CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Mandiri


Setelah mendengar ucapan Adinda membuat Raka merasa sangat bersalah kepada istrinya. Apalagi istrinya bahkan tidak meminta apapun padanya beberapa hari ini. Kediaman Candrama kembali sepi karena semua keluarga telah kembali ke Rumah mereka masing-masing.


Adinda saat ini sedang terbaring diranjang dan menatap ponselnya. Ia melihat salah satu teman kuliahnya sedang memakan sate madura dengan kuah kacang yang berlimpah membuat Adinda menelan ludahnya. Ia melihat kearah Raka yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya membuatnya tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Laper ya? nanti ya kita pesan makananya, kita nggak boleh ngerepotin Ayah!" ucap Dinda pelan agar Raka tidak mendengarnya "Kita minum susus dulu!"


Adinda menyingkap selimutnya membuat Raka mengabgkat wajahnya dan menatap pergerakan istrinya itu. "Mau kemana?" tanya Raka.


"Mau kedapur sebentar!" ucap Adinda.


"Mau ngapain di dapur?" tanya Raka.


"Nggak ngapa-ngapain kok!" ucap Adinda tersenyum.


Adinda melanjutkan langkahnya dan ia segera menuruni tangga dengan pelan. Ia tidak ingin merepotkan para maid, karena sebenarnya ia ingin Raka yang membuatkan susu untuknya tapi ia menahan keinginan itu karena takut Raka ilfil dengan tingkah manjanya. Adinda mengambil susu yang berada diatas lemari. Ia kesulitan menggapainya dan ia menjijitkan kakinya membuat Raka yang berada dibelakangnya segera mengambilnya.


"Kamu mau susu?" tanya Raka. Adinda menganggukan kepalanya dan tiba-tiba ia ragu apakah Raka mau membuatkannya susu dan ia kemudian mengelengkan kepalanya.


Tanpa kata Raka segera mengambil gelas dan menuangkan dua sendok susu kedalam gelas dan ia memanaskan air. "Hmmm... biar Dinda aja Kak, Kakak kalau sibuk masih ada kerjaan Kakak kerjain aja kerjaan Kakaj!" ucap Adinda.


Raka memilih untuk tidak menjawab ucapan Adinda dan ia menuangkan air panas setengah gelas lalu mengaduknya. Raka kemudian mencampurkan susu yang berada digelas dengan sedikit air yang tidak panas.


"Minumlah!" ucap Raka.


"Terimakasih Kak," ucap Adinda merasa haru namun ia tunjukkan dengan senyumannya dan berusaha untuk tidak menperlihatkan rasa harunya. Adinda melangkahkan kakinya ke ruang Tv dan ia duduk di sofa. Raka ternyata mengikutinya dan duduk disampingnya.


"Kamu mau apa lagi?" tanya Raka datar. Ia melihat istrinya terlihat menghindarinya membuatnya menghela napasnya.


Adinda menggelengkan kepalanya "Nggak ada lagi Kak!" ucap Adinda. Ia sebenarnya menginginkan Raka masuk ke ruang kerjanya atau Raka telah tidur di kamar mereka dan ia akan segera meminta jasa pengantaran untuk membeli sate untuknya. Namun Raka memilih duduk disampingnya dan menonton Tv bersamanya.


Mau makan sate...


Adinda berdiri dan melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Ia masuk kedalam kamarnya dan mengambil ponselnya. Adinda segera memesan sate madura lewat aplikasi pengantaran. Setelah itu ia kembali turun kelantai dasar. Adinda tidak menyadari jika sejak tadi Raka memperhatikan pergerakannya. Adinda melangkahkan kakinya dengan pelan menuju teras kediaman Candrama.


"Mang..." panggil Adinda saat melihat salah satu pekerja di rumah ini.


"Iya Nyonya," ucapnya.


"Iya Nyonya," ucapnya dan ia segerakan melangkahkan kakinya menuju gerbang depan kediaman Candrama.


Raka melangkahkan kakinya mendekati Adinda dan memakaikan hodie ke tubuh Adinda. "Menunggu apa?" tanya Raka.


"Sate," ucap Adinda.


"Tunggu didalam saja!" ucap Raka.


"Nggak apa-apa Kak, Kakak masuk aja! Sebentar lagi satenya nyampe kok!" ucap Adinda.


"Kenapa nggak bilang kalau mau makan sate?" tanya Raka.


"Bisa pesan sendiri Kak, lagian Dinda nggak mau ngerepotin Kakak!" ucap Adinda membuat wajah Raka terlihat kesal saat mendengar ucapan Adinda.


"Saya tidak merasa repot Dinda!" ucap Raka membuat Adinda yang sejak tadi menatap kearah gerbang mengalihkan pandangannya menatap Raka.


"Hmm... maksud Dinda bukan begitu Kak, maaf dan jangan marah ya! sekarang udah canggih Dinda bisa kok beli makanan sendirian. Kalau buat sendiri repot, Dinda mual soalnya kalau bau masakan" ucap Adinda.


Terjadi keheningan antara keduanya. Dinda meremas kedua tangannya karena ia takut Raka marah padanya. Raka memilih diam dan ikut menuggu diteras. Adinda tidak ingin keinginannya ini membuat Raka kesal. Tampaklah Mang Didi yang diminta Adinda untuk menunggu pesanannya di depan gerbang kediaman Candrama, berjalan mendekati mereka dan membawa kantung kresek ditangannya.


Adinda tersenyum senang seolah ia mendapatkan suatu kebahagiaan yang luar biasa. Raka bisa melihat binar bahagia saat Mang Didi memberikan kantung keresek itu padanya. "Ini Nyonya," ucapnya.


"Makasi Mang," ucap Adinda. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur.


Adinda meletakkan makanannya di atas meja lalu segera mengambil piring dan sendok. Raka mengikuti langkah kaki Adinda dan ia mengamati istrinya itu yang terlihat sangat gembira hanya karena sate. Adinda segera membuka sate itu dan memakanya dengan lahap.


"Mau Kak?" tanya Adinda. Raka menggelengkan kepalanya.


"Dulu Kak Alfa yang sering Dinda titip beli sate Pak Latif kalau Kak Alfa lagi disini. Kalau Kak Alfa ada disini pasti Dinda telepon minta dia yang beliin hehehe tapi kalau kita tinggal di Rumah orang tua Dinda. Kalau nganterin kesini kejauhan kasihan Kak Alfa. Coba Kak Alfa pindah kerjanya nggak jauh hehehe... " kekeh Adinda. Sejak kecil Alfa memang ia memanjakan kedua adik perempuannya. Saat mereka semua masih remaja pun, Alfa sering membelikan Adinda dan Ayunda sate madura ini.


"Lain kali kalau kamu mau makan apa atau minta dibelikan sesuatu kasih tahu Kakak Dinda!" ucap Raka. Dinda menatap Raka lama dan kemudian tersenyum.


"Kalau bisa sendiri Dinda usahakan sendirian aja Kak" ucap Adinda membuat Raka benar-benar kesal saat ini.


tbc...