CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Suami?


Raka sangat kesal karena Adinda mencoba menggodanya sejak keluar dari cafe. Saat ini Adinda mengajak Raka untuk membelikannya tas dan beberapa barang-barang yang telah ia incar. Ia menghubungi teman-temannya dan meminta mereka untuk memesankan satu tiket tambahan dan berjanji akan membayarkan semua tiket bioskop mereka. Masih ada waktu satu jam sebelum


film dimulai dan Adinda berencana mengajak Raka untuk membelikannya beberapa barang yang ia inginkan.


"Om setelah Dinda pikir Om. Dinda udah bosan panggilin tunangan Dinda Om. Mulai hari ini dan seterusnya dalam jangka yang tidak bisa ditentukan, bahwa Raka tunangan Adinda calon suami kaya raya dan super duper tampan sejak hari ini kita akan berdamai. Dinda sebagai calon istri dari Raka Candrama akan memanggil Raka dengan panggilan sayang Kakanda!" ucap Adinda.


"Dinda jangan keterlaluan kamu, kalau orang-orang dengar kamu nggak malu?" tanya Raka sambil memegang tengkuknya karena malu. Apalagi saat ini beberapa orang melihat kearah mereka.


"Malu? Nggaklah Kakanda, Adinda nggak akan malu punya suami tampan kayak Kakanda!" goda Adinda menahan tawanya saat melihat ekspresi malu Raka. Sebenarnya ia juga geli dengan panggilan Kakanda.


Hahaha rasain Om, kalau Dinda panggil Om Kakanda kayak gini didepan rekan kerja Om gimana ya? Hahaha... hilang sudah wibawa Om sebagai laki-laki tampan yang dingin.


"Kanda sayang, Adinda pengen beli tas dan jangan pelit!" ucap Adinda tersenyum manis dan menunjuk toko yang ada disampingnya.


"Oke tapi kamu bisa jadi normal sedikit Dinda! jangan membuat saya malu!" kesal Raka.


"Ya ampun Kanda, Dinda selalu normal kok, buktinya Dinda suka sama Kanda kalau Dinda nggak suka sama Kanda, Dinda nggak akan manja kayak gini sama Kanda!" ucap Adinda memeluk lengan Raka.


Hahaha gue lebay dan alay banget... tapi nggak apa-apa gue suka ngeliatin wajah malu Kanda yang menggemaskan ini.


Adinda menarik tangan Raka agar mengikuti langkah kakinya menuju Toko yang ingin ia masuki. Dua orang karyawan tersenyum melihat Raka dan Adinda. "Kalau belanja jangan lama, pilih yang kamu mau dan jangan banyak berpikir!" ucap Raka.


"Oke Kakanda" ucap Adinda menahan tawanya sama halnya dengan kedua karyawan wanita itu yang juga menahan tawanya saat mendengar ucapan Adinda yang memanggil Raka Kakanda.


Adinda mengambil tas bewarna navy dan menujukkannya pada Raka. "Kakanda yang ini boleh? bagus nggak modelnya?" tanya Adinda. "Dinda suka yang ini Kanda, modelnya simpel bange!" ucap Adinda membuat wajah Raka memerah karena dua orang karyawan itu saling berbisik dan kembali tertawa mendengar ucapan Adinda.


Raka menarik tangan Adinda dengan kesal. "Beli aja yang kamu mau!" bisik Raka.


"Satu juta delapan ratus mbak" ucapnya.


Sebenarnya Raka tidak akan keberatan jika Adinda membeli tas dengan harga puluhan juta tapi Adinda adalah pribadi yang sederhana. Harga tas satu juta delapan ratus baginya sudah sangat mahal untuk ukuran harga tas yang biasanya ia beli.


"Iya mbak, Kanda bayarin dong!" ucap Adinda mengedipkan kedua matanya membuat Raka menatap Adinda dengan tajam lalu mengeluarkan kartu hitam miliknya.


Adinda tersenyum penuh kemenangan melihat kekesalan Raka. Adinda menggandeng lengan Raka dan menuju kekasir. Ia menyerakan kartu milik Raka kepada kasir. Adinda mengerutkan dahinya saat kasir wanita itu menatap Raka dengan tatapan penuh minta.


Ini laki gue... enak aja natap kayak gitu.


"Mbak kenapa lihatin suami saya? Mbak naksir ya?" tanya Adinda jenaka namun sebenarnya menusuk karena kasir itu merasa malu karena ketahuan menatap Raka secara terang-terangan.


"Suami mbak ganteng kayak aktor, tadi daya kira pemain sinetron" ucapnya.


"Makasi ya mbak!" ucap Adinda menggandeng tangan Raka.


Raka tersenyum senang karena Adinda menggandeng tangannya. "Kanda nggak boleh genit nanti ya kalau banyak cewek ngeliatin kanda!" ucap Adinda.


"Dinda, saya capek dengerin kamu panggil saya Kanda. kamu panggil saya Om aja kalau gitu!" ucap Raka.


"Nggak mau, Dinda tetap mau panggil Kakanda Raka" ucap Adinda menyebikkan bibirnya.


tbc...