CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Jalan-jalan


Semua telah berkumpul di Restauran hotel untuk sarapan pagi bersama. Saat ini Ayunda mengajak Karina melihat chef menyiapkan sarapan khusus untuk mereka. Raka memang meminta Chef khusus untuk membuatkan makanan yang diinginkan keluarganya. Ayunda kagum saat melihat kecekatan orang-orang yang berada didalam dapur.


"Mbak, pantesan aja pendapatan dibidang perhotelan dan restauran meningkat tajam sejak Om Raka yang pegang. Soalnya Om Raka itu sangat teliti" ucap Ayunda.


"Iya Yu, hmmm...Mbak pengen banget belajar masak karena Mbak malu sama Abang. Soalnya Abang masakannya lebih enak dibanding Mbak Yu!" jelas Karina.


"Kalau masak lauk Ayu jagoannya, tapi kalau masak kue Adinda lebih jago Mbak. Dia itu dulu waktu baru tamat SMA udah sering terima orderan buat kue-kue gitu. Apalagi saat menjelamg lebaran orderan Adinda banyak banget Mbak. Kalau kata Kak Alfa, Dinda itu kayanya kalau mau lebaran hehehe" kekeh Ayunda mengingat sosok Adinda yang ternyata sangat cocok dengan Raka. Keduanya memiliki otak bisinis. Adinda jugalah yang menjadi mata-mata dan penghasut hingga hubungannya dengan Guna membaik waktu itu.


Keduanya melihat para chef sedang menghias makanan mereka. "Ayo Mbak kita kembali ke depan!" ajak Ayunda.


"Ayo Yu!" ucap Karina.


Keduanya melangkahkan kakinya menuju tempat dimana para keluarga mereka telah duduk menunggu sarapan. Adinda dan Raka baru saja datang dan duduk bergabung kepada mereka. Vivian seperti biasa duduk disebelah Gemal dan memilih untuk menuruti keinginan Gemal agar duduk didekatnya.


"Pengantin baru telat aja, habis subuh lanjut lagi ya?" goda Ayunda.


"Kak Guna, bisa dikondisikan nggak mulut Mbak Ayu? tuh Ghavin denger!" ucap Adinda menujuk Ghavin yanga saat ini duduk diatas meja.


Guna hanya tersenyum dan mengelus puncak kepala istrinya membuat Adinda memutar kedua bola matanya karena ia benar-benar malu saat ini. "Kok kamu jadi pemarah ya Din jangan bilang Om Raka udah menanam kecebong sebelum kalian nikah hingga kamu hamil sekarang" goda Ayunda membuat Raka yang sedang meminum kopinya tersedak.


"Ayu" tegur Guna membuat Ayunda tersenyum dan memilih terkekeh.


"Hehehe... becanda" ucap Ayunda.


"Nggak lucu becandanya Mbak!" kesal Adinda menyebikkan bibirnya membuat mereka semua tertawa.


"Itu nasib anak bungsu ya Din, suka banget digangguin kakaknya" ucap Gemal.


"Dulu Vivian selalu saja di ganggu Gemal dan nangis. Kalau nangis ngadu sama Om Raka kalau nggak ngadu sama saya!" jelas Guna.


"Iya, Gemal bandel nggak bisa dibilangi kalau adik perempuan itu disayangi dan bukan di kerjain. Tiap kali saya dan Guna sedang sibuk belajar mereka selalu menggangu kita. Karena kesal, dulu saya hukum Gemal dan Vivian dengan mengunci mereka berdua diperpustakaan selama tiga jam agar berdamai. Saat saya sama Guna membuka pintu perpustakaan Gemal tertidur sambil meluk Vivian" ucap Raka.


"Mana ada Gemal kayak gitu Om!" kesal Gemal.


"Itu semua kenyataan!" ucap Guna membuat Raka menatap keduanya dengan tatapan menggoda.


"Hahaha" tawa Raka dan Guna membuat mereka semua tersenyum kaku karena baru kali ini Raka dan Guna terlihat kompak.


Pembicaraan mereka terhenti saat makanan datang membuat Adinda segera mengeluarkan ponselnya "Stop jangan disentuh dulu! Dinda mau foto dulu makanannya!" ucap Dinda.


update status maklum gue norak hahaha... gue mau membuat teman-teman gue iri hihihi.


"Otak mesdos gini nih!" ejek Gemal.


"Wah... lo nggak tahu ya Gem istri lo itu lebih terkenal dari gue di media sosial" ucap Adinda. Vivian juga seorang selebgram yang memiliki banyak pengikut. "Tapi kasihan sekarang ponselnya disita gimana mau update" ejek Adinda. Sebenarnya Vivian sering meminjam ponsel Adinda untuk update IGnya.


"Pantesan aja dia masih bisa post foto yang nggak jelas itu!" ucap Gemal.


Raka mengambil makanan dan segera menyuapkan sesendok makanan itu kemulut Adinda. "Biar diem dan kalem sedikit!" ucap Raka membuat Ayunda dan Gemal tertawa terbahak-bahak.


"Ayu makan!" perintah Guna.


Mereka semua sarapan pagi dengan canda dan tawa. Setelah selesai sarapan pagi, Raka segera pergi rapat bersama Guna. Gemal pergi bersama Alfa memeriksa dua hotel lainnya yang berada di Bali. Sedangkan para istri mereka akan pergi jalan-jalan di Bali mengunjungi beberapa tempat wisata.


"Wah... ada supir pribadi harusnya nggak perlu!" ucap Ayunda.


"Udah ayo naik dari pada kita dilarang pergi!" ucap Adinda membuat Karina dan Vivian mengangguk setuju dengan ucapan Adinda.


"Kita kemana dulu nih?" tanya Vivian.


"Discovery shopping" ucap Adinda.


"Oke" teriak Ayunda.


Mereka segera menuju tempat yang akan mereka kunjungi. Belanja adalah surga bagi para wanita, apalagi jika memiliki uang belanja yang cukup banyak. "Kita belanja apa ya oleh-oleh buat Mami?" ucap Vivian.


"Kita beli baju sama Tas aja Vian" ucap Ayunda.


"Kalau gitu biar Mama aku dan Mbak Karina yang beliin ya!" ucap Adinda.


"Oke" teriak Vivian dan Ayunda. Karina tersenyum senang karena memiliki para saudari yang lucu dan menyenangkan.


Beberapa menit kemudian mereka sampai, Adinda dan Ayunda terlihat antusias "Maaf ya kita terlalu norak hehehe" kekeh Adinda.


"Norak banget malah hahaha" tawa Ayunda tertawa melihat tingkah laku Adiknya yang sejak tadi memotret dirinya sendiri sambil tertawa senang. Ayunda dan Adinda sudah lama tidak jalan-jalan bersama seperti ini.


"Mbak disana lucu banget!" ucap Adinda menarik tangan Ayunda agar mengikutinya. Mereka sibuk memilih beberapa pernak-pernik cantik dan tanpa mereka sadari Vivian dan Karina telah terpisah dari mereka berdua.


"Mbak, Vian dan Mbak Karina nggak kelihatan!" ucap Adinda.


Ayunda mengedarkan pandangannya dan keduanya memang tidak melihat Vivian atau Karina di sekeliling mereka. "Nanti kita hubungi saja mereka, ayo!" ajak Ayunda memegang tangan adiknya dan mengajaknya melangkahkan kakinya bersama. Ayunda sangat takut terpisah dari Adinda membuat Adinda tersenyum melihat tingkah Ayunda.


"Takut banget kehilangan adiknya yang cantik ini!" goda Adinda membuat Ayunda memutar bola matanya.


"Iya takut banget Din karena nggak ada yang disuruh buat angkatin barang belanjaan Mbak!" ucap Ayunda.


"Wah...Mbak ingat ya, Dinda bukan Dinda yang dulu hanya dengan uang dua ratus ribu Dinda mau jadi babu mbak keliling bawain belanjaan Mbak" ucap Adinda mengenang masa lalu membuat keduanya tertawa. "Tenang aja Mbakku sayang, Dinda akan selalu siap membantu Mbak walau nggak diupah sekalipun" jujur Adinda membuat Ayunda mengelus kepala Adinda dengan sayang.


"Biar sudah jadi istri Ceo kaya ternyata kamu masih tetap adik Mbak yang baik ya Din!" ucap Ayunda.


"Yaiyalah Mbak, masa Adik tetangga" kesal Adinda membuat Ayunda tersenyum.


Keduanya melangkahkan kakinya dengan riang menuju toko lainya namun ketika sedang sibuk memilih tiba-tiba segerombolan pria bertubuh besar tiba-tiba mengelilingi keduanya dan menunjukkan pisau yang mengarah kepada pinggang Ayunda. Adinda terkejut dan ia menggelengkan kepalanya menatap Ayunda yang saat ini ingin berteriak.


"Ikut kita berdua, jika tidak salah satu dari kalian akan kita bunuh!" ucapnya membuat Ayunda meneteskan air matanya karena takut.


*Tenang Mbak, kita nggak akan apa-apa... lebih baik kita menuruti mereka.


batin Adinda*.


Tbc