CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Kebahagiaan Raka dan Adinda


Setelah dibersihkan Adinda nantinya akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Ratna sangat khawatir saat mengingat bagaimana proses Ayunda melahirkan Ghavin dan ia takut Adinda akan mengalami hal yang sama seperti Ayunda yang hampir kehilangan nyawanya. Tapi untung saja Adinda telah melahirkan dengan proses yang tidak begitu lama. Adinda yang cuek mengabaikan rasa sakitnya hingga tanda-tada kelahiran berupa flek, ia anggap biasa. Pada hal sejak semalam ia telah mengalami rasa mulas namun ia tidak ingin mengkhawatirkan semuanya dan memilih untuk menggerakan tubuhnya agar mempercepat proses jalan lahir bayinya.


Raka yang khawatir memang selalu mengikuti Adinda kemanapun Adinda bergerak karena atas peritah Gemal yang menduga Adinda tidak akan lama lagi melahirkan. Terlihat lucu dan menggemaskan saat melihat tingkah Raka yang mengikuti Adinda saat itu. Rasa khawatir Raka sangat besar ketika melihat istrinya yang sedang hamil besar melangkahkan kakinya kesana-kemari di rumahnya. Bahkan Adinda sering turun tangga dengan alasan ingin mengambil sesuatu didapur.


Raka keluar dari ruang bersalin dengan ekspresi datar membuat mereka semua penasaran dengan keadaan Adinda. "Ka, gimana keadaan Adinda, udah lahir anak kalian?" tanya Ratna.


Raka menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. "Mereka sehatkan kan Ka?" tanya Ratna lagi dan Raka kembali menganggukkan kepalanya.


Guna menghela napasnya dan ia mendekati Raka lalu menepuk pipi Raka dengan berani. "Maaf Om, Guna hanya ingin menyadarkan Om yang sepertinya linglung," ucap Guna.


Raka mengerjapkan kedua matanya dan menatap keponakannya itu dengan senyum yang mengembang. "Aku udah jadi Ayah beneran Gun," ucap Raka.


"Jadi selama ini bukan Ayah beneran?" tanya Guna menaikan sebelah alisnya.


"Mas, Om Raka ini masih nggak percaya kalau dia udah punya bayi," ucap Ayunda membuat Raka menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Ayunda. Raka begitu takjub saat melihat wajah bayinya yang merupakan versi mini dirinya.


Vivian mendekati Raka dan memberikan sebotol air mineral kepada Raka "Minum dulu Om!" ucap Vivian. Raka segera mengambilnya dan meminum sebotol air mineral itu sampai habis, membuat mereka semua tersenyum termasuk Farhan yang sedang duduk dikursi roda yang didorong oleh Aditya.


"Bayinya cantik?" tanya Ayunda.


"Mirip Om Yu, ganteng," ucap Raka membuat mereka semuanya ikut bahagia.


"Wah...Ghavin punya teman main sekarang," ucap Ayunda


Ratna meneteskan air matanya karena haru dan ia memeluk menantunya itu sambil mengucapkan selamat. "Selamat Ka udah jadi Ayah, Mama sangat bahagia Ka" ucap Ratna.


"Iya Ma terimakasih," ucap Raka.


"Selamat nak," ucap Bagas.


"Iya Pa terimakasih," ucap Raka.


"Ka, Papi sangat bahagia, Papi masih diberi kesempatan untuk melihat kamu menikah dan punya anak," ucap Farhan terharu.


"Siapa nama cucu bungsu Papi?" tanya Farhan melepaskan pelukannya kepada Raka.


Raka ingat pembicaraanya bersama Adinda, istrinya itu meminta Raka yang memberikan nama untuk anaknya. Jika anak mereka perempuan, Raka akan memberi nama Rayya Adinra Candrama dan jika anak mereka laki-laki, Raka akan memberi nama Rayhan Adraka Candrama.


"Namanya Rayhan Adraka Candrama," ucap Raka membuat mereka semua kembali tersenyum.


"Rayhan namanya bagus, Papi suka Ka," ucap Farhan menepuk bahu putra bungsunya itu.


Gemal keluar dari ruang bersalin sambil tersenyum. "Adinda udah pindah ruangannya," ucap Gemal.


"Pak Dokter Gemal, ini ibu Vivian mau ikut program kehamilan Pak, masak Ibu Vivian dan suaminya belum nggak ikut program," ucap Ayunda membuat wajah Vivian memerah karena malu.


"Udah programnya rahasia dan nggak harus diumumkan sama kalian," ucap Gemal sinis membuat mereka semua tersenyum.


"Ayo kita ke ruangan Adinda!" ucap Raka membuat mereka semua mengikuti Raka memasuki lift kecuali Vivian yang diminta Gemal menunggunya di ruang kerjanya.


Mereka sampai dilantai khusus keluarga pemilik Rumah Sakit ini dan Gemal meminta sahabatnya yang merupakan pemilik rumah sakit ini, agar mengizinkanya bisa memakai fasilitas lantai ini. Ruangan di Kamar ini terlihat seperti rumah dengan kamar yang luas dan juga terdapat sofa tamu. Di sebelah kirinya juga terdapat ruangan bayi dan akan ada suster yang ditugaskan khusus untuk menjaga bayi dan juga ibunya jika para keluarga tidak bisa menginap di Rumah Sakit ini.


Raka melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar perawatan Adinda dan ia duduk disamping Adinda diikuti Ratna dan juga Elin yang juga masuk dan mendekati Adinda. Sedangkan yang lainnya menunggu diruang tamu dan mereka akan bergantian masuk untuk melihat kondisi Adinda.


Raka memegang tangan Adinda dan menatap istrinya itu dengan tatapan dalamnya. Adinda telihat lelah dan Raka menyeka sisa keringat Adinda yang berada didahi Adinda.


"Selamat ya nak," ucap Ratna menciun dahi Adinda.


"Selamat Dinda," ucap Elin tersenyum bahagia melihat kebahagian adik iparnya ini.


"Makasi Ma, Mbak" ucap Adinda tersenyum bahagia dan mengeratkan genggaman tangannya pada sosok yang saat sedang menatapnya dengan dalam dan haru.