CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Kejutan dari Guna


Setelah makan malam bersama telah selesai, Guna berencana mengajak semua keluarganya untuk melihat Rumah mertuanya yang telah selesai dibangun. Apalagi saat ini kamarnya bersama istrinya telah dipenuhi balon-balon kejutan yang disiapkan istrinya dan untuk membersihkan kamarnya itu, cukup memakan waktu. Guna tidak ingin istrinya kelelahan dan kebetulan rumah mertuanya saat ini telah siap dihuni kembali. Guna juga sengaja meminta keluarganya yang lain, untuk tidak menijau pembangunan kediaman mertuanya itu saat dibangun, kecuali ibu mertuanya yang ikut memilih desain rumah.


"Guna ingin menyampaikan kepada semuanya yang ada disini kalau pembangunan rumah Papa dan Mama mertua telah selesai dan bisa segera dihuni sekarang," jelas Guna.


"Kata Kakak besok baru bisa dihuni?" tanya Gemal.


"Sebenarnya mau besok, tapi sepertinya hari ini saja karena semuanya juga sudah berkumpul!" jelas Guna


"Dinda nggak sabar mau lihat kamar Dinda disana, Kamar Dinda masih ada kan Kakak ipar?" tanya Adinda.


"Masih ada Tante," ucap Guna membuat mereka semua tertawa.


"Ayo kita lihat!" ucap Aditya dan ia meminta papinya Farhan untuk duduk dikursi roda.


"Papi mau jalan saja Adit!" Pinta Farhan.


"Nggak Pi, nanti Papi capek. Kalau mau jalan sebentar itu dipagi hari saja, Pi!" ucap Aditya membuat mereka semua tersenyum. Adit yang pernah kecewa dengan sikap Papinya dimasa lalu, sekarang terlihat sangat menyayangi Papinya. Farhan tersenyum menerima perhatian kecil putranya


"Kek, apa Gemal aja yang gendong Kakek?" tanya Gemal membuat Farhan kembali tersenyum. "Kakek nggak usah malu, dulu Gemal kalau Kakek pulang dari kantor, suka minta gendong dibelakang sama Kakek," ucap Gemal mengenang masalalu membuat mereka semua tersenyum.


"Nggak usah Gem, lebih baik kamu gendong istri kamu saja!" goda Farhan membuat mereka semua tertawa sedangkan wajah Vivian memerah karena malu.


"Ayo kita menuju rumah Ratna!" ucap Elin terlihat sangat bersemangat dan nerangkul bahu sahabatnya itu dengan erat.


Sungguh persahabatan yang indah bagi keduanya. Persahabatan yang dulunya pasti mengalami lika-liku dalam perjalanannya yang mencapai puluhan tahun. Pertengkaran juga sering muncul diantara mereka, namun mereka selalu berhasil menyelesaikan kesalahpahaman mereka. Hingga persahabatan itu sampai saat ini terjalin dengan erat dan akhirnya keduanya benar-benar menjadi keluarga setelah keduanya berhasil menyatukan anak mereka. Ikatan antara Ayunda dan Guna adalah mimpi bagi keduanya sejak dulu. Saat Guna lahir, Ratna bahkan belum menikah dengan Bagas dan Ratna. Ratna dulu sering membantu Elin menjaga Guna jika Elin kuliah saat itu. Sampai beberapa tahun kemudian Ratna menikah dengan Bagas yang tiba-tiba melamarnya dan akhirnya mereka memiliki Alfa. Elin berharap jika Ratna bisa memiliki anak perempuan dan ia akan menganggap anak itu sebagai menantunya.


Mereka semua memasuki pagar tinggi yang masih ditutupi seng tinggi yang menutup rumah ini. Guna dan Gemal membuka pagar dan tampaklah Rumah kediaman Bagas berubah menjadi sangat megah. Guna memperluas wilayah Rumah ini dengan membeli rumah yang ada disebelahnya. Ayunda menatap rumah megah ini dengan mata yang berkaca-kaca. Ia pernah mengatakan kepada Guna, jika ia ingin memiliki rumah kecil sederhana tapi apa mau dikata ia yang menikahinya adalah seorang CEO sukses.


"Maaf tidak bisa mewujudkan keinginanmu untuk memiliki rumah kecil yang sederhana Ayu!" ucap Guna.


"Mas... " lirih Ayunda.


"Kamu nggak harus beres-beres rumah, cukup merawat suamimu dan anak-anak saja, kamu cukup mendoakan Mas agar bisa sukses dalam menjalankan bisnis dan juga menjadi kepala keluarga yang baik. Doa dan kepercayaan istri adalah hal yang paling penting bagi Mas, Yu!" ucap Guna membuat Ayunda tersenyum dan memeluk Guna.


"Wah...ini tumah kita, apa bukan si Mbak?" tanya Adinda mempercepat langkahnya mendekati Rumah orang tuanya namun Raka menahan tubuh Adinda.


"Hehehe... iya Kak. Jalanya pelan gitu kayak gini ya Kak?" ucap Adinda berjalan dengan sangat pelan membuat mereka semua tertawa.


"Lebay... " ucap Gemal.


Guna membuka pintu utama rumah ini dan mereka semua masuk kedalam rumah. Kemegahan rumah ini membuat Bagas dan Ratna terharu. Rumah yang dulu hanya berlantai dua dan sederhana menjadi sangat megah. Rumah ini memang telah diwariskan kepada Ayunda karena Alfa dan juga Adinda menolaknya saat Bagas meminta mereka untuk membagi hak kepemilikan Rumah ini.


Alfa menolak karena ia telah memiliki tanah dan juga Apartemen. Ia berkeinginan membangun rumah impiannya sendiri dan meminta Ayunda untuk menjaga kedua orang tuanya, karena ia akan selalu pindah tugas ke berbagai tenpat. Yang artinya Alfa tidak bisa menetap dan menjaga kedua orang tuanya. Sedangkan Adinda, akan ikut Raka tinggal di kediaman utama Candrama bersama Farhan Candrama.


"Semoga betah ya Ma, Pa. Maaf Guna membangunnya menjadi lebih besar karena ketika semua keluarga kita berkumpul, Rumah ini bisa menampung semua keluarga besar kita!" ucap Guna.


Guna juga tetap membiarkan semua saudara Ayunda memiliki kamar pribadinya masing-masing. Seperti Ayunda yang tetap memiliki kamarnya sendiri disini. "Ayu kamar kamu masih ada kok di Rumah ini, jadi nanti kalau kamu ngambek sama Om Raka. Rumah ini siap untuk menampung kamu!" ucap Guna membuat Raka menatap Guna dengan sinis.


"Makasi Kakak iparku," ucap Ayunda


"Mas kita lihat kamar kita dan Ghavin!" ajak Ayunda.


Guna dan Ayunda melangkahkan kakinya menuju Kamarnya bersama Ayunda. Sementara itu Adinda menarik tangan Raka dan mengajaknya menuju kamar barunya. Di setiap pintu terdapat nama-nama pemilik kamar. Termasuk Gemal dan Vivian ternyata juga mendapatkan bagian kamar dirumah ini. Adinda membuka pintu kamar yang bertuliskan nama Raka dan Adinda. Keduanya masuk dan Adinda terkejut saat melihat foto pernikahannya berada dikamar ini. Rajang miliknya yang lama diganting dengan ranjang berukuran besar.


"Kok ranjangannya gede begini, pasti ini juga permintaan Kakak kan?" tanya Adinda menatap curiga Raka yang pasti telah meminta Guna untuk mengubah isi kamar ini. Dikamar ini juga terdapat buku-buku milik Raka dan juga meja kerja Raka.


"Ini kan rumah kedua kita, memangnya saya tidak boleh meletakan barang pribadi saya dirumah ini?" tanya Raka sinis.


"Kakak gimana sih, Adinda kan tanyanya ranjang ini kok gede banget? bukan tanya kenapa barang pribadi kakak ada disini," kesal Adinda.


"Biar kita nyaman boboknya Din!" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya karena suaminya ini sempat-sempatnya membeli ranjang berukuran besar, untuk diletakkan dikamarnya ini.


"Masih sempat-sempatnya Kakak mikir begitu, dasar mesum," ucap Adinda.


Raka terkekeh "Hehehe pikiran kamu berarti yang mesum Dinda, ranjang besar agar kita bisa tidur sama-sama dengan anak-anak kita nanti kalau kita bermalam disini," jelas Raka.


"Jadi sekarang kamar ini bukan lagi jadi kamar pribadi Dinda. Kamar ini udah jadi kamar bersama. Nanti kamar kita yang di Rumah Papi juga Dinda ubah!" ucap Adinda.


"Ubah saja, tidak masalah bagi Kakak asal kamu senang!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum senang.