
Ayunda bersiap menyambut kedatangan Guna. Kue yang dibawa mertuanya tadi ia sembunyikan di kamar Ghavin putranya. Jantungnya berdetak dengan kencang karena hari ini ia akan mengakhiri sandiwara yang ia lakoni karena permintaan sang mertua. Ayunda sengaja menunggu kedatangan Guna dikamarnya, namun setelah beberapa menit ia menunggu suaminya itu tak kunjung datang. Ayunda segera berdiri melangkahkan kakinya mendekati pintu dan membuka pintu kamarnya. Ia terkejut saat melihat sosok Guna berdiri dihadapanya sambil mendorong meja yang berisi cake membuat wajah Ayunda memerah karena kejutanya ternyata telah diketahui Guna. Guna bukannya menuju kamarnya sesuai perkiraannya, tapi menuju kamar putranya terlebih dahulu.
"Kue ini apa maksudnya?" tanya Guna.
Ayunda kesal karena lagi-lagi ia tidak berhasjl memberikan Guna kejutan. "Nggak suka?'" tanya Ayunda.
Guna menyingkirkan Cake itu ke samping dan ia segera masuk kedalam kamarnya lalu mendekati Ayunda. Tatapan Guna yang dingin, berubah menjadi tatapan kerinduan. Guna memeluk Ayunda dengan erat dan kemudian mencium dahi Ayunda berkali-kali cup... cup... cup... "Kangen banget Mas sama kamu Yu, Jangan ngambek ya sayang. Kamu salah paham sama Mas. Mas itu sayang sama kamu, Mas hanya tidak ingin kejadian itu terulang dan kamu menderita. Mas setuju dengan kehamilan kamu, kita jaga sama-sama ya biar kamu dan anak kita sehat didalam sana!" ucap Guna membuat Ayunda terharu.
"Maaf Mas, Ayu sebenarnya nggak mau ngambek apalagi marah sama Mas Guna," jelas Ayunda membuat Guna mengelus kepala Ayunda.
"Jadi kamu ngambeknya hanya pura-pura?" tanya Guna menatap Ayunda dengan tatapan dalam.
Ayunda merasa khawatir karena takut Guna akan marah padanya membuatnya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Guna kesal tapi ia tidak ingin membuat Ayunda akhirnya akan benar-benar marah padanya. Guna mengelus pipi Ayunda dengan lembut. Mata Ayunda yang berbinar membuatnya tersenyum agar merubah suasana hati istrinya itu dan menghentikan perasaan takut istrinya karena takut ia akan marah.
"Maaf Mas," ucap Ayunda.
"Tidak apa-apa Mas nggak marah tapi lain kali jangan ikuti permintaan Mamai kalau dia minta kamu marah sama Mas atau mau ngerjain Mas, Yu!" ucap Guna membuat Ayunda tersenyum haru. Air matanya menetes dan ia menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas," ucap Ayunda.
"Jadi dalam rangka apa cakenya Yu? Mas lagi nggak ulang tahun," ucap Guna.
Ayunda mencium pipi Guna cup... "Selamat ya Mas karena udah mendapatkan penghargaan dan juga bisnis Mas yang sudah bertambah besar. Hmmm... selamat juga karena Mas sudah menanam ini!" ucap Ayunda menunjuk perutnya yang belum membesar.
Guna terkekeh "Hehehehe... Iya sayang terimakasih," ucap Guna kembali memeluk Ayunda.
"Mas kenapa tadi ke Kamar Ghavin dulu?" tanya Ayunda karena recananya gagal dan cakenya ditemukan lebih dulu oleh Guna dibandingkan dirinya.
"Kamu kan ngambek jadi Mas lebih kangen sama Ghavin ketimbang sama kamu," jelas Guna membuat Ayunda menyebikkan bibirnya
"Kalau tadi Mas ke kamar Ayu duluan, Ayu kan masih pengen akting marah sama Masku ini!" ucap Ayunda menepuk pelan dada Guna membuat Guna terkekeh.
"Kamarnya kaya mau lamaran ya Yu, kamu mau Mas lamar lagi?" goda Guna membuat Ayunda tersenyum. Guna mengedarkan padangannya dan melihat dekorasi lucu dengan balon dan juga bunga-bunga memenuhi kamar mereka.
"Sekarang Ayu yang ngelamar Mas Guna!" ucap Ayunda.
"Hehehe... kita tidur dikamar Ghavin atau..." Guna segera memotongnya.
"Kita tidur dirumah baru Papa!" ucap Guna menunjuk Rumah mertuanya yang berada tepat didepan rumah keluarganya.
"Memang sudah bisa ditempati?" tanya Ayunda.
"Sudah sayang."
"Kak, Mbak... " teriak Gemal yang sedang berada di lapangan tenis membuat Guna melepaskan pelukannya dan ia melangkahkan kakinya membuka jendela. Guna terkejut saat melihat suasana pesta kecil dilapangan tenis dan semua keluarganya sedang berpesta disana.
"Pasti ini Mami yang siapkan?" tanya Guna.
"Iya Mas siapa lagi hehehe..." kekeh Ayunda.
"Ayo gabung!" teriak Gemal.
Guna memberikan isyarat jari yang menunjukan isyarat ok kepada Gemal dan Raka. Ayunda menarik tangan Guna dan meminta Guna meotong kuenya. Guna segera memotong kuer itu sambil tersenyum. Ia kemudian segera menyuapkan istrinya itu dan kemudian sengaja meletakan cream kue ke bibir istrinya.
Guna menarik pinggag Ayunda dan mencium bibir Ayunda yang berlepotan cream dengan lembut. Seolah menikamati manis bibir istrinya membuat Guna tak mau melepaskan bibir lembut milik istrinya itu. Ayunda menepuk dada Guna dengan pelan seolah mengingatkan agar segera berhenti.
"Maaf sayang, kamu terlalu manis untuk dilepaskan!" ucap Guna membuat Ayunda tersedak.
"Uhukk... "
Wajah Ayunda merah padam karena malu membuat Guna tersenyum. "Mas Bucin" ucap Ayunda.
"Mas itu cintanya udah besar banget kadarnya sayang" ucap Guna.
Teriakan Gemal dengan microphone membua Guna kesal. "Ayu keluar sekarang dan jangan mau kena serangan makhluk bucin!" ucap Gemal membuat Guna geram. "Mas belum boleh ingat ada dedek dalam per... " ucapan Gemal terhenti karena Raka mengambil microphone dari Gemal.
"Selamat Guna" ucap Raka membuat Guna tersenyum.