CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
pemeriksaan rutin


Tiba giliran Ayunda untuk diperiksa, keduanya memasuki ruangan Gemal. Gemal tersenyum melihat kedatangan Kakak sulungnya dan juga Kakak iparnya yang terlihat mesra. Ayunda dan Guna duduk di hadapan Gemal. Gemal membaca berkas yang ditulis suster dan juga hasil tekanan darah Vivian.


"Naik Mbak!" pinta Gemal membuat Ayunda segera naik ke atas tempat tidur dibantu Guna.


Gemal memasukkan stetoskop kedalam baju Ayunda. Guna memperhatikan Gemal membuat Gemal terkekeh. "Nggak usah cemburu, Gemal masih waras Kak, kan kalau nggak waras nggak jadi dokter," ucap Gemal membuat Ayunda terkekeh.


"Hehehe...Mas Guna memang cemburuan Gem."


Gemal kemudian mengoleskan gel diperut Ayunda dan ia meletakan alat untuk memeriksa kondisi bayi. Guna menatap layar monitor dengan serius dan kemudian Gemal menyelesaikan pemeriksaannya. Gemal kembali duduk di kursinya dan ia menuliskan resep untuk Ayunda. Guna membantu Ayunda turun dari ranjang dan keduanya kembali duduk dihadapan Gemal.


"Gimana Gem kondisi kandungan kakak iparmu?" tanya Guna.


"Alhamdulilah sehat, Kak" ucap Gemal tersenyum.


"Vian sering kemari Gem?" tanya Ayunda.


"Mau tahu aja si Mbak," ucap Gemal membuat kedua suster menahan senyumnya. Gemal memang hanya ramah kepada keluarganya dan pasiennya.


"Kata Mami kamu mau ke Jepang?" tanya Guna.


"Iya tapi masih lihat jadwal dulu," jelas Gemal.


"Gem, nanti kalau pulang beliin mbak maratabak ya Gem!" pinta Ayunda membuat Gemal mengerutkan dahinya.


"Mbak kan punya suami masa yang disuruh Gemal, kalau Mbak istri Gemal, Gemal belikan sepuluh Mbak!" ucap Gemal membuat kedua suster akhirnya terkekeh mendengar ucapan Gemal. "Kalian kenapa ketawa?" tanya Gemal, kedua suster segera mengatupkan bibirnya.


"Ya ampum Gem, galak bener kamu ini!' sinis Ayunda.


Guna mengelus kepala Ayunda dengan lembut "Kita pulang sayang, Ghavin pasti cariin kamu!" ucap Guna.


"Iya Mas," ucap Ayunda tersenyum. "Gemal nggak bisa diajak kerjasama lagi Mas, nanti kalau Gemal minta apa-apa sama Mas Guna jangan dikasih!" ucap Ayunda.


"Iya sayang," ucap Guna membuat Gemal melototkan matanya karena kesal.


"Kita pulang Dok, terimaksih!" ucap Guna membuat Gemal menghela napasnya. Bagaimana tidak uang bulanannya dari pengahsilan perusahaan keluarga pasti akan ditahan Guna karena menolak permintaan Ayunda.


"Kalau lagi nggak butuh buat persiapan klinik, nggak apa-apa Gem!" ucap Guna.


"Iya Kak, Gemal yang pergi beli martabak. Bilang aja kakak malas nungguin antrian martabaknya dimasak" kesal Gemal. Apalagi saat ini kondisi Guna yang tidak suka bau asap semenjak istrinya hamil. Martabak kesukaan Ayunda dijual dipinggir jalan dan letaknya berdekatan dengan sate padang yang harum dan memiliki asap saat dipanggang. Itu juga menjadi alasan kenapa Ayunda meminta Gemal yang membelikannya martabak.


"Nah gitu dong Gem, Kakak nggak mungkin minta Om Raka yang beliin bisa kualat Kakak, Gem!"ucap Guna.


"Kenapa nggak pakek jasa pengantaran aja Pak?" ucap salah satu suster yang berada diruangan ini.


"Nggak ada seninya sus, hamil kan nggak tiap tahun. Sesekali ngerepotin adik ipar lebih asyik Sus," ucap Ayunda membuat mereka semua tertawa kecuali Gemal.


"Udah ayo sayang!" ajak Guna mengajak istrinya agar segera keluar dari ruangan Gemal.


Saat ini Ayunda adalah pasien terakhir dan memang ia yang meminta agar dipanggil diurutan terakhir agar bisa berbincang bersama Gemal sedikit lebih lama. Mereka melewati koridor rumah sakti dan kemudian sampai diparkiran. Guna dan Ayunda masuk kedalam mobil dan mereka segera kembali ke rumah mereka.


Ayunda bernyanyi riang mengikuti irama musik sambil tertawa bersama Guna saat menceritakan peristiwa Adinda yang pergi ke hotel untuk menemui Raka dengan memakai sandal yang berbeda tanpa sadar. Beberapa menit kemudian mereka sampai di Rumah. Ayunda segera masuk bersama Guna dan keduanya terkejut saat melihat Gia menangis dipelukan Adinda membuat suasana terlihat begitu mencekam.