CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Pipi Adinda sakit


Raka segera membawa Felisa menuju kamarnya, saat ini ia sedang berusaha mengendalikan emosinya. Ingin sekali rasanya membuat keluarga Hartono hancur karena salah mendidik dan membesarkan putrinya. Raka membaringkan Felisa ke atas ranjang dan ia merapikan selimut Felisa, lalu mencium dahi Felisa dengan lembut. Sejak Felisa memanggilnya Ayah, ia telah berjanji akan membesarkan Felisa seperti putri kandungnya sendiri.


"Ayah dan Bunda sayang kamu nak," ucap Raka mengelus kepala Felisa dengan lembut.


Raka melangkahkan kakinya keluar dari kamar Felisa dan meminta pengasuh Felisa untuk menjaga Felisa. Raka menuruni tangga dan menuju ruang kerjanya yang terdapat dilantai satu, sedangkan Adinda saat ini berada dikamar mereka untuk membersihkan dirinya. Raka telah meminta Adinda untuk menemuinya di ruang kerjanya setelah Adinda mandi.


Saat ini Adinda telah memakai daster kebanggaannya. Ia mendekati cermin dan terkejut saat melihat pipinya terlihat membengkak. Apalagi saat Adinda menggerakan pipinya, ia merasakan sakit. Adinda meneteskan air matanya karena sepertinya ia akan sulit mengunyah makanan.


"Padahal Mama tadi nganterin pindang iga, gimana mau makan kalau gerakin bibir aja sakit gini," lirih Adinda.


Adinda menatap senduh wajahnya karena wajahnya terlihat lucu saat ini. Bagaimana tidak, pipi sebelah kanannya terlihat sangat membengkak. "Tangan si nenek sihir jahat banget ya, aduh kok sakit gini tadi nggak sesakit ini," ucap Adinda.


Adinda melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju ruang kerja suaminya. Ia menghembuskan napasnya karena untung saja Felisa putrinya telah terlelap saat ini. Jika tidak, anaknya itu pasti menangis melihat pipinya yang membengkak seperti ini. Adinda masuk kedalam ruang kerja tanpa mengetuk pintu, ia melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Raka.


"Kak sakit banget pipi Dinda kak," adu Adinda dan ia terisak membuat Raka mengeraskan rahangnya.


Semenjak melahirkan Rayhan, Adinda memang terlihat sangat manja kepada Raka karena Raka selalu memberikan perhatian lebih padanya. Apalagi setiap tiga jam sekali Raka pasti akan menghubungi Adinda untuk menanyakan kabar Adinda, Rayhan, Felisa dan juga Farhan. Raka mendekati Adinda dan ia memegang pipi Adinda.


"Sakit Kak..." lirih Adinda dan matanya berkaca-kaca ia sulit membuka mulutnya dengan lebar.


Raka mengajak Adinda duduk disofa bersamanya dan kemudian ia memeluk Adinda sambil mengelus punggung Adinda. "Kenapa jadi bengkak gini Kak, pada hal Dinda lapar mau makan pindang iga buatan Mama!" ucap Adinda membuat Raka menghela napasnya.


"Kita kerumah sakit ya!" ucap Raka.


"Telepon Kak Adit atau Gemal aja Kak, tanyain obatnya apa. Dinda males ke Dokter lain kak!" ucap Adinda.


"Dokter praktek kan ada didekat sini, kalau Kak Adit atau Gemal kita kasih tahu nanti mereka datang kesini semua Dinda. Kita jadi ngerpotin mereka, udah ayo kita ke Dokter lain saja!" ucap Raka. Raka tahu jjka Adit dan Gemal baru saja pulang dari rumah sakit. Jika ia memberitahukan pipi Adinda yang membengkak akibat keributan bersama Elysa, keluarganya pasti akan khawatir dan mereka semua segera datang saat ini juga.


"Dinda malas ganti baju Kak!" ucap Adinda.


"Kakak bantu kamu ganti baju!" ucap Raka.


"Idih emang yakin nanti masih ke Dokter kalau gantiin baju Dinda? aduh... sakit," ucap Adinda.


"Nggak usah banyak bicara Dinda!" perintah Raka.


"Gendong Kak," ucap Adinda.


"Mumpung anak lagi tidur jadi mau dimajain suami," ucap Adinda membuat Raka tersenyum.


Raka mengambil jaketnya yang tergantung di dalam ruang kerjanya ini dan ia memakaikannya kepada Adinda. "Nggak usah ganti baju!" ucap Raka. Ia kemuidan tersenyum dan segera menggendong Adinda membuat Adinda terkekeh.


"Kamu kalau jelek gini ya Din, Kakak kok jadi tambah sayang," ucap Raka sambil melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Candrama menuju mobilnya.


"Mana ada suami tambah sayang kalau jelek, jangan ngarang Kak!" kesal Adinda membuat Raka terkekeh.


"Ambil kuncinya!" pinta Raka.


"Dimana?" tanya Adinda.


"Di saku celana Kakak!" pinta Raka.


"Itu kan dekat daerah rawan bencana Kak," ucap Adinda membuat Raka menghela napasnya.


"Bencana apa, itu aset berharga..." ucapan Raka terhenti saat Adinda segera turun dari gendongannya.


"Dinda turun aja deh!" ucap Adinda.


Raka tersenyum dan ia kemudian meronggoh saku celananya lalu mengambil kunci mobilnya. Raka menekan remote kunci dan ia segera menarik handel pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil diikuti Adinda yang juga segera masuk ke dalam mobil. Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kak, minta obatnya yang bagus biar habis ini Dinda bisa makan!" ucap Adinda.


"Lain kali kalau ada yang ngajak Dinda berantem Dinda pura-pura kalah aja ya Kak atau Dinda pura-pura pingsan, dari pada muka Dinda bengkak kayak gini Kak. Dinda mau belajar kumfu Kak!" ucap Adinda membuat Raja terkekeh karena suara Adinda seperti tertahan. Adinda yang sulit membuka mulutnya membuat suara terdengar lucu ditelinga Raka.


"Kok ketawa?" kesal Adinda.


" Hehehe...diam makanya Din! " pinta Raka membuat Adinda menuruti ucapan Raka dan memilih menatap jalanan.


Adinda kesal karena Raka ternyata membawanya ke Rumah Sakit, bukan ke Dokter praktek seperti keinginannya. Suster mendekatinya dan melihat pipi Adinda membiru. Ia berbisik kepada Adinda sambil menatap kearah Raka.


"Mbak suaminya ganteng amat tapi sayang ya suka mukul," ucap Suster itu membuat Adinda melototkan matanya karena terkejut dengan ucapan suster itu.