
Adinda sebenarnya sedang ingin menghabisakan waktunya di rumahnya sambil tidur dan membaca novel penulis favoritenya, namun kehadiran Raka yang sejak tadi berada dirumahnya membuatnya kesal. Gara-gara permintaan konyol kakeknya, Raka seolah sedang berusaha mewujudkan keinginan Kakeknya dengan mendekatinya. Adinda bukan perempuan bodoh yang tidak tahu maksud dan tujuan Raka datang pagi-pagi ke rumahnya. Ia tahu bagaimana sikap Raka yang dingin dan angkuh tiba-tiba berusaha hangat mengikuti alur yang disiapkan sang kakek untuk mendekatinya.
Adinda keluar dari kamarnya, menuju lantai dasar dan ia terkekejut saat melihat Rifki saat ini sedang berbicara dengan Mamanya. "Rifki ingin bertemu Dinda Ma, ada yang ingin Rifki sampaikan kek Dinda!" pinta Rifki.
Rifki telah terbiasa memanggil Ratna dan Bagus, Papa dan Mama. Berberapa tahun ia memiliki hubungan dengan Adinda membuatnya telah menganggap Ratna dan Bagus seperti orang tuanya sendiri.
"Duduk dulu Ki!" ucap Ratna ramah. Ratna tidak bisa bersikap kasar ataupun marah kepada Rifki karena telah berselingkuh dari Adinda dan membuat anak bungsunya itu patah hati selama dua minggu saat itu. Ratna menyayangkan hubungan Rifki dan Adinda berakhir, namun ia merasa mungkin ini yang terbaik untuk Adinda. Adinda yang ceria tidak menunjukkan kesedihannya kepada ia dan suaminya saat itu, Adinda hanya mengatakan jika ia belum berjodoh dengan Rifki.
"Iya Ma" ucap Rifki dan segera duduk di sofa.. Raka yang saat ini duduk dihadapanya menatap Rifki dengan dingin. Aura Raka yang mengintimidasi membuat Rifki merasa laki-laki yang saat ini ada dihadapannya ini mungkin seseorang yang saat ini dekat dengan Adindanya.
Adinda menarik lengan sang Mama yang sedang menuju kedapur meminta pembantu mereka membuat segelas teh untuk Rifki. "Ma, bilang aja tadi Dinda nggak ada!" ucap Adinda.
"Nggak boleh gitu, harusnya kamu selesaikan baik-baik sama Rifki kalau kamu, nggak mau lagi sama dia. Jangan kasih dia harapan!" ucap Ratna.
"Dinda masih menimbang Ma. Rifki ngajak balikan, tapi Dinda nggak tahu apa bisa kembali seperti dulu atau lebih baik kita pisah Ma. Hubungan Rifki dan Dinda kan Ma baru kali ini putus dan sekali putus kita kayak gimana gitu Ma. Rifki bilang menyesal dan ingin memperbaikinya dengan mengajak Dinda segera menikah" jelas Adinda.
Ayunda mengintip di ruang tamu dan ia mendekati Adinda dan Mamanya sementara itu ia meminta Guna untuk bergabung bersama Rifki dan Raka. "Din, sepertinya akan terjadi perang, kamu pilih siapa Rifki apa Om Raka?" tanya Ayunda.
"Wah, udahan ngambeknya? pelukan sama suami dengan penuh cinta, manja-majahan udah selesai? sekarang mau ngejekin Dinda, ya Mbak?" kesal Adinda.
"Hehehe nggak gitu juga sih, temui aja Rifki ajak dan ajak Rifki berbicara di Taman. kamu masih cinta sama Rifki?" tanya Ayunda.
"Nggak tahu" ucap Adinda. Ia bingung dengan perasaannya.
Terkadang ia masih sering memikirkan Rifki namun akhir-akhir ini ia disibukkan dengan sosok Raka yang menyebalkan namun sebenarnya baik padanya. Rifki memang selalu menuruti keinginannya apapun itu, termasuk putus denganya saat itu. Rifki benar-benar memberikannya jarak dan tidak mengganggunya. Sebenarnya saat itu jika Rifki kembali berusaha mendekatinya setelah tiga hari kata putus diucapkan Adinda, mungkin Adinda akan luluh dan kembali bersama Rifki.
Sementara itu Raka menatap Rifki dengan tatapan permusuhan. Ia melipat kedua tangannya dan mencoba mengintimidasi Rifki. Rifki yang tidak suka diamati seperti itu akhirnya membuka suaranya.
"Kenapa anda melihat saya seperti itu?" tanya Rifki.
"Saya hanya merasa kamu bukan laki-laki yang cocok buat Adinda!" ucap Raka dingin membuat Guna yang baru saja datang menepuk jidatnya melihat kelakuan Omnya itu.
"Ada tamu rupanya, perkenalkan saya Guna suami Ayunda!" ucap Guna mengulurkan tanganya dan Rifki menyambut jabatan tangan Guna. Guna kemudian duduk didekat Raka.
"Kalian terlihat mirip" ucap Rifki menatap Raka dan Guna bergantian.
"Dia Om saya!" ucap Guna membuat Raka melirik Guna sekilas.
"Tujuan kamu datang kemari mau apa?" tanya Raka membuat Guna pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saya pacarnya Adinda saya mau mengajak Adinda pergi jalan-jalan Om!" ucap Rifki.
batin Rifki*
"Kalian sudah putus dan sekarang saya calon suaminya Adinda!" ucap Raka membuat Adinda dan Ratna yang baru saja datang mendekati mereka terkejut dengan ucapan Raka.
Adinda mendekati Rifki yang saat ini terkejut dengan ucapan Raka. "Kamu mau bicara sama aku kan Rif, ayo kita ke belakang saja!" ajak Adinda.
Namun Raka menarik tangan Adinda "Kamu harus ikut saya pergi sekarang juga Dinda!" ucap Raka.
"Om, Dinda mau bicara sama Rifki dulu, Om!" pinta Adinda.
"Anda pikir bisa merebut Dinda dari saya? jawabanya nggak semudah itu. Saya mendekati Dinda karena saya ingin mengajaknya menikah! Saya lebih dulu mengenal Dinda" ucap Rifki.
"Merebut? saya tidak merebutnya dari anda, anda melakukan kesalahan dan kalian telah berakhir. Saya tidak akan membiarkan dia kembali bersama anda!" ucap Raka dingin.
Tanpa Raka duga Rifki mendekatinya dan memukul perutnya, membuat Guna menghela napasnya. Mencari masalah dengan Raka jangan harap bisa menang. Adinda terkejut dan mencoba menarik tangan Rifki agar menjauh dari Raka.
Raka tersenyum sinis "Ayo kita buktikan satu lawan satu dan kalau kau kalah, jangan pernah mendekati Adinda. kita selesaikan secara dewasa dan saya akan senang hati menghancurkan anda sekarang juga!" ucap Raka angkuh.
Raka menatang Rifki untuk berduel dengannya membuat Guna menghela napasnya. "Guna buat surat pernyataan jika saya mematahkan kakinya, tanganya atau membuat wajahnya babak belur dia tidak akan menutut dan saya juga tidak akan menututnya ke jalur hukum!" ucap Raka.
"Om udahan aja ya, damai itu indah!" ucap Adinda berusaha membujuk Raka agar membatalkan tantanganya.
"Kamu pikir perut saya itu buat jadi samsak gratis? Saya mau dia berjanji kalau saya yang menang dia mundur dan nggak akan mendekatimu lagi!" ucap Raka menatap Adinda dengan serius membuat Bagus yang sejak tadi meminum kopinya di belakang taman tersenyum ketika mendengar perdebatan antara Raka dan Rifki.
"Rifki,, nggak usah dilayanin ya si Om!" ucap Adinda. Adinda ingat kalau Rifki itu jago berkelahi dan juga memiliki ilmu bela diri. Sebenaranya ia khawatir dengan Raka, Raka itu kutu buku dan ia tidak bisa membayangkan wajah Raka yang akan babak belur.
"Saya terima tantangan kamu, kalau saya yang menang kamu jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini lagi, apalagi mendekati Adinda!" ucap Rifki.
Adinda mendekati Bagus "Papa, ini gimana sih Pa!" kesal Adinda membuat Bagas mengelus rambutnya dengan lembut.
"Mau bagaimana lagi, janji seorang pria harus ditepati!" ucap Bagas.
Ayunda mendekati Adinda "Kamu pilih siapa dek? mau taruhan?" goda Ayunda.
"Mbak..." teriak Adinda membuat Ayunda tertawa sedangkan Guna menyayangkan sikap Rifki karena ia tahu siapa laki-laki yang ia panggil Om ini.
"Guna tulis perjanjian, Papa yang akan menjadi juri mereka!" ucap Bagas.
tbc...