
Di kampus hanya beberapa orang yang tahu jika Adinda adalah istri dari Raka Candrama salah satu dosen galak nan tampan di Universitas Alexsander. Beberapa dosen dan staf yang mengetahui satus Adinda sebagai istri Raka. Semua mahasiswa memang tahu jika Raka barus saja menikah, tapi mereka tidak tahu Adinda adalah istri Raka. Hari patah hati gadis sekampus sempat terjadi saat mereka mengetahui dari majalah jika Raka tidak bisa lagi menjadi calon suami halu mereka.
"Din, lo kan asisten Pak Raka. Lo tahu nggak istrinya seperti apa? dengar-dengar sih ibu Luna aja ditolak sama Pak Raka berati istri Pak Raka pasti luar biasa. Gosipnya sih katanya mahasiswa kita yang jadi istri Pak Raka" Ucap Ratih teman sekelas Adinda.
"Gue istri Pak Raka, Ratih" ucap Adinda.
"Mimpi lo ketinggian, kalau lo udah nikah sama Pak Raka lo mendingan nggak usah kuliah lagi. Jadi istri yang baik ngeloni suami. buat apa capek-capek kuliah kayak gini" ucapnya.
Dari pagi tadi Adinda memang sedang menunggu Pak Tarigan untuk mengumpulkan tugas karya ilmiahnya. Raka memberitahu kepada stap administrasi jika Adinda adalah istrinya agar jika Adinda menemui Raka diruanganya tidak menimbulkan fitnah jika mereka berlama-lama diruangan Raka. Sialnya semua staf yang tahu ia adalah istri Raka membandingkan fotonya yang ada dimajalah dengan dirinya yang asli.
"Mbak Hera" panggil Adinda mendekati Hera yang menjadi asisten Pak Tarigan sekigus staf administrasi.
"Kenapa Din?" tanyanya.
"Pak Tarigan belum datang ya Mbak?" tanya Adinda.
"Belum Din, mau ngumpulin tugas ya?" tanya Hera.
"Iya Mbak" ucap Adinda.
"Saya juga Mbak" ucap Ratih.
"Ya udah sini tugasnya biar saya yang kasih sama Pak Tarigan. Beliau ada kelas sore soalnya, Din kenapa nggak titip sama Pak Raka saja?" tanya Hera yang telah mengetahui status Adinda.
"Dia nggak mau dititip Mbak, suami Dinda pelit" ucap Dinda membuat Ratih melototkan matanya.
"Lo beneran bini Pak Raka Din?" tanya Ratih.
"Iya Rat masa gue bini bohongan sih, efek makeup makanya foto gue nggak mirip sama yang dimajalah. Kalau nama gue memang dirahasiakan disana" ucap Adinda. "Mbak Dinda titip ya, makasi Mbak!" ucap Adinda memberikan proposal itu kepada Hera.
Ponsel Adinda berbunyi membuat Adinda segera menjauh. "Duluan ya Mbak Hera, Ratih!" ucap Adinda melambaikan tangannya sambil melangkahkan kakinya menjauh.
"Halo Assalamualikum Kanda?" ucap Adinda.
"Walaikumsalam, saya ada diparkiran!" ucap Raka.
"Loh... percuma tadi Dinda diantar supir, kan kasihan supirnya pulang sendiri" ucap Adinda.
"Kamu lebih kasihan sama supir apa sama saya Dinda?" tanya Raka kesal membuat Adinda terkekeh.
"Aduh jadi makin kangen nih sama kamu Kakanda, udah nggak sabar ya dapat pelukan dari istri imutnya? goda Adinda.
"Cepatan Dinda atau saya seret kamu sekarang juga biar semua orang tahu kalau kamu itu istri saya!" ucap Raka.
"Hehehe... iya ini udah didepan. Jemput Dinda sama siapa? sama Putri kita nggak? kan hari ini mau ke rumah Mbak Elin, katanya hari ini Mbak Ayu sama Kak Guna pulang" ucap Adinda.
"Sama Felisa, kamu dimana sekarang? kalau dalam waktu dua menit" ucap Raka dipotong Adinda.
"Buka pintunya!" ucap Adinda yang ternyata telah berada di pintu mobil. Raka segera membukanya dan Adinda masuk sambil menyebikkan bibirnya.
"Itu Bodyguard udah ngikutin Dinda dari tadi, Kak...Ayah kira Bunda nggak tahu?" ucap Adinda. Ia mengubah panggilannya saat menyadari ada Felisa yang sedang duduk dibelakang sambil memakan ciki kesukaannya.
"Anak Bunda, tadi dijemput Ayah disekolah?" tanya Adinda.
"Anak Bunda kan udah lama bisa berhitungnya" ucap Adinda karena ia sendiri yang mengajarkan Felisa berhitung.
"Iya Nda, kata ibu guru Feli udah pintar" ucap Felisa tersenyum senang.
"Bunda, Ayah bohong sama Feli katanya mau bawa dedek kayak Ghavin tapi Dedeknya belum datang-datang" ucap Felisa. "Kata Ayah, Bunda jarang bobok sama Ayah makanya adeknya nggak datang-datang" ucap Felisa.
Raka mengendarai mobilnya sambil tersenyum sedangkan Adinda melototkan matanya karena kesal dengan tingkah Raka. "Feli pakai headphonenya nak, Bunda mau bicara sama Ayah dan anak kecil nggak boleh tahu!" ucap Adinda.
"Iya Bunda" ucap Felisa segera mengeluarkan headphonenya lalu memakainya.
Adinda memukul lengan Raka "Kok ngomong gitu sama Feli?" kesal Adinda.
Raka menaikkan sebelah alisnya. "Sudah tiga hari saya sibuk dan ketika saya pulang kamu sudah tidur dikamar Felisa" ucap Raka.
"Astaga Kak, bilang aja langsung ke Dinda kenapa mesti bilang gitu ke Felisa" ucap Adinda.
"Kenapa memangnya?" tanya Raka tersenyum. "Feli udah janji sama Ayahnya kalau sekarang harus terbiasa tidur sendiri" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya.
"Kakak... kok bilang gitu ke Feli" kesal Adinda memukul lengan Raka.
"Udah nggak usah banyak protes!" ucap Raka.
Ponsel Adinda berbunyi membuat Raka menepikan mobilnya dan segera merebut ponsel Adinda. Ia geram ketika melihat nama Brian tertera dilayar pondel Adinda.
"Kenapa dia menghubungi kamu Dinda?" tanya Raka.
"Hanya gobrol aja tentang kehamilan Radina" jelas Adinda.
"Memang kamu sudah pernah hamil dan melahirkan? memang kamu dokter atau dukun beranak?" tanya Raka dingin.
Felisa menarik headphonenya karena Raka menghentikan mobilnya. "Ayah kok berhenti? Ayah sama Bunda nggak berantem kan?" tanya Felisa dengan mata bulatnya membuat Adinda mengambil Felisa yang duduk dibelakang dan memangkunya.
"Ayah lagi cemburu" ucap Adinda.
"Cemburu apa Bunda?" tanya Felisa.
"Ngambek" ucap Adinda membuat Felisa terkekeh.
"Hehehe, Ayah kayak Alden teman sekolah Feli yang suka ngembek tapi Bunda kok Ayah tidak nangis kayak Alden?" tanya Felisa.
"Ngambek orang dewasa begitu nak, lihat mata Ayah kayak kesal gitu!" ucap Adinda membuat Felisa mencium pipi Raka.
"Kata Bunda obat kalau Ayah diam gitu dicium" ucap Felisa. "Ayo Nda cium Ayah!" pinta Felisa membuat Adinda segera mencium pipi Raka sambil menyebikkan bibirnya.
Raka memasukan ponsel milik Adinda kesaku celanannya. "Kalau mau ponsel kamu kembali, kamu ambil sendiri!" ucap Raka segera kembali melajukan mobilnya. Raka akan segera membuat perhitungan kepada Brian karena berani menghubungi istrinya.
Adinda bisa menduga jika ia tidak akan mudah mendapatkan ponselnya dari tangan Raka. Suaminya ini pasti merencanakan sesuatu dan ia harus menyiapkan rencana agar bisa merebut ponselnya dari Raka. Ia yakin Raka pasti akan meminta yang macam-macam darinya.
Sepanjang perjalanan Felisa bernyanyi riang dan Adinda juga ikut bernyanyi. Kemarahan Raka tentang Brian lenyap sudah namun tetap saja Raka harus waspada karena Adinda terlalu berharga baginya. Terlebih lagi hatinya tidak dapat berpaling lagi kepada sosok cantik yang sangat ia cintai itu.