CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Siap


Raka menatap Adinda dengan tatapan seriusnya. Ia merasa keinginannya tidak bisa ditunda lagi, mengingat perempuan cantik yang ada dihadapanya ini terlalu menarik dimata para laki-laki. Adinda memang tidak menyadari jika senyumannya dan keceriaannya itu membuat laki-laki terpesona dalam hitungan detik jika mengenalnya. Raka tidak bisa meminta senyum ramah itu, hanya diperlihatkan untuknya. Karena begitulah sosok Adinda yang menggemaskan dan ia tidak ingin kehilangan perempuan yang selalu menghangatkan hatinya itu.


"Bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat? kita bisa pacaran seperti ini setiap hari setelah menikah. Bagaimana menurut kamu Dinda?" tanya Raka membuat Adinda kembali terkejut.


Ada apa dengan si Om? kenapa minta dipercepat?


"Hmm... Dinda mau sih Om tapi, restu dari Mami Om belum Dinda dapatkan. Walau bagaimanapun Mami Lastri adalah ibu yang melahirkan Om. Dinda mau coba dulu mendapatkan mendapatkan restu dari Maminya Om. Nanti kalau Mami memang benar-benar tetap nggak suka Dinda, ya udah nggak apa-apa setidaknya Dinda sudah berusaha mencobanya!" ucap Adinda membuat Raka menghela napasnya.


Raka tidak menyetujui Adinda mengambil resiko mendekati Maminya itu. Ia tidak ingin Adinda menangis karena diperlakukan kasar oleh Maminya. Ucapan Adinda memang ada benarnya, tapi Raka ingin melindungi Adinda dari Maminya yang bisa saja membuat senyuman Adinda berubah menjadi kesedihan.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Raka.


"Yakin Om, lagian Om belum menceritakan semua masalah keluarga Om sama Dinda. Dinda aja baru tahu kalau Kak Adam itu ternyata calon adik ipar Dinda. Lagian kenapa nggak menunggu Dinda sampai selesai kuliah Om? kalau kita nikahnya saat Dinda selesai kuliah kan Om nggak bakalan repot" ucap Adinda.


"Saya nggak bakalan repot kalau kita menikahnya sebelum kamu selesai kuliah!" ucap Raka.


"Yakin Om nggak bakalan repot?" goda Adinda menaik-turunkan alisnya dan kemudian kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Yakin" ucap Raka dan ia kemudian ikut menyuapkan sesendok nasi bakar yang ia pesan tadi.


"Oke tapi Om nggak usah minta jatah dulu ya sama Dinda, soalnya Dinda males kekampus kalau lagi bunting apalagi bimbingan tesis yang harus kesana-kemari!" ucap Adinda membuat Raka terbatuk.


"Uhuk... uhuk... " .


Adinda segera memberikan segelas air kepada Raka. "Nah apa Dinda bilang, Om mana sanggup nahan diri kalau kita sudah nikah nanti. Dinda kalau bunting jadi pemalas, nggak bunting aja malas apalagi bunting!" jelas Adinda.


Kalau Dinda bunting saat ngerjain tesis hahaha... Om bakalan susah. Om yang akan ngerjain tesis Dinda.


"Kamu ini pembicaraannya nggak usah kearah sana Dinda!" kesal Raka membuat Adinda terkekeh.


"Hehehe... Om Raka kakandaku tersayang, Dinda tahu apa yang dipikirkan Om. Om itu kalau ngeliatin Dinda, kelihatan banget mesumnya. Apalagi om suka banget cium-cium Dinda. Kalau kita udah nikah Dinda nggak jamin kalau Dinda bisa tetap jadi gadis suci yang polos!" ucap Adinda membuat wajah Raka memerah.


"Dinda!" kesal Raka membuat Adinda terkekeh.


"Ayo ngaku kenapa tiba-tiba minta pernikahan kita dipercepat?" tanya Adinda. Ia merasa senang karena berhasil membuat Raka malu dan kesal.


"Kalau begitu saya bisa buat kamu melahirkan bayi kita sebelum kamu tesis!" ucap Raka membuat Adinda menelam ludahnya. Adinda baru saja kuliah beberapa bulan dan jika ia menikah dalam waktu dekat mungkin memang benar kata Raka, ia bisa melahirkan sebelum ia mengambil tesis.


"Om jangan bercanda, emang Om sudah siap jadiin Dinda istri Om dalam waktu dekat? Dinda ini jelek, suka jahilin orang, suka ngupil, suka kentut sembarang" ucap Adinda membuat dua orang ppasanga muda lainnya menahan tawanya mendengar pembicaraan mereka.


"Om kepedean memangnya Om bisa buat Dinda hamil secepat itu?" kesal Adinda.


"Bisa, kalau Allah menghendaki bisa saja satu bulan kita menikah, kamu sudah hamil anak saya Dinda!" ucap Raka.


"Om...nggak usah ngomongin ini dulu!" kesal Dinda karena berdebat dengan Raka, ia tidak akan pernah menang.


"Apapun resikonya saya mau kita nikah secepatnya! kalau masalah restu dengan Mami saya kamu bisa mendekatinya setelah kita menikah!" ucap Raka.


"Om, kok ngebet banget pengen nikah sama Dinda sih" Sinis Adinda.


"Memangnya kamu nggak mau nikah sama saya?" kesal Raka menatap Adinda dengan dingin membuat Adinda mengunyah makanannya dengan kasar.


Adinda mengambil meminum minumannya lalu menatap Raka dengan tatapan sendu. Ia menghela napasnya "Om Dinda trauma gagal nikah. Nanti saat pernikahaan kita tinggal menunggu beberapa hari lagi, Om sadar kalau Dinda kayak anak kecil dan Om minta pernikahan kita dibatalkan!" lirih Adinda mengingat alasan Rifki selingkuh darinya karena bosan dengan sikap Adinda yang kekanak-kanakan.


"Saya bukan Rifki Dinda! Saya Raka yang hanya memperhatikan kamu!" ucap Raka.


"Om udah lupa dengan mantan kekasih SMA Om?" tanya Adinda. Ia ingin menyakinkan dirinya jika Raka benar-benar mencintainya dan membuatnya tidak ragu untuk menjadi Nyonya Raka.


"Dia masalalu Om, dia pertama kali membuat Om tertarik untuk mengenal perempuan. Tapi kamu yang pertama bagi Om Dinda. Untuk pertama kali Om berani memeluk perempuan bahkan bermimpi memiliki keluarga bersama kamu!" jelas Raka.


"Om kurang romantis, nanti kalau mau lamar Dinda di taman hiburan aja ya! kita main komedi puter baru Om ngajakin Dinda nikah!" ucap Adinda tersenyum menujukkan semua gigi putihnya. "Tapi kalau Papa setuju ya Om, kan kemarin Papa bilang nikahnya udah selesai kuliah dulu. Papa memang percaya sama Om, tapi Papa ragu karena dulu aja Papa juga percaya sama Rifki" ucap Adinda.


"Saya punya ide biar Papa kamu mempercepat pernikahan kita!" ucap Raka tersenyum.


"Awas ya Om idenya yang aneh-aneh! lagian resepsi pernikahan Kak Alfa seminggu lagi Om, jadi Dinda izin nggak ikut ke hotel atau ke kampus selama seminggu dan Dinda juga sudah izin nggak kuliah sama dosen Dinda" ucap Adinda.


"Hebat banget kamu ya Dinda, memang hotel punya kamu?" kesal Raka.


"Hehehe... hotel memang bukan punya Dinda tapi Ceo yang punya hotel itu calon suami Dinda!" ucap Dinda tersenyum senang membuat Raka ikut tersenyum.


kalau ngelihat Om senyum kayak gini Om seperti pangeran dari surga. Adem banget...


**tbc...


Jangan lupa baca : Karina dan Alfa**