CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Penasaran


Guna, Ayunda, Elin dan Adinda pergi menjemput Ghavin. Sejak tadi Ayunda tersenyum karena akhirnya ia bisa memeluk buah hatinya itu setiap malam. "Cucu pertama mami ini Gun, jadi Mami sekarang udah jadi nenek-nenek" ucap Elin.


"Iya jadi Mami bisa memanin Ghavin di rumah, rumah kita kan dekat ya Mi!" ucap Ayunda.


"Iya untung saja Guna nikahnya sama kamu Yu, kalau sama Vivian Guna tambah pendiam. Sekarang Mama pusing kalau Vian dan Gemal ada dirumah, mereka itu berantem terus Vian diam Gemal tambah ngamuk" jelas Elin prihatin dengan rumah tangga anak bungsunya itu.


"Gemal itu orang humoris ya Mi, tapi kalau marah kayaknya mengerikan banget ya Mi?" tanya Adinda.


"Iya, Gemal itu orangnya keras kepala susah dibilangin!" ucap Elin. "Istri pintar kayak Vian itu disuruh kerja di rumah biar bisa ngerasain hidup susah. Kadang Mami kasihan sama Vian tapi ya gimana lagi itu kan rumah tangga mereka Mami nggak mau ikut campur. Kakek aja dilawan Gemal apalagi Mami" ucap Elin.


"Gemal itu hanya ingin Vivian berubah tapi mungkin caranya sedikit berlebihan!" ucap Guna sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di Rumah sakit "Duduk kursi roda aja ya Mbak biar nggak capek!" ucap Adinda.


"Nggak usah, Mbak udah bisa jalan kok, lagian jahitannya udah sembuh" ucap Ayunda.


"Duduk saja nggak usah banyak protes!" ucap Guna segera mengambil kursi roda dan kemudian mendorongnya menuju ruang perawatan Ghavin.


Mereka semua berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang perawatan Ghavin, Guna menemui dokter Gio yang telah membantu persalinan Ghavin. Sedangkan Elin, Adinda dan Ayunda saat ini sedang berada diruang perawatan Ghavin dan melihat suster yang sedang menggendong Ghavin mendekati Ayunda. Tanpa Ayunda sadari ia sangat haru dan menteskan air matanya melihat sosok Ghavin yang saat ini berada didalam pelukannya.


"Ghavin sayang ini Mama" ucap Ayunda serak membuat Elin teharu dan ia ikut meneteskan air matanya melihat Ghavin cucu pertamanya itu. Tubuh Ghavin tidak sekecil saat ia dilahirkan. Mata Ghavin yang mengerjap membuat Ayunda, Elin dan Adinda tersenyum takjub.


"Ghavin itu nenek dan itu Bunda!" ucap Ayunda.


"Aduh jadi ke pengen punya bayi juga Dinda Mbak!" ucap Adinda membuat Ayunda tersenyum.


"Sini sama Nenek!" ucap Elin merentangkan tangannya dan Ayunda segera menyerahkan Ghavin kepada Elin. "Ayu Ghavin ini mirip sekali sama Guna sewaktu bayi. Ganteng dari lahir ta Vin!" ucap Elin.


"Iya Mi, Ayu kebagian dikit hanya bibirnya ya Mi yang mirip Ayu!" ucap Ayu.


"Jelas mirip Mas Guna nggak mungkin mirip anak tetangga Mbak, untunh mirip Mas Guna kalau mirip mbak semua bisa jadi cowok cantik dianya" goda Adinda membuat Ayunda mencubit lengan adiknya ini yang sangat suka membuatnya kesal.


"Aw... mbak sakit tahu!" kesal Adinda.


"Mas Guna nggak bolehin Ayu kerja ini itu, masa ke ruangan Ghavin aja Ayu harus naik kursi roda. Mas Guna jadi lebay banget karena keturalan Dinda ini!" kesal Ayunda.


"Kok keturalan Dinda? memang lebay itu penyakit menular apa? ngarang aja Mbak Ayu, Dinda mana ada lebaynya. Dinda itu nggak lebay, yang bilang Dinda lebay itu hanya hoak doang!" ucap Adinda membuat suster yang masih berada diruangan ini tertawa mendengar ucapan Dinda.


"Masih diruangan Dokter Gio. Ternyata Dokter Gio itu masih kerabatnya teman bisnisnya Guna, Kenta kalau nggak salah Mami namanya. Jadi mungkin ngobrolnya agak lama" jelas Elin.


"Ghavin cakep banget anak siapa Ghavin? anaknya Adinda sama Raka ya?" goda Adinda membuat Ayunda memukul lengan adiknya itu membuat Adinda terkekeh "Becanda Mbakku emosian banget sih" goda Adinda.


"Dinda panggil Mas Guna, jangan lama-lama ngobrolnya kan kita mau pulang ya nak!" ucap Ayunda mencium dahi Ghavin yang saat ini berada digendongan Elin.


"Nanti Mbak biarkan Mas Guna berbincang sama penyelamat Mbak!" ucap Adinda sambil menatap ponselnya.


Adinda sejak tadi mencoba menghubungi Raka namun ponsel Raka tidak aktif membuat Adinda merasa khawatir. "Din coba deh kamu lihat Mas Guna!" ucap Ayunda membuat Dinda segera berdiri dan mencari keberadaan Guna yang saat ini berada diruangan Doktef Gio.


Adinda melangkahkan kakinya dan ia seperti familiar dengan punggung yang saat ini berjalan dengan cepat. "Om Raka... " ucap Adinda. Ia bingung dan penasaran kenapa Raka berada disini saat ini dan juga ponsel Raka yang tidak aktif.


"Apa gue salah lihat ya" ucap Adinda.


Adinda menghela napasnya dan berusaha meyakinkan dirinya jika itu bukanlah Raka. jika dia itu adalah Raka, mungkin Raka saat ini sedang mengunjungi seseorang disini. Adinsa merasa ada sesuatu yang salah dihatinya saat ini yaitu rasa cemburu dihatinya. Adind menghela napasnya karena ia penasaran tentang siapa yang sedang dikunjungi Raka disini. Adinda melihat Guna yang melangkahkan kakinya mendekatinya.


"Kak, Mbak Ayu udah nggak sabar pengen pulang!" ucap Adinda.


"Ayo kita pulang!" ucap Guna.


Adinda sangat penasaran dan ia ingin mencari tahu siapa yang dikunjungi Raka saat ini. Jantungnya sejak tadi berdetak dengan kencang seiring pikiran buruk yang saat ini sedang menghantuinya. "Kak Dinda pulang sendirian aja, Dinda ada urusan disini!" ucap Adinda.


"Kamu mau kemana?" tanya Guna.


"Tadi Dinda ngeliat Om Raka disini, Dinda mau lihat itu Om Raka apa bukan. Soalnya ponsel Om Raka nggak diangkat Kak!" jelas Adinda.


"Oke kamu hati-hati ya Din!" ucap Guna.


"Iya Kak!" ucap Adinda. Melangkahkan kakinya dengan cepat dan segera mencari keberadaan Raka.


tbc...


jangan lupa jempol, komentarnya dan vote. kalau votenya meningkat dan naik rangking seperti biasa aku bakal update lebih dari dua 😆😆