
Ayunda saat ini berada didalam mobil bersama Guna keduanya tertawa mengingat tingkah laku Brian yang mengundang tawa. Brian memang terkenal dingin, kejam dan selalu menutut kesempurnaan namun ketika jatuh cinta, Brian menjelma menjadi laki-laki pencemburu yang tidak suka istri memuji laki-laki, meskipun itu adalah Kakaknya sendiri.
"Untung aja Mas, kasih tahu Ayu kalau kalian bertanding hahaha... yang tadi itu lucu banget Mas. Brian itu aneh ya Mas hahaha..." Tawa Ayunda mengingat sikap Brian yang haus akan pujian dan terlihat sombong.
"Kakek cerita kalau Brian itu aslinya memang kejam Yu, dia nggak ada belas kasihan kepada orang yang berani menghianatinya. Dia itu punya kisah tragis mengenai keluarganya dan Mas pertama kali ketemu dia saat rapat para perkumpulan pengusaha. Brian itu sangat angkuh dan tidak suka ada orang yang ya... lebih hebat dibanding dia. Dulu Brian yang selalu mendapatkan pengharagaan sebagai pengusaha muda yang sukses setiap tahun tapi tahun ini Mas yang menang," jelas Guna.
"Tapi Ayu lihat dia itu orang baik Kak, walau mungkin cara berbicaranya memang seperti itu," ucap Ayu.
"Dia seperti itu hanya dengan kita Yu aslinya dia orang yang sulit bergaul. Brian lebih suka menghabiskan waktunya di ruangan kerjanya. Dia pekerja keras, semua bodyguardnya itu sangat setia padanya. Semenjak menikah dengan Radina dia sedikit berubah," jelas Guna.
"Mas kalau kita liburan bersama nanti pasti lucu loh Mas," ucap Ayunda.
"Lucu dari mana? Mas juga suka kesal Yu sama dia," jujur Guna membuat Ayunda tersenyum.
"Mas Almira siapa Mas?" tanya Ayunda karena sejak kemarin ia penasaran saat membaca pesan di ponsel Guna.
"Masih keluarga Kakek, tapi gimana ya. Dia itu anak sahabat Kakek yang udah dianggap keluarga," jelas Guna.
"Kenapa Mas nggak balas pesannya dia?" tanya Ayunda.
Guna mengelus rambut Ayunda. "Dia perempuan aneh yang Mas kenal dan Mas nggak suka dia mendekati keluarga kita!" ucap Guna.
Ayunda sebenarnya sempat cemburu dengan Almira karena perempuan itu selalu menghubungi suaminya namun sepertinya Guna mengacuhkannya. "Ayu juga nggak suka Mas, Ayu cemburu!" jujur Ayunda.
"Bagus kalau kamu cemburu, berarti kamu sangat cinta sama Mas Yu!" ucap Guna.
Ayunda mengecup pipi Guna membuat Guna tersenyum. "Nanti Mas nggak fokus, Yu!" ucap Guna membuat Ayunda terkekeh.
"Hehehe... Mas ini bisa aja."
"Mas laper Yu," ucap Guna.
"Kita makan di sate gerobak yuk Mas!" Pinta Ayunda namun Raka belum menjawab ajakannya. "Kenapa Mas nggak mau? Mas kusayang, istri Mas ini merakyat sebelum menikah dengan CEO kaya raya bernama Gunadarma Candrama, istri mas ini suka makan dipinggir jalan!" ucap Ayunda.
"Iya Mau Yu tapi disuapin ya!" pinta Guna membuat Ayunda terkekeh. Tadinya Guna ingin makan di hotel keluarganya dan setelah itu menginap disana hingga subuh.
"Mas Ayu sedang tidak hamil ini, kok mas manja banget hehehe..." kekeh Ayunda.
"Pagi, siang, sore, malam istriku sudah jadi miliki Ghavin dan Gayatri. Jadi Ma, sesekali Papa mau manja sama Mama!" ucap Guna membuat Ayunda tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha Mas kok ngikutin ucapan Papa Ayu, Papa gitu kalau mau manja sama Mama," ucap Ayunda mengingat Bagas dan Ratna yang sangat romantis.
Tin... tin... sebuah mobil sport mendekati mereka. Raka membuka kaca mobil "Mau makan dimana?" tanya Raka. Disebelah Raka ada Gemal dan dibelakang mereka ada Adinda yang saat ini juga membuka kaca mobil.
"Makan di bundaran Din!" ucap Ayunda membuat Adinda tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Kak Dinda mau makan disana juga!" ucap Adinda manja.
"Kita ikut!" ucap Raka.
Mobil mereka menuju bundaran dan beberapa menit kemudian mereka berhenti di Bundaran. Mereka semua turun dari mobil termasuk Gemal yang saat ini terlihat mengantuk. Gemal menghubungi seseorang dan sedikit menjauh dari mereka. Sementara itu Adinda, Guna dan Ayunda segera duduk di tengah lapangan diantara para pengunjung lainya yang duduk dimenjanya dan sedang menyatap makanan.
"Gun, tempat ini kayak di Singapura Gun. Jajanan malam yang berada dilapangan tapi disini fasilitasnya yang kurang!" ucap Raka membuat Ayunda terseyum karena suaminya ini adalah pembisnis sejati.
"Kenapa Om mau ambil alih tempat ini?" tanya Guna.
"Nggak Gun, kalaupun mau diambil alih Om akan tetap membiarkan mereka berjualan disini tapi kita buat fasilitasnya lebih baik," ucap Raka.
"Mau Om sewakan?" tanya Guna.
"Nggak, Om mau bantu mereka aja Gun, tidak perlu sewa tapi kita juga buka jajanan disini bersama mereka," ucap Raka.
Gemal yang baru saja duduk menatap Ayunda dan Adinda yang sedang memesan makanan. "Sate kacangnya dibungkus dua Din!" ucap Gemal.
"Oke," ucap Adinda mengangkat jempolnya
"Jangan bahas bisnis bosen," ucap Gemal yang lelah karena menjadi dokter sekaligus pemimpin beberapa perusahaan yang terpaksa ia pegang.
"Kak aku pinjam Adam yang buat jadi salah satu pemimpin perusahan yang aku pegang!" ucap Gemal.
"Katanya jangan ngomongin bisnis," ucap Guna menaikkan sebelah alisnya membuat Raka terkekeh.
"Nggak bisa Gem, soalnya Adam akan pegang satu perusahaan baru milik Om," ucap Raka.
"Akmal aja kalau gitu!" pinta Gemal.
"Akmal hukumannya belum berakhir sampai dia bisa membawa keuntungan anak perusahaan dan naik menjadi managernya, dia akan tetap disana!" ucap Raka. Ia mendidik adik-adiknya dengan keras karena ia tidak mau Akmal dan Adam menjadi manja padanya.
Bunyi ponsel Guna membuatnya segera mengangkatnya dan Guna tersenyum saat mengetahui jika Harian Hartono Kakak sulung Elysa meminta untuk bertemu dengannya. Guna menutup ponselnya dan menatap mereka semua sambil tersenyum. "Harian Hartono minta untuk bertemu denganku!" jelas Guna.
"Saat kalian bertemu Om akan hadir disana!" ucap Raka.
Adinda menghela napasnya sambil menatap suaminya. Ia telah mengatakan kepada suaminya agar menyudahi masalah ini namun Raka tidak akan berhenti sampai ia bisa memberi pelajaran kepasa Elysa dan Indra.
"Kali ini Elysa dan Indra bakalan kena getahnya," ucap Gemal.
"Indra? Indra ini bukan yang pernah suka sama lo ya Din? dia yang kerja di Bank dan menjadi atasanmu itu. Indra yang itu bukan?" tanya Ayunda membuat Raka menatap Adinda dengan tatapan tajam.
"Iya," ucap Adinda.
"Astaga orang itu memang harus diberi pelajaran. Dulu Rifki sampai berantem sama dia gara-gara dia deketin Adinda dan minta Adinda jadi simpanannya. Pada hal dulu Indra ini sudah punya istri dan anak," ucap Ayunda membuat suasana tiba-tiba menjadi dingin.
Aura kecemburuan dan tatapan dingin yang tertuju kepada Adinda membuat Ayunda menelan ludahnya karena merasa mungkin ucapannya saat ini telah memperburuk kedadaan. "Hmmm... Om marah ya?" tanya Ayunda.
Raka menganggukkan kepalanya membuat Adinda tersenyum lembut pada Raka dan ia menyuapkan makanan yang baru saja datang ke mulut Raka. "Jangan ngambek, cepat tua!" ucap Adinda membuat mereka semua menahan senyumnya melihat Raka yang menatap Adinda dengan kesal tapi masih mau mengunyah makanan yang diberikan Adinda.