
Adinda menatap Ayunda dengan tatapan penuh harap. Jika ia benar hamil, ini akan menjadi hal yang sangat membahagiakan bagi ia dan suaminya. Memang akhir-akhir ini ia sering mual dan muntah-muntah. Ia juga jadi malas betaktivitas dan lebih sering mengantuk dan menginginkan makanan lebih banyak dari sebelumnya karena Nafsu makannya yang bertambah besar. Seperti malam tadi ia ingin sekali memakan nasi kebuli sekitar pukul satu malam namun ketika melihat wajah lelah suaminya yang terlelap sambil memeluknya, Adinda mengurungkan niatnya untuk membangunkan Raka dan mengatakan keinginannya itu.
"Udah lima menit Din, ambil sana!" ucap Ayunda.
"Mbak, kalau Dinda nggak hamil gimana?" tanya Adinda dengan mata berkaca-kaca.
"Usaha lagi dong Din, ngebuatnya kan udah sering hahahaha... bohong kamu kalau jarang. Keliatan dari muka kamu dan si Om yang mupeng tiap hari" goda Ayunda.
"Mbak... terus ya ngejekin Dinda, awas aja nanti. Tunggu pembalasan Dinda!" ancam Dinda kesal.
Ayunda berdiri dan segera melangkahkan kakinya masuk kekamar mandi karena Dinda tidak kunjung berdiri mengambil alat tes kehamilan itu. Adinda memilih menunggu dengan jantung yang berdetak kencang. Ayunda keluar dari kamar mandi dengan ekspresi sedih dan ia menghebuskan napasnya.
"Dinda nggak hamil kan Mbak, dasar Dinda aja yang rakus. Masa malam tadi pengen makan nasi kebuli" ucap Adinda membuat Ayunda duduk disamping Adinda dan merangkul Adinda.
"Kamu jangan sedih gitu dong!" ucap Ayunda. Ia kemudian meletakan telapak tangannya di perut Adinda. "Udah ada dia, Din. Kamu hamil hehehe... " kekeh Ayunda membuat Adinda terkejut dan matanya berkaca-kaca.
"Mbak nggak bohong kan?" tanya Adinda.
"Nggak, Mbak serius adekku sayang" ucap Ayunda membuat Adinda segera memeluk Ayunda dengan erat.
"Alhamdulilah Mbak hiks...hiks... " tangis Adinda pecah
Ayunda mengelus rambut Adinda dengan lembut. Ia kemudian mencium dahi adiknya itu sambio tersenyum. "Selamat ya dek, kandungannya di jaga. Akhirnya Felisa bakalan punya adek!" ucap Ayunda membuat Adinda semakin terisak.
"Untung Mbak kesini kalau nggak, Dinda nggak bakal sadar kalau Dinda hamil. Pada hal Dinda berencana ikut pole dance" ucap Adinda membuat Ayunda melototkan matanya.
"Gila kamu dek" ucap Ayunda kesal.
"Soalnya Dinda penasaran lihat artis gitu mbak nari kayak gitu. Dinda kan pengen coba biar body Dinda bagus" ucap Adinda membuat Ayunda menghembuskan napasnya.
"Kamu kenapa bisa pengen ikut pole dance? jujur sama Mbak!" ucap Ayunda.
"Dinda cemburu sama teman sesama dosen Kak Raka. Dinda lihat di IGnya dia foto sama Kak Raka saat ujian akhir mahasiswa. Dia cantik Mbak Kan Dinda jadi iri, apalagi ternyata ia jago pole dance, Mbak" jelas Adinda membuat Ayunda tersenyum.
"Wah... bisa juga kamu cemburuan ya Din" goda Ayunda.
"Pastilah Mbak, Kak Raka cakepnya melebihi suamimu Mbak, jadi Dinda harus wasapada!" ucap Adinda.
"Om dari mana ganteng gitu. Tanya aja sama orang suami siapa yang paling ganteng pasti Kak Raka jawabannya!" ucap Adinda. Peredebatan pun pasti akan segera terjadi. Beginilah keseharian keduanya yang jika bertemu, pasti akan debat kusir yang akhirnya membuat keduanya kesal.
"Udah terserah kamu Din, kita bahas kehamilan kamu aja Din. Bete mbak kalau ribut sama kamu!" ucap Ayunda.
"Mbak suamiku belum tahu kalau aku hamil hehehe... mana lihat hasilnya Mbak!" ucap Adinda dan Ayunda memberikan hasil tes pack yang menunjukkan garis dua membuat Ayunda tersenyum malu-malu.
"Akhirnya berbuah juga setelah sekian lama dipupuk" ucap Adinda membuat Ayunda memutar bola matanya karena perumpaan aneh yang diucapkan Adiknya.
"Bisa nggak serius dikit Din!" ucap Ayunda.
"Hehehe....Dinda bisa minta makanan apa aja sama suami Dinda, Mbak!" ucap Adinda membuat Ayunda membuka mulutnya karena ternyata yang ada dipikiran adiknya saat ini hanyalah makanan.
"Kalau kebanyakan makan kamu bisa gendut Dinda!" ucap Ayunda.
"Nggak apa-apa Mbak, yang penting anakku nggak kekeurangan makan Mbak hehehehe" kekeh Adinda membuat Ayunda menepuk jidatnya karena tadi adiknya sempat cemburu kepada Raka karena rekan sesama dosen di Universitas tempat Raka mengajar sangat cantik dan memiliki tubuh yang bagus.
"Tadi katanya mau ikut pole dance pengen punya body bagus" ucap Ayunda.
"Nggak Mbak, udah berbuah soalnya. jadi gendut nggak masalah bagi Dinda. Sekarang Dinda bisa jadi istri garang Mbak, kan lagi hamil. Lagian suami harusnya tahu istri jadi gendut dan jelek karena apa? karena ingin memanen buah cinta mereka" ucap Adinda tersenyum manis membuat Ayunda hanya bisa menghela napasnya.
"Ayo kita kasih tahu mertua kamu!" ucap Ayunda.
"Jangan dulu Mbak, nanti Papi langsung mengumpulkan keluarga kita. Papi kan hebo orangnya!" ucap Adinda mengingat bagaimana tingkah Farhan saat ini.
"Iya sih, lagian Mami dan Papi mertua Mbak belum sampai Din masih di desa jemput Oma Mawar" ucap Ayunda.
"Pokoknya Mbak, ini rahasia dulu ya Mbak. Nanti malam Dinda mau memberitahu suami Dinda dulu baru kita cerita sama keluarga kita yang lain!" ucap Adinda.
"Oke kalau gitu" ucap Ayunda.
"Mbak, hmmm... ajak Kak Guna yuk cari nasi kuning mbak! Dinda lapar dan Dinda pengen ikut juga. Kita makan disana aja!" ucap Adinda membuat Ayunda membuka mulutnya.
"Kamu yang ngidam kenapa kita juga yang repot Dinda!" teriak Ayunda.
"Hehehe...sama adik nggak boleh hitung-hitung Mbak!" ucap Adinda tersenyum senang membuat Ayunda menatap Adinda dengan sinis.