
Akhirnya lagi-lagi Dinda tidak bisa pergi bersama teman-temannya, entah apa yang dipikirkan Raka hingga memintanya selalu pergi bersamanya. Adinda menatap sinis Raka yang saat ini sedang mengemudi disampingnya. Ia tak habis pikir, Raka memintanya untuk masuk ke kelas dan duduk seperti mahasiswa lainnya tapi ia akan diperkenalkan sebagai asisten Raka. Asisten dosen seharusnya masuk ketika dosen utama tidak masuk karena kesibukannya. Tapi tidak seperti dirinya yang menjadi Asisten Raka dan harus selalu hadir jika ia tidak kuliah.
Mereka turun dari dalam mobil, Raka dan Adinda segera menuju kelas dengan santai. Saat ini merela telah sampai tepat didepan pintu ruang kelas dan terlihat ada sekitar tiga puluh lebih mahasiswa yang saat ini telah berada didalam kelas. Saat melihat Raka masuk kedalam kelas, mereka semua segera diam. Raka memang tidak mentorerir mahasiswanya yang sedang mengobrol di jam mata kuliah yang diampuhnya.
Raka dengan isyarat matanya meminta Adinda duduk disudut depan. Beberapa mahasiswa menatap Adinda dengan tatapan kagum apalagi Adinda terlihat ramah dengan memperlihatkan senyum manisnya.
"Assalamualikun selamat pagi semuanya, hari ini kita kuis!" ucap Raka membuat semuanya terkejut dan terjadi bisik-bisik keberatan dari para mahasiswa saat ini.
Mampus ini orang bikin mahasiswa kesel aja, kuis mendadak hahaha... makaknya banyak mahasiwa kesal sama dia. Suka seenaknya, sama gue yang tunangannya aja begitu. Emang sifat dasar Om Raka udah begitu negeseli, sombong, sok pintar dan untuk sih gantengnya itu kebangetan.
"Semuanya diam! kalau ada yang tidak bersedia ikut kuis segera keluar! kamu amati mereka!" ucap Raka menatap Adinda.
"Iya Pak" ucap Adinda.
Tidak ada yang memilih keluar dari kelas karena jika mereka melakukannya maka nilai mata kuliah ini akan menjadi D dan C. Raka menyebutkan lima soal yang harus dijawab para mahasiswanya. Sebenarnya bagi mahasiswa yang rajin mengikuti kuliahnya, pasti tahu jawaban dari pertanyaan Raka. Apalagi mahasiswa yang bukan hanya mendengar tapi juga mencatat poin-pon penjelasannya.
Semua mahasiswa saat ini sedang sibuk menjawab pertanyaan dari Raka. Adinda bisa mengamati beberapa mahasiswa yang tampak kebingungan, ada juga mahasiswa yang berusaha mencontek mahasiswa yang berada disebelahnya, ada juga yang saat ini mencoba membuka catatanya dan ada juga mahasiswa yang dengan santai menulis jawaban dari pertanyaan Raka. Adinda tahu jika Raka saat ini tahu tingkah semua para mahasiswanya saat ini.
Mata Raka dan Adinda bertemu, tak ada senyuman manis atau ekspresi penuh cinta yang ditunjukan seorang Raka padanya. Raka kemudian mengalihkan pandanganya ke arah lain membuat Adinda tersenyum.
Tiba-tiba Adinda berdiri dan ia menunjuk ke arah luar saat Raka melihatnya. Adinda keluar dari ruangan sambil menghubungi Raka. "Mau pipis kalau mau ikut hayo biar para mahasiswa Om senang bisa buka buku atau menyontek!" ucap Adinda.
"Jangan lama!" ucap Raka singkat padat dan jelas membuat Adinda tersenyum.
Adinda menuju toilet yang berada diujung koridor kampus. Universitas Alexsander adalah salah satu Universitas terbaik di kota ini. Universitas ini sangat bersih dan nyaman hingga di toilet pun sangat dijaga kebersihannya. Adinda masuk kedalam toilet dan segera menuntaskan apa yang ia tahan sejak tadi. Setelah itu ia merapikan makeupnya. Adinda menepuk kedua pipinya berusaha menyegarkan dirinya agar tidak mengantuk.
"Aduh gue pengen banget nonton, kan udah lama nggak nonton. Si Om nggak pernah mau ngajakin gue nonton, tadinya gue mau nonton berdua sama Gemal seperti biasa. Tapi Gemal nggak berani katanya takut ditonjok si Om!" ucap Adinda sambil memoleskan lisptik ke atas bibirnya.
Dulu saat keduanya masih jomblo pada saat Gemal belum menikahi Vivian dan ia juga belum menjadi tunangan Raka, hampir setiap hari keduanya pergi ke bioskop. Gemal dan Adinda layaknya kakak adik yang sangat akrab dan Gemal yang tidak memiliki adik perempuan memang lebih memanjakan Adinda dibandingkan Vivian saat itu.
Adinda melangkahkan kakinya keluar dan melihat seseorang yang saat ini sengaja menunggunya di depan toilet. Perempuan cantik itu menatap Adinda dengan sinis membuat Adinda mengerutkan dahinya.
M**au berantem? lo kira gue takut? Tunangan gue aja gue nggak takut, pada hal dia lebih serem dari lo walau gantengnya bikin gue nggak tega nonjokin dia. Nah...gue jadi
pengen dipeluk dia dan cium dia. Astagfirullah...pikiran gue kearah sana mulu...
tbc...