cium-cium Kak Guna.


tbc*...


Makasi udah vote dan ceritaku naik rangking...🙏🙏🙏