
Adinda merasa sedikit canggung saat ini. Apalagi mulai saat ini ia memang harus terbiasa ikut arisan bersama ibu-ibu wali murid sekolah anaknya, para sosialita bisnis suaminya dan juga persatuan para karyawan Candrama grup.
"Ayo jeng silahkan bergabung bersama kami!" ucapnya. "Perkenalkan saya Merisa," ucapnya mengulurkan tangannya.
"Adinda," ucap Adinda tersenyum sambil menyambut jabatan tangannya dan Merisa mencium pipi kanan dan kiri Adinda
"Ayo jeng Adinda duduk disana!" ucap Merisa meminta Adinda duduk di kursi kosong.
Meja panjang ini telah terdapat banyak makanan yang telah dipesan oleh pemenang arisam sebelumnya. Adinda menatap disekelilingnya dan semua ibu-ibu disini terlihat kaya raya. Apalgi beberapa ibu sibu membicarakan harga berlian yang mereka pakai. Adinda hanya mengunakan anting dan cincin kawinya. Ia juga tidak tahu harga periasan yang ia pakai karena yang membelikannya adalah suaminya.
"Jeng Monic berapa harga cincinnya? gede banget pasti mahal," ucap seorang ibu muda yang wajahnya sangat terawat dan Adinda bisa menebak jika ibu muda ini kemungkinan melakukan operasi diwajahnya.
"Murah jeng 20 juta aja," ucapnya.
"Ya ampun jeng murah ternyata ya, ini Jeng Monic tas terbaru saya harganya juga murah 55 juta aja," ucap Elysa
Adinda menatap perempuan cantik bernama Elysa dan ia bisa menduga bagaimana sikap sombong Elysa "Cantik ya jeng kayak barbie namanya Elysa," ucap Merisa. "Dia itu teman akrab anakmu lo Jeng, Maminya Nisa" bisik Merisa kepada Adinda.
Harga fantastis yang diucapkan Monica dan Elysa bagi Adinda sangat mahal. Adinda menyadari ia dari kalangan keluarga menengah dan ia menganggap membeli barang-barang mewah yang mahal membuatnya pasti mengerutkan dahinya, walaupun suaminya bahkan mampu untuk membayar apa yang ia inginkan.
"Jeng Monic, jeng Elysa kenalin ini ibunya Felisa Candrama!" Merisa.
Keduanya menatap Adinda dengan tatapan menyelidik seperti ibu-ibu wali murid lainnya yang sejak kedatangan Adinda menatap Adinda dengan tatapan penasaran. "Adinda," ucap Adinda tersenyum ramah.
"Kamu beneran Mamanya Felisa?" tanya Elysa.
"Iya," ucap Adinda.
"Felisa itu aktif banget ya Jeng kemarin itu rambut Nisa sampai ditarik-tarik. Jahilnya kebangetan dia. Jeng sibuk ya sampai anaknya nggak diperhatiin? Apalagi setiap pertemuan kita Jeng selalu absen gitu. Anak Jeng perlu dikasih tahu Jeng biar nggak kurang ajar," ucap Elysa.
Adinda kesal mendengar ucapan Elysa, Mami rempong seperti Elysa memang sangat menyebalkan. "Anak saya itu Jeng, selain cantik, pintar dia nggak suka gangguin orang lain. Lagian kalau anak kecil berantem biasa Jeng, paling nanti main lagi gitu!" ucap Adinda menunjuk Felisa dan Nisa yang sedang bermain dengan teman-temannya. "Kalau saya mah nggak ambil hati kalau anak saya yang masih kecil berantem, saya ngajarin anak saya kok. Tiap hari pulang sekolah pasti waktu saya untuk anak-anak saya. Apalagi suami saya juga ikut membantu menjaga anak-anak kami," jelas Adinda.
"Saya itu sebenarnya kurang suka anak saya bermain sama anak anda jeng yang asal usulnya itu nggak tahu keturunan dari mana. Lagian Felisa itu nakal banget, udah diperingatin jangan main sama anak saya bebal banget masih juga main sama anak saya!" ucap Elysa.
Merisa berbisik ditelinga Adinda "Nggak usah dilayanin Jeng," ucap Merisa.
"Nggak tahu saya Jeng berapa harganya, suami saya soalnya yang pilih," ucap Adinda.
"Selera suami anda pasti sangat berkelas," ucap Monica.
"Jeng Monic, saya lihat jeng cincinnya biasa aja tuh," ucap Elysa seakan tidak terima dengan cincin Adinda yang harganya mahal seperti perkiraan Monica.
Tiba-tiba Nisa menangis dan ia mendekati Elysa lalu memeluk Elysa. "Mami, Feli jahat banget sama Nisa, Mi hiks...hiks..." tangis Nisa membuat Elysa menatap sinis Adinda.
"Putri Jeng dan anak Jeng Merisa memang sering banget buat anak saya ini nangis, makanya Jeng anaknya diajarin dong!" kesal Elysa.
"Feli sini nak!" panggil Adinda membuat Felisa mendekatinya dengan wajah sendu menahan tangis.
"Bunda Feli nggak salah hiks...hiks... Nisa ngajak main keluar, Feli nggak mau soalnya kata Bunda Feli nggak boleh main jauh-jauh," tangis Felisa pecah karena takut Elysa dan Adinda memarahinya.
Adinda mengangkat tubuh Felisa keatas pangkuannya dan menghapus air mata Felisa. "Bunda nggak marah sama Feli kok, Bunda hanya mau tanya kenapa Felisa berantem sama Nisa?" tanya Adinda.
Danis putranya Merisa mendekati mereka "Nisa yang salah, Nisa kalau marah sama Felisa dia ngejekin Felisa anak pungut. Katanya Felisa itu anak panti," ucap Danis membuat Adinda menatap Felisa dengan sendu. Matanya berkaca-kaca karena sungguh ia kecewa. Anak sekecil itu sudah berani mengatakan kata-kata kasar terlebih lagi yang di bully adalah putri kecilnya.
"Jeng Elysa, jeng harus bisa menjaga cara bicara Jeng kalau bersama putri Jeng. Itu pasti Jeng yang bilang tentang Felisa makanya anak Jeng jadi begitu ngejekin Felisa," ucap Merisa.
Adinda menghembuskan napasnya "Dia putri saya dan anda tahu kalau Ayahnya tahu putrinya sering anda marahin atau bahkan diejek anak pungut, Ayahnya tidak akan segan membawa permasalah anak kita ini ke urusan pribadi yaitu urusan bisnis," ucap Adinda.
"Anda berani mengacam saya? anda pikir anda siapa? anda tidak tahu siapa saya?" tanya Elysa geram. Ia selalu dimanjakan oleh orang tuanya yang memang berasal dari keluarga kaya. Ia tidak suka melihat Adinda karena Adinda pasti akan menjadi sosok saingannya sama seperti Monica. Pesona Adinda yang menarik membuatnya kesal.
"Saya akan melaporkan masalah ini kepada suami saya! tunggu saja!" ucap Elysa membuat Monica menyenggol siku Elysa.
"Ely dia itu istri... "
"Saya tidak takut Jeng, suami saya pasti akan membela saya!" ucap Elysa segera menghubungi suaminya.
Guru wali kelas yang baru saja datang menatap keributan itu dengan tatapan penasaran. "Ada apa Bu?" tanyanya bingung namun mereka semua saat ini masih menatap ke arah Adinda dan Elysa.
"Bukan hanya anda yang memiliki suami Jeng Elysa. Saya juga akan menghubungi suami saya!" ucap Adinda.