
Setelah mendapatkan kunci kamar masing-masing, mereka semua diantar karyawan hotel ke kamar menuju kamar mereka. Ayunda dan Guna mendapatkan kamar yang paling mewah yang terdapat di bagian tengah Resort.
Adinda melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ternyata cukup jauh dari kamar Ayunda dan yang lainnya. Adinda terkejut saat melihat Raka berada dibelakangnya bersama karyawan resort yang juga mengantarnya. Mereka berhenti disebuah lorong yang paling ujung dan Adinda membuka mulutnya saat menyadari kamarnya berada tepat disamping kamar Raka.
"Kok Om kamarnya dekatan sama Dinda. Om sengaja ya?" tanya Adinda membuat Raka kesal.
"Saya sengaja? bukanya kamu yang sengaja mau mendekati saya?" tanya Raka membuat Adinda mendekati Raka.
"Hah? kalau ngayal jangan ketinggian deh Om, siapa juga yang mau deketin Om. walau Om gantengnya kebangetan tapi Dinda masih punya harga diri ya Om. Dinda bisa cari bahkan yang lebih ganteng, kaya dan baik budi suka menabung, murah senyum dan nggak suka ngehina Winda. Yang pastinya buka cowok angkuh kayak Om!" ucap Dinda.
"Maaf Pak, Bu ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya karyawan hotel mendengar perbedebatan antara Ayunda dan Raka.
"Tidak kalian silahkan pergi!" ucap Raka membuat Adinda memutar bola matanya karena Raka seperti biasa terlihat begitu menyebalkan dimatanya.
Adinda segera masuk kedalam kamarnya meninggalkan Raka yang saat ini sedang menatap punggungnya. Raka kemudian membuka pintu kamarnya dan segera masuk kedalam kamarnya. Kamar ini cukup besar dan Raka bisa melihat jika perpaduan warna hitam putih membuat kamar ini terasa nyaman baginya.
Ternyata selama ini Papi selalu memikirkanku.
Raka meletakkan ranselnya kedalam lemari dan ia menuju kamar mandi yang ternyata juga tak kalah mewah. Disudut kiri kamar mandi ini terdapat bathup dengan wewangian aromaterapy. Raka kembali memeriksa bagian lainnya, ia membuka pintu kamarnya yang ternyata terhubung dengan pemandangan sebuah kolam renang pribadi namun tiba-tiba ia mengerutkan dahinya saat matanya terjuju pada sosok Adinda yang telah berada dipinggir kolam renang itu, sambil menari dan bernyayi karena bahagia.
"Aku bisa mandi dengan tenang sendirian lalala... Hahahaha kamar ini bagus banget... Argghh... " teriak Adinda saat ia kehilangan keseimbanganya dan jatuh terduduk dilantai membuat Raka tertawa lepas tanpa sadar.
Adinda kesal ia menepuk lantai dan segera berdiri sambil memegang pantatnya. Adinda yang jatuh dan memarahi lantai sambil menyebikkan bibirnya seperti itu terlihat begitu menggemaskan. Menggemaskan? Raka kembali menghembuskan napasnya, perempuan itu terlalu menarik perhatian orang-orang sekitarnya tidak seperti dirinya yang lebih suka menikmati pemandangan seorang diri.
Pantas saja istri keponakannya Ayunda mengatakan jika dirinya terlihat angkuh dan sombong saat berbicara dan menatap orang lain. Sebenarnya ia tidak bermaksud begitu tapi setiap orang yang mencoba mendekatinya Raka memasang dindinh dihatinya agar tidak mudah mempercayakan hatinya kepada orang lain dengan begitu mudah.
Raka menghela napasnya dan ia membuat secakir kopi lalu kembali memandangi pemandangan kolam renang. sosok Adinda sepertinya telah kembali kedalam kamarnya. mungkin perempuan itu saat ink sedang terbaring di ranjanganya karena lelah itulah yang saat ini ada dipikiran Raka. Namun tiba-tiba ia melihat seorang perempuan memakai pakaian layaknya atlet perenang lengkap dengan penutup kepala dan kaca mata renangnya yang menghiasi matanya tapi yang membuat Raka ingin tertawa adalah baju renang yang dipakai Dinda bewarna kuning.
semacam kotoran yang mengambang disungai.
Raka menyamakan Adinda dengan kotoran manusia bewarna kuning yang ia temukan mengalir disungai saat pergi ke desa memeriksa anak KKN. Raka tak habis pikir saat ini ketika melihat Adinda memakai pelampung dan meluncur dengan pelan didalam kolam renang.
saya pikir kamu bisa berenang. perempuan ini kapan bisa sedikit tenang harusnya ia seperti perempuan lain pada umunya yang mungkin saat ini sedang mandi membersihkan dirinua dan kemudian beristirahat untuk acara nanti malam.
Tiba-tiba papan pelampung yang berada ditangan Adinda terlepas dan ia sulit menggapainya. Dinda mencoba menggapainya dengan susah payah tapi lagi-lagi ia sulit untuk mendapatkannya. Tubuh Dinda tenggelam dan kemudian kembali muncul namun Dinda terlihat kesulitan mengambil napas. Raka tadinya menyeruput kopinya melihat Dinda yang sepertinya akan tenggelam membuatnya segera meletakkan kopinya dan keluar dari persembunyiaannya dibalik pintu kaca kamarnya.
Raka mencari keberadaan Adinda yang tidak terlihat lagi dipermukaan. ia segera menyeburkan dirinya saat melihat si kuning berada ditengah-tengah dasar kolam. Raka dengan cepat bisa mendapatkan tubuh Adinda dan ia membawa Adinda ketepi. Raka menggendong Adinda saat kolam ini tak lagi dalam seperti tempat Adinda tenggelam tadi.
Raka meletakan Adinda dilantai dan ia mencoba menyadarkan Adinda. "Dinda... " panggil Raka. "Hey... bangun!" ucap Raka mencoba menepuk pipi Adinda namun Adinda sama sekali tidak merespon panggilannya.
Raka menekan dada Adinda agar air yang memenuhi tubuh Adinda segera keluar namun sepertinya Adinda membutuhkan napas buatan darinya. Raka memegang hidung Adinda dan ia memberikan napas buatan melalui mulut Adinda dengan mulutnya. Adinda terbatuk dan ia terkejut melihat malaikan tampan penyelamatnya yang begitu gagah dan terlihat mengkhawatirkannya. Adinda mengerjapkan kedua matanya saat Raka kembali menggendongnya dan membawanya masuk kedalam kamarnya.
Adinda seakan tersihir dengan perbuatan baik yang dilakukan Raka padanya. Mungkin jika Raka tidak menolongnya ia sudah mati saat ini. Adinda hanya diam saja saat Raka membawanya kedalam bathup dan membaringkan tubuhnya disana. ia menghidulkan kran yang mengeluarkan air hangat di dalam bathup.
"Hangatnya cukup?" tanya Raka. Adinda menganggukan kepalanya tanpa mengeluarkan kata-kata namun saat matanya dan mata Raka kembali bertemu tangis Adinda pecah dan ia mengalungakn tangganya kepada Raka yang saat ini duduk dipinggiran bathup. Adinda memeluknya dan menangis tesedu-sedu.
"Sudah, lain kali kalau main air hati-hati. sudah tahu nggak bisa berenang tapi penampilan kamu seperti atlit profesional" ucap Raka menekan kata profesional.
"Makasi Om" ucap Adinda membuat Raka menganggukkan kepalanya dan melepaskan tangan Adinda yang berada dilehernya.
Raka berdiri dan membalik tubuhnya namun Adinda kembali memanggil Raka saat Raka melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. "Om mau kemana?" panggilan Adinda.
"Mau mandi? apa kamu mau saya mandi disini juga?" tanya Raka tanpa membalik tubuhnya.
"Nggak!" teriak Adinda membuat Raka menyunggingkan senyumannya dan segera melanjutkan langkah kakinya.
Adinda merasakan detak jantungnya dengan bodohnya terus bedegup kencang dan ia kesal karena perhatiaan dari Raka membuatnya merasa bahagia. Adinda menggelengkan kepalanya karena ia merasa ia tidak boleh menyukai Raka. pesona Raka memang sangat sulit untuk ia sangkal tapi ia tidak ingin jatuh cinta pada sosok sempurna seperti dulu ia mencintai Rifki mantan tunangannya. Rifki yang tega menduakan cintanya membuatnya benar-benar kecewa dan akhirnya menjadi pembenci.
**panjangkan ya?
like ya biar aku semangat upnya...
terimakasih**...