CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Raka murka


"Lo yakin Vi bakalan bisa cepat menyelamatin gue?" ucap Adinda ragu untuk menceburkan dirinya kedalam kolam.


"Lo tenang aja Din!" ucap Vivian menatap Adinda dengan tatap serius dan menyakinkan Adinda kalau ia pasti bisa segera menyelamatkan Adinda.


Adinda menyetujui rencana Vivian dan saat ini keduanya bersiap untuk segera melakukan drama mereka. Adinda berpura-pura terjatuh dan tercebur kedalam kolam renang. "Dinda..." teriak Vivian terlihat panik mencari Adinda dan membuat Raka dan lainnya terkejut.


"Mas Raka, saya ingin... " ucapan Luna terhenti saat melihat Raka berlari dengan cepat menuju kolam renang.


Raka menceburkan dirinya dan segera mencari keberadaan Adinda sama seperti Vivian yang juga mencari keberadaan Adinda, namun Raka ternyata lebih cepat mendapatkan Adinda ia memeluk tubuh Adinda dan membawa Adinda ke tepi kolam. Raka keluar dari kolam renang sambil menggendong Adinda. Mata Adinda yang terpejam membuat Raka segera membaringkan Adinda dilantai dan memangkunya.


"Dinda..." panggil Raka.


Ayunda, Guna, Gemal dan Vivian mendekati Adinda yang saat ini sedang terbaring dan kepalanyanya tidur dipangkuan Raka.


"Dinda" panggil Ayunda telihat sangat terkejut melihat keadaan adik bungusnya itu yang terkulai lemah.


Raka menepuk pipi Adinda agar Adinda segera sadar. Vivian tersenyum membuat Gema lmenatap dingin dan curiga dengan apa yang terjadi. Ia merasa ada sesuatu yang telah dilakukan Vivian saat ini hingga membuat Vivian terlihat senang.


"Dinda..." panggil Raka lagi.


Gemal mendekati Adinda dan mencoba memeriksa Adinda dan mata tajamnya menatap Vivian dengan tatapan sulit diartikan. Vivian memilih menundukkan kepalanya saat melihat matanya bertemu dengan mata tajam milik Gemal.


Gemal menekan hidung Adinda hingga Adinda kembali tersedak dan kemudian terbatuk. Adinda membuka matanya dan melihat wajah Raka yang saat ini sangat dekat dengannya.


"Dia baik-baik saja Om!" ucap Gemal membuat Raka dan yang lainnya merasa lega.


Tanpa kata Raka menggendong Adinda dan membawa Adinda bersamanya menuju lantai dua. Guna menepuk pundak Vivian. "Vi ikuti Om Raka!" ucap Guna. Ia kemudian memeluk Ayunda mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sangat kahwatir dengan keadaan Adinda.


"Adinda nggak apa Mbak, itu kayaknya hanya akal-akalan dia sama Vivian" bisik Gemal. Karena dia tahu kemampuan berenang Vivian dan juga tahu isi kepala istrinya yang licik itu. Gemal yakin apa yang dilakukan Adinda tadi dengan berpura-pura jatuh adalah saran dari istri liciknya.


"Serius Gem? kamu nggak bohongkan?" tanya Ayunda.


"Nggak Mbak, Gemal berbicara faktanya karena Vivian tersenyum tadi saat melihat Adinda tidak sadarkan diri" bisik Gemal.


Saat ini Luna dan Lastri terlihat kesal karena Raka meninggalkan mereka begitu saja hanya karena Adinda. Lastri bersihkeras untuk menjodohkan Luna agar ia kelak mampu mengendalikan Raka jika Luna yang menjadi istri Raka. Lastri telah mendengar kabar jika aset keluarga Candrama telah Farhan bagi dua kepemilikannya yaitu atas nama kedua putra tersayangnya Aditya dan Raka. Karena Aditya memilih untuk berkarir sebagai seorang dokter maka kepemilikannya perusahaan jatuh ke tangan Guna. Sedangkan beberapa poperti milik Farhan diberikan untuk Vivian dan Gemal.


Pengorbanan Lastri untuk mendapatkan sebagian harta Farhan ternyata sia-sia saat itu karena ulahnya yang telah hamil dengan laki-laki lain saat Raka berumur tiga tahun. "Luna kamu harus bersabar menghadapi Raka. Dia sama seperti Papinya tapi jika kau berhasil membujuknya untuk menikahimu dia pasti akan menuruti semua keinginanmu!" bisik Lastri.


"Iya Mi, saya akan berusaha menarik perhatian Mas Raka!" ucap Luna tersenyum manis.


Guna kembali duduk bersama Ayunda menikmati pemandangan sore. Sedangakan Gemal mencari keberadaan istrinya dan diikuti Luna dan Lastri. Sebenarnya Gemal kesal melihat kedua wanita ular ini mengikutinya namun ia mencoba mengormati Lastri karena walau bagaimanapun Lastri adalah wanita yang melahirkan Omnya.


"Gem, Tante masih ingin bertemu Raka karena ada yang mau Tante sampaikan kepada Raka!" jelas Lastri.


*Tante? kau itu Nenek tidak pantas dipanggil Tante... Kau menikahi Kakekku berarti Kau nenekku walaupun kau sebaya dengan Papi dan Mamiku.


"Ikut aja Nek, Gemal mau kesana juga cariin istri Gemal!" ucap Gemal tersenyum ramah namun tidak dengan Lastri terlihat kesal karena Gemal memanggilnya nenek.


Mereka melangkahkan kakinya menuju kamar Adinda yang terletak dilantai dua. Terlihat Vivian baru saja keluar dari kamar Adinda. Vivian baru saja membantu Adinda mengganti pakaiannya atas permintaan Raka.


"Raka... " ucap Lastri menggeser tubuh Vivian yang berdiri depan pintu hingga membuat Vivian hampir terjatuh jika saaja Gemal tidak mendekati Vivian dengan cepat dan menahan tubuhnya.


Tok... tok...."Raka!" panggil Lastri.


Gemal sangat kesal dengan tingkah Lastri yang menodorong tubuh istrinya hingga istrinya itu hampir saja terjatuh. Ingin sekali rasanya Gemal mengusir Lastri sekarang juga.


"Raka, Mami ingin bicara sama kamu!" teriak Lastri.


Raka keluar dari kamar Adinda dengan menatap Lastri dengan tajam lalu tanpa berkata apapun Raka melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan kasar lalu menguncinya. Raka mengganti pakaiannya yang basah dan kemudian segera keluar dari kamarnya, karena Lastri tidak berhenti mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Raka dingin.


Saat ini Gemal dan Vivian tidak terlihat dikoridor, karena Keduanya telah pergi ke kamar mereka. Raka kesal dengan dua wanita yang saat ini ada dihapannya ini.


"Raka kamu jangan ikuti kemauan Papimu itu yang mau menjodohkan kamu dengan wanita itu. Dia tidak sepadan dengan kamu nak, Luna yang cantik ini lebih cocok mendampingimu!" ucap Lastri.


Raka menatap sinis Lastri "Kamu tidak berhak mengatur hidup saya! Kamu memamang wanita yang melahirkan saya tapi kamu bukan ibu yang membesarkan saya. Saya ingatkan untuk tidak ikut campur dengan kehidupan pribadi saya atau perusahaan keluargamu itu akan saya hancurkan!" ucap Raka dingin.


Kesabarannya telah habis saat ini apalagi Luna selalu menghububhinya bahkan berani mengatakan kepala teman-temannya sesama dosen jika ia memiliki hubungan yang tidak biasa dengan dirinya.


"Dan kau Luna, saya harap kau sadar diri, kita hanyalah rekan kerja dan tidak memiliki hubungan apapun! Saya telah memiliki calon istri dan saya tidak ingin menyakitinya!" ucap Raka.


"Raka, Mami mohon nak dengerkan nasehat Mami!" ucap Lastri.


Raka tersenyum sinis "Apa pantas seorang ibu yang meninggalkan keluarganya demi mendapatkan kesenangan hidupnya, menasehati anaknya yang pernah datang datang menemuinya, untuk mengatakan jika dirinya adalah putramu. Tapi apa? kau kembali mengusirnya dengan kasa!" ucap Raka mengingatkan kejadian masalalunya saat remaja yang datang ke rumah Lastri dan hanya merindukan pelukan Lastri tapi segera diusir Lastri, dengan kejam.


"Raka kamu nggak boleh bicara seperti itu pada Mamimu!" ucap Luna.


"Kau tidak usah ikut campur urusan saya!" ucap Raka menatap Luna dengan tatapan penuh emosi membuat Luna terdiam.


"Yang kau inginkan hanya uang, saya akan membantu perusahaan anda Nyonya tapi anda berhenti datang kekediaman


keluarga saya dan juga berhenti mengganggu hidup saya!" ucap Raka membuat Lastri terdiam dan terduduk.


"Pergi dari sini sekarang juga!" ucap Raka membuat Luna menatap Raka dengan kesal.


Aku tidak akan melepaskanmu Raka, jika aku tidak bisa mendapatkanmu maka wanita itu juga tidak pantas untukmu!


tbc..