
Dalam perjalanan menuju Bali Ayunda tertidur pulas disamping Guna. Sesekali Guna memperhatikan kenyamanan istrinya itu dengan membetulkan posisi leher Ayunda agar tidak sakit. Guna tersenyum saat menatap wajah polos istrinya yang saat ini terpejam. Dengkuran halus terdengar ditelinganya menandakan jika Ayunda sedang tertidur nyenyak. Ayunda yang hamil, berubah seratus delapan puluh derajat sifatnya dari yang acuh dan cuek menjadi sosok yang perasa dan cengeng.
Guna tidak pernah merasa terganggu dengan perubahan sikap istrinya. Ayunda yang sedang hamil anaknya harus ia berikan perhatian lebih. Momen kehamilan Ayunda akan menjadi cerita lucu yang ia bisa ceritakan kepada anak-anaknya nanti.
Mencintai seorang Ayunda bukanlah rencana Guna, tapi sosok Ayunda yang selalu muncul membuat hidup nyamannya terusik. Guna ingat bagaimana Ayunda mengganggu mimpi-mimpinya membuatnya selalu memikirkan sedang apa Ayunda sekarang. apalagi saat Ayunda yang mabuk dan menciumnya, membuatnya berterimakasih karena kebodohan Ayunda itulah yang membuatnya punya alasan untuk menikahinya.
"Gun, apa benar Kakek ingin Dinda menikah dengan Raka?" tanya Alfa yang duduk disebelah Guna.
"Iya tapi Kakek tidak ingin memaksanya, Kakek ingin hubungan mereka terjalin alami" jelas Guna. "Apa kak Alfa tidak setuju dengan keinginan Kakek?" tanya Guna. Sebenarnya Guna lebih tua dibandingkan Alfa tapi karena Ayunda yang merupakan Adik Alfa menikah dengan Guna, maka Guna harus memanggil Alfa Kakak.
Alfa menghela napasnya sebagai seorang Kakak berat rasanya ia memberikan adiknya kepada laki-laki yang tidak mencintai adiknya. Walaupun jika Adinda menikahi Raka, Kakek Farhan akan menjamin Adinda akan mendapatkan harta warisannya. Uang bukanlah faktor utama kebahagiaan bagi Alfa tapi kenyamaan, saling menyayangi, saling menghormati dan kejujuran.
"Jika Adinda mencintai Raka, Kakak tidak bisa berbuat apapun dan mau tidak mau harus menyetujuinya tapi kita bisa lihat setiap kali mereka bertemu yang ada hanya pertengkaran" jelas Alfa.
"Saya menyetujui keinginan Kakek karena ingin membuat Kakek sedikit tenang. Kakek sangat menginginkan Adinda menjadi menantunya. Saya dan Ayunda hanya membuat peluang agar keduanya bisa berdekatan tapi kita tidak memaksa hubungan mereka Kak. saya harap Kakak bisa memaklumi sikap Om Raka yang terlihat dingin dan angkuh!" pinta Guna.
Alfa mengerutkan dahinya "Untuk saat ini Kakak hanya akan jadi penonton dan memastikan Adinda tidak tersakiti tapi jika Raka sudah keterlaluan jangan salahkan Kakak akan memukulnya!" ucap Alfa membuat Guna tersenyum karena Alfa adalah Kakak yang sangat baik untuk kedua adiknya.
"Tentu saja Kak, bukan hanya Kakak yang akan menghajar Om Raka karena saya sebagai Kakak ipar Dinda juga akan menghajarnya!" jelas Guna.
"Jalan!" ucap Raka yang berada dibelakang Adinda membuat Adinda menatap Raka dengan tatapan kesal.
"Lo ngeselin banget sih Om. sabar kenapa?" kesal Adinda ia kemudian bergeser hingga tubuh keduanya bersentuhan.
sebuah tangan memegang tangan Adinda "Biarkan dia lewat Din, kamu bareng Kakak aja turunnya!" ucap Riskan membuat Adinda tersenyum manis.
"Iya Kak dan Om bawel silahkan lewat!" kesal Adinda.
Raka menatap Adinda dan Riskan dengan dingin ia kemudian segera melangkahkan kakinya keluar dari pesawat dan menunggu yang lainnya turun dari pesawat. Meta sahabat Ayunda mendekati Raka.
"Hai Kak, kenalin aku Meta!" ucap Meta mengulurkan tangannya.
"Raka" ucap Raka tanpa menatap Meta apalagi menjabat tangan Meta.
Tatapan Raka saat ini tertuju pada sosok Adinda yang tertawa bersama teman-teman Alfa. senyum lepas Adinda membuat Raka kesal melihatnya. Entah mengapa Adinda akhir-akhir ini membuatnya kesal, apalagi sejak Adinda tinggal bersama keluarganya Adinda selalu terlihat seperti ingin menarik perhatiannya.