
Tepat pukul sembilan jenazah sampai di Kediaman Aditya dan Elin. Keluarga besar mereka meminta agar jenazah segera dikebumikan. Isak tangis keluarga mengiringi kepergian Harun dan Sani. Sosok cantik yang sangat mencuri perhatian saat ini adalah Anggia. Anak bungsu Sani dan Harun ini terlihat sangat terpukul. Mata bengkak dan isak tangisnya membuat Elin memeluk keponakannya itu dengan erat.
Arjun tampak tegar dan memilih untuk terlihat kuat dan tabah. Arjun, Guna, dan Gemal memasukkan jenazah kedalam rumah peristirahatan terakhir Harun dan Sani. Langit mendung dan berangin seolah ikut merasakan apa yang dirasakan keluarga besar Elin saat ini. Sosok Oma Mawar tidak terlihat karena saat ini Oma Mawar masih belum sadarkan diri di ruang ICU Rumah Sakit Dirgantara. Kondisi Oma Mawar masih kritis karena beliau terkena serangan jantung.
Setelah jenazah Sani dan Harun dikebumikan dan didoakan saat ini semua keluarga bergantian menabur bunga. Arjuna menarik Gia kedalam pelukannya dan berbisik kepada adik bungsunya itu.
"Gia jangan nangis lagi ya, kasihan Mama dan Papa kalau kamu nangis terus!" ucap Arjun mengusap wajah Gia yang bersimbah air mata dengan jemarinya. Saat ini bagi Arjun hanya Gia yang tersisa untuk ia jaga dan ia lindungi. Adik satu-satunya yang ia miliki. Gia yang manja, ceria dan sering kali membuat Papa dan Mamanya pusing karena tingkah nakalnya tampak begitu terpukul.
"Hiks... hiks... Gia janji Kak nggak nakal lagi, nggak akan kabur ke Korea lagi, nggak akan jajan banyak sampai tagihan karti kredit Gia membengkak dan bikin Papa murka hiks... hiks..." ucap Gia.
"Iya dek, udah ya kamu kan masih ada Kakak, Mami Elin, Papi Adit, Kak Guna, Kak Gemal, Om Raka, Tante Adinda dan kedua kakak ipar kamu" ucap Arjun menujuk Vivian dan Ayunda yang saat ini tersenyum menatap Gia dengan mata yang membengkak.
Raka, Guna, Gemal dan Kalandra menatap Gia dengan tatapan sendu. Gia terlihat sangat rapuh dan tubuh kecilnya terlihat begitu lemah. Farhan menatap pusaran Harun dan Sani dengan sendu. Sudah lama ia tidak bertemu Harun dan Sani. Farhan bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk bernafas dan melihat para keluarganya yang lain. Gia menatap papan nama yang bertuliskan nama kedua orang tuanya.
Guna tahu Arjun butuh waktu untuk menenangkan hatinya dan meluapkan rasa sedihnya. Karena sejak jenazah sampai di Jakarta, Arjun tampak kuat dan tidak menangis didepan Gia dan Elin. Guna mendekati Gia dan membantu Gia untuk berdiri dan ia memapah Gia melangkahkan kakinya keluar dari pemakaman. Sedangkan Aditya merangkul Elin sambil melangkahkan kakinya keluar dari pemakaman diikuti para keluarga lainnya.
Saat ini hanya tersisa Arjun dan Gemal. Gemal sengaja tidak meninggalkan Arjun karena ia tahu Arjun sepertinya masih ingin berada didepan pusaran kedua orang tuannya. Arjun yang tadi hanya berdiri dan menatap dingin pemakaman kedua orang tuanya, tiba-tiba berlutut.
Arjun mengepalkan kedua tangannya dan perlahan air matanya tumpah. Gemal menatap sendu Arjun sambil menepuk punggung sepupunya itu. "Menangislah Arjun!" ucap Gemal.
Arjun meneteskan air matanya dan isak tangispun terdengar memilukan membuat mata Gemal berkaca-kaca dan akhirnya ikut meneteskan air matanya. Arjun saat ini memikul tugas yang berat sebagai seorang Kakak, tulang punggung keluarga dan juga pemimpin perusahaan ribuan karyawan. Kenyataan pahit harus ia terima dan mulai saat ini tak akan ada lagi tempatnya untuk mengadu kepada Papanya. Tak ada lagi Mama yang selalu tersenyum melihatnya dan memeluknya dengan hangat.
tbc..