
Setelah mengalami perjalanan cukup panjang mereka sampai di Kediaman Oma Mawar yang sangat luas dan besar. Ternyata disepanjang perkebunan teh terdapat rumah mewah yang berdiri kokoh di perkebunan ini. Ayunda turun dari dalam mobil sambil menggendong putra kecilnya.
"Terimakasih Pak" ucap Guna sopan.
"Iya sama-sama Den" ucapnya.
Guna telah memberitahu kepada sepupunya perihal kedatangannya hari ini dan Arjun sepupunyalah yang memerintahkan supir keluarga untuk menjemput Guna dan keluarga kecilnya. Ayunda menatap rumah megah ini dengan perasaan was-was karena ia tahu sang Oma dari awal tidak menyetujui pernikahannya bersama Guna.
"Sini biar Mas yang gendong Ghavin!" ucap Guna mengambil Ghavin dari gendongan Ayunda.
Keduanya masuk dan membiarkan koper berada diluar. "Koper kita Mas?" tanya Ayu.
"Nanti Mas ambil yang penting kita menemui Oma dulu!" ucap Raka karena jika Omanya mengusirnya, ia tidak perlu repot membawa kopernya keluar dari kediaman Omanya ini. pengasuh Ghavin mengikuti mereka masuk kedalam rumah.
Suasana rumah terlihat sangat rapi dan bersih, Ayunda bisa menduga jika Oma Mawar itu menyukai tanaman hias karena berbagai koleksi tanaman dirumah terlihat dari saat mereka memasuki rumah ini. Rumah ini juga dilapisi kayu jati dibeberapa bagian hingga terlihat unik dan juga antik.
Seorang pelayan di Rumah ini mendekati mereka namun ketika melihat wajah Guna ia segera membungkukkan tubuhnya. "Assalamualikum, Selamat datang Aden Guna" ucapnya.
"Waalikumsalam, Pak" ucap Guna. Pelayan ini mengenal Guna dari foto keluarga yang terpampang besar di tengah ruangan besar dirumah ini.
Sebenarnya perusahaan perkebunan teh ini milik Ayah kandung Elin, namun karena Elin memilih untuk mengikuti suaminya ia menyerahkan pengelolahaan perkebunan ini dan membagi sahamnya untuk Oma Mawar yang selama ini mengelolah perusahan ini. Perusahan ini semakin pesat dan tambah berkembang semenjak di pegang Harun anak kandung Oma Mawar yang memiliki tangan dingin mengelolah dan membesarkan perkebunan teh ini.
Seorang laki-laki tampan melihat kedatangan Guna dan ia segera mendekati Guna sambil tersenyum senang "Apa kabar Kak" ucap Arjun mendekati Guna dan tersenyum melihat Ayunda. "Selamat datang Kakak ipar!" ucap Arjun ramah membuat Ayunda tersenyum.
"Kamu tambah tinggi dan Tampan Jun" ucap Guna.
"Wah tumben nih muji Arjun kayaknya Kakak ipar memberikan aura positif kepada Kak Guna" ucap Arjun.
"Dia ini sebenarnya galak Yu sama kayak Oma. Kalau Mas ini umurnya nggak lebih tua darinya atau Mas ini karyawanya, Mas bisa diperlakukan dingin bahkan nggak akan ditegur kalau lewat" ucap Guna membuat Ayunda tersenyum.
"Mana ada gitu Mbak, jangan percaya! hmm...ternyata Mbak Ayu ini cantik banget makanya Kak Guna sampai menolak Citra" ucap Arjun.
"Siapa Citra?" tanya Ayunda.
"Perempuan yang mau Oma jodohin kepada Kak Guna, dia itu anak kepala desa disini" jelas Arjun. "Dia suka banget sama Mas Guna, Dulu kalau Mas Guna kemari dia pasti datang kesini tiap hari" ucap Arjun.
"Ranggia mana?" tanya Guna mencari sosok Ranggia yang nakal dan suka berbuat seenaknya itu. Ranggia merupakan adik bungsu Arjun.
"Anggi hari ini juga pulang, karena kehabisan uang Kak. Papa mencabut semua fasilititas kartu kreditnya" jelas Arjun.
"Pantas saja dia nangis dan menghubungi Gemal dua hari yang lalu minta dikirimi uang" ucap Guna.
"Wah....Ghavin lebih ganteng dari yang difoto ya Vhin" ucap Arjun. Arjun memang sangat menyukai anak kecil dan ia terlihat begitu menyenangkan jika bermain bersama anak-anak.
"Ghavin itu ganteng kayak papanya" ucap Ayunda membuat Arjun tersenyum.
"Makanya suka ya Mbak sama Mas Guna" goda Arjun membuat Ayunda tersenyum.
Seorang wanita parubaya yang masih terlihat bugar walau dengan tongkat ditangannya, datang dan mendekati Guna. Ia menatap sinis kedatangan Guna dan Ayunda yang saat ini sedang duduk bersama Arjun. Seorang pelayan mendekati mereka dan memberikan dua gelas teh kepada Guna dan Ayunda.
"Masih ingat pulang kamu?" tanya Oma Mawar membuat Ayunda tahu jika seorang nenek terlihat seperti nenek sihir itu memang benar-benar ada di dunia nyata. Apalagi sosok Oma Mawar sangat berwibawah dan terlihat tegas dan wajah cantiknya yang telah menua. Garis wajah tidak akan membongi jika Oma Mawar ada wanita cantik saat ia muda.
"Maaf Oma, Guna kesini sekalian mau mengenalkan Oma dengan istri Guna Oma!" ucap Guna. Ia mendekati Oma Mawar dan mencium punggung tangan Oma Mawar namun ketika Ayunda mendekati Oma Mawar dan ingin mencium punggung tangan Oma Mawar, Oma Mawar menarik tangannya dengan kasar dan mengalihkan pandangannya.
Ayunda menundukkan kepalanya dan berusaha untuk terlihat kuat dan tidak menunjukkan kesediahanya didepan Guna. "Kamu harusnya tidak perlu membawa mereka kemari, keluarga kalian tidak menganggapku sebagai orang tua lagi. Tidak mau mendengar pendapatku dan bersikap semaunya!" ucap Oma Mawar.
"Kita tidak bermaksud begitu Oma!" ucap Guna.
Seorang pelayan membawa kursi untuk Oma Mawar hingga ia bisa duduk dan berbincang dengan nyaman kepada Guna dan Ayunda. "Oma, mereka sudah jauh datang kemari dan jangan membuat masalah lagi Oma!" ucap Arjun dingin membuat Ayunda terkejut karena Arjun berani mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Oma Mawar.
"Kamu jangan ikut campur Arjun!" ucap Oma kesal dengan Arjun.
"Kalau Oma tidak bisa bersikap baik kepada Kak Guna dan keluarga kecilnya, lebih baik Oma pindah ke Rumah tua!" ucap Arjun.
"Juna... " panggil Guna seolah memperingatkan Arjun agar tidak bersikap dingin pada Omanya. Sekarang Ayunda tahu jika Oma Mawar ternyata takut dengan sosok Arjun.
"Oma hanya ingin berbicara bersama cucu sulung Oma dan buka ke kamu Arjun!" kesal Oma Mawar.
"Bik siapkan obat darah tinggi buat Oma!" ucap Arjun yang kemudian membawa Ghavin pergi menjauh dari mereka. Ayunda terlihat takjub dengan tingkah Arjun dan juga Oma Mawar yang terlihat tidak akur.
"Kurang ajar kamu Arjun!" teriak Oma Mawar.
Guna menghela napasnya karena Oma dan Arjun sejak dulu memang tidak akur. Oma Mawar sering sekali membuat masalah hingga Arjun yang akan turun tangan menyelesaikan masalah yang dibuat Omanya sedangakan Harun Papanya sama sekali tidak berkitik dan terkadang mengikuti semua keinginan Ibunya.
"Makanya si Arjun itu masih jomblo dan bujang tua, mana ada perempuan yang betah sama dia!" kesal Oma Mawar karena setiap kali ia mencoba menjodohkan Arjun pasti selalu gagal dan akhirnya menyerah karena Arjun mengancam akan fokus kepada perusahaan yang dirintisnya dari pada membantu mengembangkan usaha keluarga.
"Jadi kamu kesini mau apa?" tanya Oma Mawar menatap Ayunda dengan dingin membuat Ayunda menelan ludahnya.
tbc...