
Raka dan Adinda pergi menuju Rumah Sakit untuk menjenguk Farhan. Adinda membawa buah-buahan untuk Farhan dan saat ini keduanya sedang berjalan di koridor rumah sakit. Adinda terlihat ceria dan ia tidak memperdulikan Raka yang berada di belakangnya.
"Om ruangannya dimana? kan Kakek bukan di ICU lagi" ucap Adinda.
Makanya jangan sok tahu kamu!" ucap Raka.
Adinda memutar bola matanya "Makanya Dinda tanya Om sombong!".
"Di Ruang khusus keluarga pemilik Rumah sakit ini" ucap Raka.
"Kok bisa Om? pasti mahal banget" ucap Adinda.
"Kak Adit kenal sama pemilik Rumah sakit ini dan mereka sama-sama dokter disini" jelas Raka.
Adinda dan Raka masuk kedalam lift menuju lantai lima tempat Farhan dirawat. Saat pintu lift terbuka Adinda membuka mulutnya karena dikoridor Rumah sakit ini saja sudah seperti hotel mewah. "Kalau nginap disini Dinda juga betah Om" ucap Dinda.
"Kamu nginap saja sama saya di hotel saya!" ucap Raka membuat Adinda menelan ludahnya.
"Mana boleh sama Mama Om, gila aja anak perawan kayak aku yang rumahnya nggak jauh nginap di hotel sama Om-om lagi" ucap Adinda membuat Raka menaikan sudut bibirnya.
"Jadi Nyonya Raka, kalau kamu mau tinggal di hotel seperti ini!" ucap Raka membuat Adinda melototkan matanya.
"Om kenapa sekarang ngegas banget ya pengen jadiin Dinda istri, stok cewek Om nggak ada ya?" kesal Dinda.
"Menurut kamu?" tanya Raka menaikkan sebelah alisnya.
"Mana Dinda tahu Om, memang Dinda dukun apa?" Adinda menatap sinis Raka.
"Mungin kamu memang pakai jampi-jampi dukun" ucap Raka membuat Adinda kesal setengah mati.
"Dasar gila, buat apa Dinda pakai dukun? Dinda udah cantik begini tidak perlu jampi-jampi. Om yang harusnya ke dukun biar setan yang ada dalam tubuh Om itu keluar!" teriak Adinda membuat Raka segera menutup mulut Adinda ketika dua orang suster menatap kearah mereka.
"Jangan berisik suara kamu itu mengganggu pasien yang ada disini!" ucap Raka membuat Adinda menyebikkan bibirnya.
Raka memegang tangan Adinda dan masuk kedalam ruang perawatan Farhan. Di dalam ruangan ada Adinda yang sedang mengupas apel untuk Farhan. "Hai Kakek... Assalamualikum" ucap Adinda hebo membuat Farhan tersenyum lebar.
"Sini nak!" ucap Farhan membuat Adinda duduk disamping Ayunda.
"Pi tangannya jangan diangkat!" pinta Raka karena dipergelangan tangan Farhan terdapat jarum infus yang terpasang disana.
Farhan menurunkan tangannya dan menatap Adinda dengan tatapan penuh harap. "Pergi kesini sama siapa Din?" tanya Farhan.
"Sama Om Raka, Kek" ucap Adinda.
"Bagus itu, itu baru anak Papi!" ucap Farhan melihat kearah Raka sambil tersenyum.
Mencurigakan, Kakek dan Om Raka pasti ada rencana ini.
batin Adinda.
"Kek dimakan dulu buahnya!" ucap Ayunda.
"Iya sini!" ucap Farhan, ia mengambil buah yang ada didalam piring. "Ayu kamu tiduran di sofa saja Cu, Kakek nggak mau kamu kecapean!" ucap Farhan karena sejak pagi Ayunda yang menjaga Farhan.
"Iya Kek" ucap Ayunda melangkahkan kakinya menuju sofa dan membaringkan tubuhnya. Sejak hamil Ayunda memang sering merasa ngantuk apalagi dipagi hari dan jika ia tinggal bersama Mamanya atau Mama mertuanya, pasti Ayunda dimarahi, karena tidur pagi tidak baik untuk kesehatan ibu dan bayi menurut kedua Mamanya itu.
"Raka duduk sini!" panggil Farhan meminta Raka duduk disebelah Adinda. Raka segera melangkahkan kakinya duduk disebelah Adinda.
"Kek, cepat sembuh ya Kek. Kalau Kakek sembuh Dinda akan sering main ke rumah Kakek. Tapi hari libur ya Kek, soalnya sekarang Dinda dipaksa jadi asisten bos sombong kek!" ucap Adinda membuat Raka merangkul leher Adinda.
"Lepasin Om! sakit tahu!" teriak Adinda.
"Jangan dilepasin Om, diikat sekalian!" ejek Ayunda.
"Mbak bukanya nolongin adiknya yang teraniyaya eh... ini Mbak ikut-ikutan ngejekin Dinda" kesal Adinda membuat Ayunda tertawa.
"Dinda, Kakek sebenarnya ingin sekali agar kamu tinggal bersama Kakek!" ucap Farhan.
"Bisa kok Kek, Dinda izin ke Mama dan Papa kayak kemarin Kek waktu Dinda nginap di Rumah Kakek!" ucap Adinda.
"Khusus buat Dinda jangan panggil Kakek tapi panggil Papi ya nak! Kamu kan calon menatu Papi!" ucap Farhan membuat Adinda membuka mulutnya. Ia melirik Raka yang ada disebelahnya.
"Jangan membantah ucapan Papi nanti kondisinya bisa memburuk!" bisik Raka membuat Adinda menelan ludahnya "Kalau terjadi apa-apa dengan Papi saya, karena penolakan kamu, kamu harus tanggung akibatnya!".