CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Berkuda


Pagi-pagi sekali Ayunda telah bangun, ia juga telah menyiapkan sarapan dan juga asi untuk putra kecilnya. Guna mengajak Arjun dan Gia pergi bersamanya dan membantunya agar Ayunda bisa ikut bersamanya tanpa harus melakukan hal-hal yang diperintahkan Oma mereka.


Arjun sengaja mengunci kamar Omanya dan meminta salah satu orang kepercayaannya menjaga pintu itu dan membukanya setelah mereka semua pergi. Jahat memang, tapi Arjun tidak ada pilihan karena sikap Oma Mawar memang sangat menyebalkan. Saat ini Arjuna, Gia, Guna dan Ayunda sedang berada dikandang kuda. Hari ini mereka akan berkeliling dikebun teh dengan menggunakan kuda yang telah dipelihara dan dirawat keluarga mereka.


Guna memilih sebuah kuda bewarna coklat yang tampak terlihat gagah. "Tahu aja kuda bagus Kak" ucap Arjun.


"Kuda ini kuda kesayanganmu, hari aku pinjam ya Jun!" ucap Guna.


"Iya Kak" ucap Arjuna.


"Miaw apa kabar?" ucap Gia mengelus kuda putih kesayangan membuat Ayunda yang berada disamping Gia tertawa.


"Hahaha namanya beneran Miaw? itu kan cocoknya nama kuncing Gi" ucap Ayunda.


"Hehehe... iya Mbak, Gia kan pecinta kucing tapi Oma nggak nggak suka kucing dan kita nggak boleh pelihara kucing. Padahal kalau ada kucing hitam kan cocok untuk Oma biar mirim sama nenek sihir" ucap Gia membuat Ayunda dan Guna terkekeh.


"Gia sama kakak aja satu kuda!" ucap Arjun.


"Nggak Kak Gia udah lama nggak jalan sama Miaw, dia kangen Gia tunggangi" ucap Gia mengelus Miaw dengan sayang.


"Gia hebat bisa naik kuda sendiri, Mbak nggak bisa" ucap Ayunda. Guna mengelus kepala Ayunda dengan lembut.


"Nanti dijakarta masuk club aja ada pengajarnya disana!" ucap Guna.


"Pasti pengajarnya perempuan" ejek Arjuna.


"Sudah pasti" ucap Guna membuat mereka semua tertawa.


"Ayo kita pergi sebelum Oma keluar dari kamarnya karena sebentar lagi jadwal Oma minum obat!" ucap Arjun.


"Oke" ucap Guna segera meminta penjaga kuda memasang pelana kuda. Setelah pelana terpasang Guna mengangkat tubuh Ayunda agar naik ke atas kuda dan dirinya ikut naik keatas kuda. Begitu juga dengan Arjuna dan Gia yang telah berada diatas kuda. Guna memegang pinggang Ayunda dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi memegang tali mengendalikan kuda.


"Nanti beberapa kilo dari sini ada air terjun Kak, kita biasa main air disana" ucap Arjun.


"Kakak dan Gemal pernah kesana, tapi duku jalannya masih hutan" jelas Guna.


"Sekarang udah dibuka jalannya jadi jangan takut terasat" ucap Arjun.


"Mbak pemandangan air terjunya bagus banget nanti Gia foto" ucap Gia menunjukan kamera yang tergantung di tubuhnya


"Iya Gi" ucap Ayunda tersenyum senang. Ia sudah tidak sabar menujukkan foto-foto liburannya bersama Guna kepada Vivian, Adinda dan Karina di grup Wa mereka.


Mereka segera melaju dengan kecepatan sedang. Sejauh mata memandang perkebunan teh ini tertata dengan rapi dan udara pagi yang segar membuat Ayunda tersenyum senang. Ayunda menyandarkan tubuhnya ke dada Guna membuat Gia tersenyum iri melihat kemesraan mereka.


"Jadi iri Gia, ginih kalau jomblo" ucap Gia.


Sebuah mobil mendekati mereka "Mau kemana?" tanya Kalandra.


"Ke air terjun dan keliling perkebunan" ucap Arjuna.


Kalandra terkekeh melihat ekspresi Guna yang dingin. "Kita damai aja ya Gun, saya hanya menggoda kamu dan nggak berniat untuk merebut istri kamu. Lagian memakasa cinta itu tidak ada dikamusku!" ucap Kalandra.


"Lo mau ikut?" tanya Arjuna.


"Memang boleh?" tanya Kalandra menatap Guna sambil tersenyum.


"Ikutlah saya tidak masalah lagian kamu itu bukan tipe istri saya!" ucap Guna membuat Ayunda tersenyum penuh arti dan mengecup pipi Guna.


Kalandra keluar dari mobilnya dan menutupnya lalu mendekati Gia. "Hey kamu naik sama Arjun sana!" ucap Kalandra.


"Gue punya nama" kesal Gia.


"Biarkan Kalandra naik kudamu Gi!" peritah Arjuna.


"Dia naik kuda Kakak aja biar kalian berdua mesrah!" ucap Gia kesal membuat Ayunda tertawa.


"Si somat nggak kuat kalau ditunggangi dua orang dia sudah berumur!" ucap Arjuna.


"Jadi maksud kakak Gia di gongceng sama dia?" tanya Gia membuka mulutnya.


"Iya, ayo cepat!" ucap Arjuna.


Kalandra segera naik ke tasa kuda dan ia yang menarik tali dan menepis tangan Gia. "Saya lebih jago dari pada kamu dalam hal menunggangi kuda!" ucap Kalandra.


"Nggak asyik banget sih udah numpang sok hebat" ucap Gia.


"Udah ayo!" ucap Guna melanjutkan perjalanan mereka melewati perkebunan teh milik keluarganya.


Sejauh mata memandang hamparan perkebunan teh seakan tak ada habisnya. "Mbak lihat disana ada warung kita beli nasi dulu ya!" teriak Gia.


"Iya Gi. Mas kita beli bekal dulu. kayaknya asyik deh makan sambil ngelihatin air terjun!" ucap Ayunda.


"Oke" ucap Guna tersenyum lembut dan pastinya ia akan mengabulkan keinginan istrinya.


Ayunda dan Gia turun dari kuda dan keduanya segera memesan makanan untuk mereka. Gia memasukkan bekal mereka kedalam tas ranselnya yang bewarna pink. Setelah itu keduanya kembali mendekati Arjuna, Guna dan Kalandra yang masih berada diatas kuda.


Guna memegang tangan Ayunda dan membantu Ayunda agar naik keatas kuda. Sedangkan Gia memberikan tas ransel bewarna pink itu kepada Kalandra "Lo yang pakek ini tas atau gue yang pakai? Kalau lo nggak mau pakek tas ini berarti gue yang yang pegang tali!" ucap Gia.


"Peraturan dari mana itu?" kesal Kalandra.


"Dari gue!" ucap Gia melempar tasnya kearah Kalandra dan ia segera naik keatas kuda.


Mereka melanjutkan perjalanan dan Ayunda meminta Gia untuk memotretnya bersama Guna. "Mas pasti nanti Adinda kesal ngelihat foto-foto kita" ucap Ayunda.


"Kamu cari perkara sama Om Raka" ucap Guna.


"Om Raka sih diajakin nggak mau" ucap Ayunda.


"Kalau ikut semua siapa yang bakal memimpin perusahaan Ayu. Kita bisa cuti bersama-sama tapi dua bulan lagi dan harus direncanakan dengan matang!" ucap Guna.


"Iya Mas" ucap Ayunda.


tbc...


mau lanjut?


vote ya kalau rangking naiknya jauh aku up lanjutan langsung bab selanjutnya.