
Adinda merasakan perutnya begerak dan ia tersenyum karena takjub dengan pergerakan bayinya. Ia mengusapnya lembut perutnya dan itu tak luput dari perhatian Raka. Raka menepati janjinya untuk menjadi sosok Ayah yang siaga. Ia bahkan meminta pekerjaannya dipindahkan di Rumah dan para asistennya yang akan datang ke rumah membawa berkas yang harus ia tanda tangani.
Ratna dan Bagas dua hari yang lalu baru saja pulang ke Rumah mereka setelah menginap disini selama satu minggu dan mereka juga membawa Felisa bersama mereka. Raka meletakkan berkasnya dan duduk disebelah Adinda. "Kamu lapar?" tanya Raka.
Adinda tersenyum mendengar pertanyaan Raka "Iya kita lapar Yah, Ayah mau ajak Bunda makan dimana?" tanya Adinda.
"Bunda mau makan dimana?" tanya Raka lembut.
Raka telah memahami sikap Adinda yang berubah menjadi manja dan lembut sejak hamil buah hatinya. Raka berusaha memanjakan Adinda dan sedikit demi sedikit berusaha menjadi romantis. "Makan di warung tenda tempat nongkrong anak muda gitu mau nggak Yah?" tanya Adinda.
"Oke," ucap Raka. Dulu saat kuliah dia bahkan pernah membuat usaha pecal lele bersama teman-temannya didekat kampus. Ilmu Ekonomi telah ia lakukan sejak dulu dan ia terapkan. Tidak ada kata malu bagi Raka Candrama untuk memulai usahanya walau dengan modal sedikit. Namun yang pasti Raka bisa membuat usahanya bersama teman-temabnya sukes hingga mereka bisa membayar uang kuliah mereka sendiri.
Adinda hanya memakai daster rumahan tanpa lengan membuat Raka segera mengambil jaket dan memakaikannya ketubuh Adinda. "Biar nggak kedinginan," ucap Raka membuat Adinda menganggukkan kepalanya.
Raka menggenggam tangan Adinda dan menuntun Adinda keluar dari rumah. Farhan telah beristirahat lebih awal dan Raka memilih untuk mengatakan kepada salah seorang maid tentang kepergiaannya jika nanti Farhan bangun dan menanyakan keberadaannya dan Adinda.
Raka membukakan pintu mobil untuk Adinda dengan pelan ia membantu Adinda masuk kedalam mobil. Ia kemudian menutup pintu mobil dan melangkahkan kakinya menarik handel pintu mobil lalu duduk di kursi pengemudi. Raka menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Adinda melirik Raka yang selalu terlihat tampan baginya. Raka memegang tangan Adinda dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi, mengendalikan stir kemudi. Raka mencium tangan Adinda membuat Adinda tersipu malu.
"Masih malu aja ya Din?" ucap Raka melirik istrinya yang terlihat menggemaskan dan ia kemudian menyunggingkan senyumannya.
"Kalau diromantisin sama si Om pastilah Dinda malu-malu mau gitu hehehe..." kekeh Adinda.
"Udah lama nggak dipanggil Om," ucap Raka
"Jadi mau nih dipanggil Om?" tanya Adinda membuat Raka melepaskan genggaman tangannya dan kemudian mengelus kepala Adinda dengan lembut.
"Udah nggak bisa dipanggil Om, nanti didengar Felisa dan dedeknya. Tapi kalau kamu rindu sama si Om boleh-boleh aja," ucap Raka.
"Nggak mau Dinda lebih suka panggil Kakanda atau Ayahnda," ucap Adinda membuat Raka tersenyum. Ia berusaha memaklumi sikap istrinya yang suka menggodanya agar membuatnya kesal. "Ih... kok senyum sih biasanya marah sama Dinda, Kakak ngomel dong kan Dinda udah lama nggak diomelin," ucap Adinda.
Raka hanya kembali mengelus kepala Adinda dengan lembut. Tentu saja ia tidak akan mau memarahi istrinya karena Raka ingin menjaga istrinya. Mobil memasuki kawasan kuliner dan Adinda tersenyum melihat lampu-lampu kelap kelip yang berada di tempat itu. "Tempatnya bagus walau di lapangan," ucap Adinda.
"Terimakasih Ucok," ucap Raka.
"Kakak kenal ya sama pemilik tempat ini? ini sih warung tendanya berkelas," ucap Adinda.
"Pak Raka yang punya Bu," ucapnya.
"Hah? serius? wah... bisa makan disini gratis dong," ucap Adinda membuat Raka menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita duduk disana!" ucap Raka menujukan dua buah kursi yang telah disiapkan Raka.
Tempat kuliner ini sangat luas dan memiliki berbagai macam kuliner nusantara dengan harga yang murah. Pantas saja suaminya ini dikenal dengan kehebatanya dalam merancang bisnis. "Ramai banget Kak," ucap Adinda.
"Disini makananya murah dan enak makanya rame tapi nggak ada makanan barat disini!" ucap Raka.
"Dinda juga lagi nggak mau makanan barat Dinda maunya makan soto betawi," ucap Adinda membuat salah seorang karyawan segera mencatan makanan yang diinginkan Adinda.
"Apalagi?" tanya Raka.
"Pempek," ucap Adinda. "Loh Kakak mau pesan apa?".
"Rujak," ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya.
"Udah malam gini makan rujak nanti sakit perut, lagian memang ada rujak disini?" tanya Raka.
"Ada Bu," ucap karyawan itu.
"Kakak ngidam ya?" tanya Adinda.
Raka menggelengkan kepalanya "Nggak," ucap Raka.
"Nggak mungkin dari dulu kakak doyan makan rujak," ucap Adinda. "Kakak nggak usah bohong kalau ayahnya ikut ngidam berarti ayahnya sangat-sangat cinta sama bundanya. Dek, ternyata Ayah itu cinta banget sama Bunda, masa sampai sekarang masih ngidam makan rujak hehehe... Ayah lucu ya dek!" ucap Adinda sambil mengelus perutnya dengan lembut.