
Farhan Candrana meminta semua keluarganya untuk menginap di Kediamannya selama dua hari. Tentu saja hampir semuanya setuju apalagi kediaman Candrama sangat luas kecuali Brian. Brian, mengajak Lastri dan Radina pulang. Brian tidak ingin Radina dan mertuanya tinggal di kediaman Candrama diluar pengawasannya. Keluarga Candrama tidak akan membiarkan pengawal pribadinya menjaga gerak-gerik istrinya.
Saat ini pukul dua siang Ayunda, Adinda, Gia Oma Mawar dan Vivian duduk di gazebo sambil memakan rujaknya yang dibuat Vivian. Sedangkan Ratna dan Elin pergi membawa Ghavin dan juga Felisa ke Mall. Farhan bersama Aditya sedang bermain catur di taman belakang.
"Lahap banget Vian makan rujak, siapa yang hamil siapa yang doyan," ucap Adinda membuat mereka semua tersenyum.
"Doain aja semoga Vivian cepat nyusul ngisi juga!" ucap Ayunda membuat Vivian terbatuk.
"Aku nggak didoain juga Mbak biar cepat nikah hehehe... " kekeh Gia.
"Memang kamu mau nikah cepat?" tanya Oma Mawar.
"Wah... Oma ini nggak bisa dipancing. Tiap hari aku dan Kak Arjun disuruh nikah," kesal Gia.
"Dari pada kamu keluyuran bebas kayak gini. Ini bulan depan kamu mau ke mana ke Korea lagi?" kesal Oma Mawar.
"Wah...kalau ke Korea, Dinda mau ikut dong Gi!" ucap Adinda.
"Hahaha...mau dimarahin Om Raka, Din?" goda Ayunda. "Baru saja dicuekin beberapa jam sama si Om, Dinda udah nangis-nangis hahaha..." tawa Ayunda.
"Vian kok cerita sama Mbak Ayu sih?" kesal Adinda.
"Mbak Ayu tanyain kamu lagi apa? Vian kan jujur Din, jadi Vian bilang kalau kamu kesel karena dicuekin Om Raka sampai ngebuat kamu nangis."
Adinda menyebikkan bibirnya "Soalnya Dinda ngerasa sedih banget gitu kalau dicuekin Kak Raka, dulu nggak gini," ucap Adinda.
"Kalau hamil memang sensitif, Oma aja dulu hamil Om kalian sering banget muntah-munta gitu dan bangun tidur makan tapi nggak suka bau makanan. Jadi dulu kalau makan mesti disuapin sama Opa kalian," ucap Oma Mawar mengingat kenangan bahagianya bersama mendiang suaminya.
"Dinda sekarang jadinya nggak mau minta apa-apa sama Kak Raka. Dinda trauma takut didiemin sama Kak Raka," ucap Adinda membuat sosok Raka yang baru saja pulang bersama Guna, Arjun dan Gemal menghentikan langkahnya. "Vian rujaknya jangan dihabisin, Dinda baru makan dua potong Vian udah sepuluh potong buah!" kesal Adinda.
"Segar banget Din" ucap Vian membuat mereka semua tertawa.
"Gia mau dong diajakin jalan-jalan keluar kota sama Mbak-mbak! jadi kalau pergi nanti jangan lupa ajak Gia ya!" ucap Gia.
"Oke, Gi siap," ucap Ayunda.
"Melihat kalian berkumpul kayak gini, Oma jadi ingat masa-masa muda Oma. Tapi dulu kalau naik motor sama pacar Oma, Oma perginya ke gunung itu saja udah sangat mewah perjalanannya," ucap Oma Mawar.
"Pasti dulu Oma cantik banget," ucap Ayunda.
"Pantesan aja Gia cantik," puji Adinda.
"Kalian semua cantik, tapi memang Vivian yang lebih menonjol karena badannya bagus. Kayak Oma masih muda tapi minus dengan tingkah laku kamu yang dulu Vian. Tapi untungnya sekarang kamu udah dijinakin Gemal" ucap Oma Mawar membuat Vivian terbatuk-batuk.
"Uhuk... uhuk... " Vivian menatap Oma Mawar dengan sendu.
"Kalau mau dimaafkan sama Oma, kamu harus segera hamil kasih Oma cicit lucu kayak Ayunda!" ucap Oma Mawar membuat wajah Vivian merah karena malu.
"Oma belum tahu aja, gimana mereka berdu...." Vivian segera menutup mulut Adinda membuat Oma Mawar, Gia dan Ayunda tertawa terbahak-bahak.
Ayunda melihat Raka yang saat ini sedang melihat kearah mereka dan ia tersenyum karena ingin menggoda Adinda "Din katanya mau banget ngelihat Om Raka rambutnya abu-abu?" tanya Ayunda.
"Udah nggak mau lagi Mbak, cukup Dinda ngebayanginya di dalam mimpi. Dinda sekarang suka ngelihat Ohsehun biar anak Dinda bisa mirip dia. Rambutnya yang warna abu-abu ngegemasin banget Mbak," ucap Adinda membuat Ayunda, Gia dan Vivian terkekeh.
"Minta lagi dong Din sama Om Raka biar dia mau rambutnya dicat abu-abu" goda Ayunda
"Nggak Mbak, Dinda nggak mau minta yang aneh-aneh. Dinda nggak mau diambekin sama Kak Raka. Dinda kalau mau sesuatu sekarang harus mandiri aja!" ucap Adinda membuat Raka yang sedang mengintip dari balik dinding menghembuskan napasnya.
"Jadi kalau mau makanan, kamu gimana Din? yakin mau masak sendiri?" tanya Vivian.
"Hehehe... Dinda sudah punya suami kedua sekarang!" ucap Adinda membuat mereka semua melototkan matanya termasuk Oma Mawar yang menajamkam telingannya bersiap mendengar ucapan Adinda. Apalagi Raka yang sangat kesal mendengar ucapan istrinya.
"Suami kedua serius?" tanya Ayunda membesarkan suaranya agar Raka bertambah kesal.
"Iya, ada jasa pengantaran makanan. Nggak perlu suami lagi kalau mau minta ini itu soalnya Dinda nggak mau diambekin lagi. Jasa pengantaran ada yang dua puluh empat jam siap melayani permintaan perut Dinda!" ucap Adinda menujuk perutnya membuat mereka semua tertawa.
"Kirain beneran ada suami kedua" ucap Ayunda.
"Hehehehe...hanya pengandaian Mbak, suami Dinda tetap satu untuk selamanya. Raka candrama yang paling gagah dan tampan dibandingkan dengan Gunadarma Candrama" ucap Adinda membuat Guna yang saat ini berada dibelakang Raka menepuk pundak Raka seolah menenangkan Raka. Ayunda menatap sinis Adinda.
"Ganteng suami Mbak Din, Om Raka nggak ada apa-apanya!" ucap Ayunda tidak mau kalah.
"Jadi Mbak beneran nggak mau minta dibeliin apa-apa sama Om Raka atau minta dibuatin aja masakan apa gitu, Mbak?" tanya Gia.
"Nggak mau, Dinda takut soalnya. Dinda kemarin lihat internet ada cerita katanya suaminya pergi meninggalkannya yang sedang hamil karena kesal dengan permintaannya yang aneh-aneh. Dinda nggak mau ditinggalin Om Raka!" ucap Adinda sendu membuat Vivian dan Ayunda membuka mulutnya karena pikiran Adinda mudah sekali terpengaruh saat ini.
Raka yang mendengar ucapan Adinda menghela napasnya. Ia tidak menyangka istrinya akan beranggapan seperti itu. Pantas saja sejak pagi istrinya sudah bangun walaupun terlihat jika Adinda masih mengantuk. Adinda juga membuat susu hamilnya sendiri dan menahan mualnya agar tidak membangunkan Raka dipagi hari. Bahkan pagi tadi Adinda mengendap-endapkan kakinya menuju lantai dasar dan muntah di kamar mandi yang berada didapur.