
Adinda mengetuk pintu ruangan Raka, tok... tok... ia akan sangat senang jika tidak ada suara Raka didalamnya dan ia akan segera pulang. Namun sepertinya harapannya itu sia-sia karena suara Raka terdengar ditelinganya.
"Masuk!" ucap Raka dingin membuat Adinda memutar bola matanya karena mau tidak mau, suka tidak suka ia masih harus menghadapi Raka meski ia tidak ingin.
Adinda menarik handel pintu dan segera masuk kedalam ruangan Raka. Bukan pertama kalinya ia datang ke ruangan ini. Beberapa waktu lalu ia datang ke ruangan ini untuk membujuk Raka agar mau pulang ke rumah kediaman Candrama dan untuk menemui Papinya serta keluarga besarnya.
Adinda mendekati Raka "Ini tugas dari kelas saya Pak sudah semua saya kumpulkan!" Jelas Adinda meletakan kumpulan tugas itu diatas meja. Ia tidak ingin memiliki kontak mata seperti biasa yang ia lakukan pada Raka saat mereka berbicara. Adinda menundukkan kepalanya dan tak ingin mengingat kedekatan mereka yang tak berjarak yang akan berpotensi hatinya kembali terluka karena mengingat sikap Raka padanya, menciumnya lalu mengusirnya.
"Saya permisi!" ucap Adinda melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Itu cara kamu bersikap sopan santun pada saya? terlebih lagi kamu tidak pernah datang mengunjungi Papi saya yang menyayangi kamu" ucap Raka membuat Adinda mengepalkan tangannya. Ia kemudian membalik tubuhnya dan menatap Raka dengan tatapan penuh amarah.
Sopan santun? jangan bercanda...
batin Adinda.
"Saya tidak perlu bersopan santun pada laki-laki yang mencium saya lalu mengusir saya. Saya punya harga diri sebagai seorang wanita dan adik ipar dari keponakan bapak. Saya tidak perlu melapor kapan saya menjenguk Kakek Farhan karena itu bukan urusan Bapak!" ucap Adinda mengucapkannya dengan berani dan menatap Raka dengan tajam. Adinda menahan tangisnya agar ia tidak terlihat cengeng didepan Raka karena itu hanya akan membuatnya terlihat lemah.
"Itu akan menjadi urusan saya, karena yang kamu jenguk itu orang tua saya!" ucap Raka dingin.
"Saya rasa ini tidak perlu diperdebatkan, Saya janji tidak akan mengusik ataupun mengganggu kehidupan bapak begitu pula dengan bapak. Di kampus saya akan menganggap bapak dosen saya dan jika kita ketemu saat keluarga kita berkumpul anggap saja kita tida saling mengenal!" ucap Adinda membuat Raka mengertakan giginya karena kesal.
"Tidak ada orang yang bisa memerintah saya Adinda dan kamu tahu itu!" ucap Raka menatap mata Adinda dengan tatapan tajamnya.
"Oya? silahkan saja bapak mau berbuat apa saya tidak akan peduli lagi" ucap Adinda. Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi membuat Adinda segera mengangkatnya.
"Assalamualikum Din"
"Walaikumsalam Rifki" ucap Adinda ia menarik handel pintu lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Raka.
Raka menatap punggung Adinda yang menjauh membuatnya sangat kesal apalagi Adinda menyebut nama Rifki. Raka mengambil ponsel dan tasnya dengan cepat lalu mengunci pintu ruangannya. Raka mempercepat langkah kakinya mendekati Adinda, ia berhasil memegang tangan Adinda lalu menariknya dengan cepat membuat beberapa mahasiswa menatap keduanya penasaran dengan hubungan keduanya.
"Diam kalau kamu nggak mau rumor di kampus beredar tentang kita. Kalau kamu melawan saya, saya akan bilang jika kamu yang mulai mendekati saya dan merayu saya!" ucap Raka membuat Adinda memilih diam dan mengikuti Raka. Gosip di kampus sangat mengerikan dan bisa saja membuat beasiswanya dicabut.
Memang benar dia yang mendekati Raka dan merayunya agar pulang ke kediaman Candrama untuk menemui keluarganya. Tapi bukan merayu Raka seperti ucapan ambigu Raka yang membuat orang lain akan salah paham.
Raka sampai diparkiran dan ia membuka mobilnya lalu mendorong tubuh Adinda agar segera masuk kedalam mobil mewah miliknya. Adinda ingin mengucapkan kekagumannya melihat mobil mewah milik Raka, namun ia mengingat kekesalannya kepada Raka membuatnya memilih untuk diam.
Raka masuk kedalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Adinda menghela napasnya sosok Raka yang sangat menarik disebelahnya membuatnya ingin menatap wajah Raka yang tampan itu tapi ia punya harga diri dan tak ingin luluh dan mengubah sikapnya hanya karena melihat wajah itu.
Adinda mendengar suara ponselnya membuatnya segera mengangkatnya. "Walaikumsalam, Halo Rifki. saya...di... " ucapan Adinda terputus karena Raka menarik ponsel Adinda dan mematikannya lalu memasukan ponsel Adinda ke saku celananya.
"Om jangan keterlalaluan ya!" teriak Adinda namun seolah ucapan Adinda hanya angin lalu Raka memilih untuk diam. "Om mau apa sebenarnya? kembalikan ponsel saya Om!" kekesal Adinda saat ini memuncak.
"Dari semua laki-laki yang saya kenal hanya Om yang paling meyebalkan, saya benci sama Om!" teriak Adinda prustasi karena percuma saja ia berbicara pada Raka. Raka seolah tak mendengar ucapanya. "Om tuli ya... balikin hp saya Om dan turunkan saya disini!" pinta Ainda lagi.
Raka melirik Adinda sekilas dan kemudian kembali fokus menyetir. Adinda tidak mengerti kenapa Raka bersikap seperti ini padanya. Ia mengambil tas Raka yang ada dibelakang dan mencari keberadaan ponsel Raka namun yang ia temukan hanya laptop milik Raka dan beberapa map.
"Kalau Om nggak mau mengembalikan ponsel saya, saya banting laptop ini!" ucap Adinda membuat Raka tersenyum sinis.
"Banting saja terserah kamu, saya bisa mengembalikan filenya walau laptop itu rusak!" ucap Raka akhirnya mengeluarkan suara emasnya.
"Balikin ponsel saya!" teriak Adinda membuat Raka menepikan mobilnya.
"Ambil sendiri!" ucap Raka menujuk saku celananya membuat Adinda melototkan matanya. Bagaimana mungkin ia berani mengambil ponselnya didalam saku celana Raka dalam keadaan duduk seperti ini. Apalagi letak ponsel itu berpotensi dirinya akan menyetuh daerah rawan becana milik Raka.
"Dasar gila" teriak Adinda membuat Raka tertawa.
"Hahaha... " tawa Raka yang menyebalkan membuat Adinda bertambah kesal.
lo maunya apa sih Om? Gue udah bilang nggak akan gangguin lo lagi!