
Mereka semua masuk kedalam pesawat, lagi-lagi Adinda terkejut saat melihat disebelahnya ada Raka. Adinda tersenyum dengan sosok yang berada disebelah kirinya yaitu temannya Alfa yang bernama Riskan.
"Permisi numpang lewat!" ucap Adinda.
"Kamu nggak ada tempat lain buat duduk?" tanya Raka mencoba menghalangi Adinda agar duduk disampingnya.
"Nggak ada, aku duduk sesuai tiket!" kesal Adinda.
"Kalau mau duduk disebelah saya kamu harus berjanji nggak berisik!" pinta Raka.
"Pak, Om Raka yang terhormat jangan mulai deh bikin Dinda kesal!" ucap Adinda.
"Selama ini kan kamu yang ngeselin masa kamu nggak sadar dan melimpahkan kesalahan kamu kepada orang lain?" ucap Raka membuat Adinda emosi dan ia tidak memperdulikan kaki Raka yang mencoba menghalanginya agar ia bisa duduk disebelah Raka.
"Bro kasihan biar kan dia duduk!" ucap Riskan yang telah duduk disamping jendela. Farhan papinya itu benar-benar membuat Raka kesal. ia tahu Papinya bahkan sanggup menyewa jet pribadi tapi entah mengapa Farhan membelikan mereka tiket naik pesawat biasa dan kelas ekonomi bukan bisnis.
"Jangan ikut campur urusan saya!" ucap Raka membuat Riskan menggelengkan kepalanya dan memilih untuk diam. Riskan tertarik dengan Adinda yang cantik dan juga manis menurutnya memiliki pacar seperti Adinda pasti hidupnya akan terasa menyenangkan.
Adinda memegang lengan Raka dan dengan cepat ia mengangkat gaunnya agar ia bisa melangkahi kaki jenjang Raka namun ketika ia berhasil melangkah dan posisinya sekarang sedang mengangkangi kedua kaki Raka, tiba-tiba sebuah tangan menahan pergerakkan Adinda dan membuat Adinda terduduk di kaki Raka.
"Dasar **** cepat lepasin gue!" bisik Adinda membuat Raka segera melepaskan tangannya dan membuat Adinda berusaha menarik kakinya agar bisa duduk disebelah Raka. "Om turunin kakinya!" kesal Adinda membuat Alfa ingin sekali membantu adik bungsunya itu namun sebuah tangan menahannya agar tidak membantu Adinda.
Adinda segera duduk diantara Raka dan Riskan. ia berada ditengah-tengah keduanya saat ini "Maaf ya khan gitu tuh kalau kita duduk di didekat Tanos harus mesti sabar!" ucap Adinda membuat Raka mendesis tidak suka.
"Bisa dimaklumi kok!" ucap Riskan menahan tawanya mendengar ucapan Adinda.
"Kalian berdua jangan berisik!" ucap Raka dingin membuat Adinda memeluk tubuhnya sendiri lalu berpura-pura kedinginan.
"Gue kayak di kutub, dingin banget. Bisa-bisa kalau kelamaan gue mati sakit hati," ejek Adinda membuat Raka menurunkan majalah yang ia baca tadi dari wajahnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Adinda.
"Kutub yang bisa membuat kamu hamil maksud kamu?" ucapan Raka membuat Adinda membuka mulutnya dan Raka ternyata telah menyiapkan wafer ditangannya hingga ia bisa memasukan wafer itu kedalam mulut Adinda.
"Dasar gila," ucap Adinda tidak jelas karena mulutnya saat ini penuh dengan wafer.
Raka menyerahkan sekotak jus kedalam mulut Adinda dan tanpa banyak berpikir Adinda segera meminumnya. "Jadi cewek kalem sedikit dan jangan hebo kayak bebek ngerti kamu!" Pinta Raka.
"Gue bukan lo Om, yang suka diam tapi pikiran mumet. Jarang senyum karena kurang tati tayang. jadi jangan sok ngajarin gue karena ini bukan kampus!" kesal Adinda.
"Maaf ya Riskan kita berisik soalnya dia ini anaknya nggak gaul gitu alias terbelakang!" bisik Adinda membuat Raka menarik baju belakan Adinda dengan kuat hingga kepala Adinda saat ini berada didekatnya.
"Diam!" perintah Raka membuat Adinda terpaksa diam karena Raka pasti tidak akan membiarkan ia menikmati perjalanan ini.