CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Istriku sayang


Ayunda merasakan kepalanya pusing dan ia hanya mendengar suara suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang yang ia duga adalah Ratna Mamanya. Ayunda ingin sekali membuka matanya namun sangat sulit untuk matanya terbuka. Ia menyerah dan akhirnya kembali terlelap.


Beberapa menit kemudian Ayunda merasakan napas hangat yang membisikannya ayat-ayat suci Al-Qur'an ditelinganya dan perlahan Ayunda mencoba membuka matanya. Ia melihat wajah tampan suaminya yang tadi membangunkannya dengan suara indahnya. Ayunda ingin mengangkat tangannya namun mata sayu yang terlilah lelah itu menggelengkan kepalanya.


"Mas..." liri Ayunda.


"Ya" ucap Guna. Ia memegang tangan Ayunda yang tidak di infus dan mencium punggung tangan Ayunda. "Jangan banyak bergerak!" pinta Guna.


"Anak kita Mas?" tanya Ayunda khawatir. Ia menteskan air matanya membuat Guna segera menghapusnya dengan jemarinya.


"Alhamdulilah sehat sekarang masih di Inkubator dan kamu jangan khawatir!" jelas Guna, ia mengelus pipi Ayunda dengan lembut. Guna tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika sesuatu terjadi pada Ayunda. Sungguh besar pengorbanan seorang istri yang berjuang melahirkan anaknya. Ayunda mempertaruhkan nyawanya dengan rasa sakit yang begitu hebat. Guna berjanji akan memperlakukan istrinya itu dengan baik dan penuh cinta.


"Mas kok kayak habis nangis gitu matanya jadi sipit?" ucap Ayunda menatap wajah Guna yang sembab "Mas harusnya nggak usah nangis untung Ayu nggak lihat, kalau Ayu lihat kan Mas nggak jadi suami cool lagi Mas" ucap Ayunda tersenyum penuh arti. Ayunda yang banyak bicara seperti ini membuat Guna merasa lega.


"Mas khawatir" jujur Guna


"Ngga usah khawatir Masku, Ayu nggak apa-apa. Hmm... Mas nama anak kita siapa?" tanya Ayunda penasaran dengan nama yang akan diberikan kepada buah hatinya.


"Ghavinndra Candrama dipanggil Ghavin" ucap Guna membuat Ayunda tersenyum.


"Ghavin...Ayu suka Mas," ucap Ayunda terlihat sangat senang dengan nama pemberian Guna.


Guna tersenyum bahagia saat ini perasaannya sudah agak tenang walaupun kondisi bayi mereka masih didalam inkubator. Ayunda akan dirawat selama beberapa hari di Rumah sakit sampai pulih. Guna akan mengerjakan beberapa pekerjaaanya dirumah sakit dengan meminta sekretarisnya datang membawa berkas yang harus ia tandatangani. Sedangkan rapat diberbagai tempat akan digantikan Gemal dengan Raka yang akan mengawasi pekerjaaan Gemal. Gemal memang masih awam dengan bisnis keluarga mereka karena sejak dulu ia tidak tertarik menjadi pengusaha. Gemal akhirnya terpaksa memperkerjakan istrinya yang lebih mahir dalam urusan bisnis untuk membantunya.


"Mas Guna kerja aja, biar Ayu Dinda yang jagain!" ucap Ayunda.


Guna menganggukkan kepalanya tapi tetap saja ia ingin merawat istri dan anaknya. Karena Jika ia bersih keras ke kantor ia juga tidak akan fokus bekerja karena mengkhawatirkan istri dan anaknya "Mama Mas yang akan jagain kamu karena Mama Ratna nanti pasti sibuk menyiapkan resespsi pernikahan Kak Alfa!" jelas Guna.


"Iya, Mas," ucap Ayunda. "Sekarang Ayu kalau mau ngelawan ucapan Mama jadi mikir-mikir Mas. Mama aja ngelahirin Ayu pasti penuh perjuangan kayak gini. Mau normal mau operasi ceasar sama aja Mas, sama-sama mempertaruhkan nyawa. Ayu belum sempat minta maaf ke Mama Mas, soalnya kan Ayu nggak tahu kalau sidedek ngebet banget mau keluar," ucap Ayunda membuat Guna tersenyum. Sebenarnya sebelum melahirkan Ayu berniat ingin meminta maaf kepada kedua orang tuanya dan juga mertuanya.


"Kamu istirahat ya!" ucap Guna mencium kening Ayunda dan merapikan selimut yang dipakai Ayunda.


Guna keluar dari ruang perawatan Ayunda dan mendekati kedua pasang orang tuanya. "Mama Ratna dan Mami pulang aja sama Papa dan papi, biar Om Raka dan Adinda nanti menemani Guna dan Ayunda disini!" ucap Guna


Guna tidak ingin kedua orang tuanya dan mertuanya itu kelelahan. Apalagi mertuanya Ratna dan Bagas masih sibuk untuk pernikahan putra sulung mereka. Terlihat Adinda, Raka, Alfa dan Karina mendekati mereka sambil membawa beberapa kantong kresek ditangan Alfa dan Raka.


"Mbak Ayu udah sadar?" tanya Adinda.


"Sudah Din, sekarang Mas suruh Mbakmu istirahat dulu!" ucap Guna.


"Eh... Kamu nggak boleh pulang, yang lainnya boleh pulang!" ucap Guna.


"Kok gitu?" tanya Adinda menyebikkan bibirnya.


"Temani Kakak jaga Mbakmu!" ucap Guna.


"Oke deh, Om juga kan Om?" tanya Adinda menatap Raka dengan senyum manisnya.


"Iya" ucap Raka.


"Yaudah para Mama dan para Papa silahkan pulang serta Kak Alfa dan Kakak iparku yang cantik juga ikut pulang!" ucap Adinda.


"Pa, kok Alfa curiga Pa sama Dinda. Kok dia senang banget ya Pa diminta jagain Ayunda disini. Kalau gitu Raka kamu nggak usah nginap disini kamu pulang aja ke rumahmu!" ucap Alfa.


"Nggak bisa... Nggak boleh... Om ini pawangnya Dinda, kalau ada nyamuk yang gangguin Dinda gimana? Nggak ada yang tepokkin nyamuknya!" ucap Adinda membuat Bagas dan Alfa menghela napasnya mendengar ucapan konyol Dinda.


"Guna awasi kedua sejoli yang nggak tahan lagi menikah ini! kan gawat kalau masuk berita berbuat yang nggak-nggak dirumah sakit!" ucap Bagas membuat Adinda kesal.


"Papa jahat banget sih..." kesal Adinda.


"Kakak dan Mbak pulang Ka!" ucap Aditya. Elin terasenyum menatap Raka dan Adinda.


"Besok ya Din kita gantian Mbak datang kamu pulang!" goda Elin membuat Adinda tersenyum. Ia hampir lupa jika saat ini Tante Elin adalak calon Kakak iparnya.


"Iya Tante Mbak," ucap Adinda membuat semuanya tertawa.


"Udah Pa ayo pulang! nak Raka ingat ya nak nggak boleh macam-macam!" goda Ratna.


"Siap Ma!" ucap Raka tersenyum ramah. Mereka semua melangkahkan kakinya meninggalkan Adinda, Guna dan Raka yang saat ini akan bermalam dirumah sakit.


Mereka masuk kedalam kamar perawatan Ayunda yang sangat besar karena kamar ini sebenarnya diperuntukkan untuk kamar perawatan keluarga pemilik rumah sakit. "Om Dinda ngantuk!" ucap Adinda.


"Kita tidur disana!" ucap Raka menunjuk sofa bed dan ia segera duduk dan meminta Adinda menjadikan pahanya sebagai bantal. "Tidur sini!" ucap Raka menepuk pahanya membuat Adinda tersenyum senang dan segera membaringkan tubuhnya diranjang. sedangkan Guna saat ini memilih duduk dikursi yang berada disamping Ayunda dan sibuk memeperhatikan Ayunda


Tbc...