CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Memikirkannya.


Rifki menatap wajah Adinda yang terlihat sangat cantik baginya. Ia sangat menyesal telah menyakiti hati Adinda, hingga ia harus kehilangan Adinda. Rifki merasa bodoh karena tergoda dengan teman kerjanya hingga ia berselingkuh dan membohongi Adinda. Kisahnya dan Adinda harus benar-benar berakhir hari ini.


"Apa kau sudah memaafkanku Din?" tanya Rifki menatap Adinda dengan sendu.


Dinda menghela napasnya, berberapa tahun ini, ia bahagia bersama Rifki. Ia merasa sangat beruntung menjadi kekasih Rifki apalagi dulu di kampus banyak sekali perempuan yang menyukai Rifki tapi Rifki memilihnya. Namun ternyata cinta saja tak cukup kuat untuk mempertahankan hubungan mereka. Saat impian pernikahan sudah didepan mata Rifki ternyata miliki hubungan dengan perempuan lain.


"Aku sudah memaafkanmu dan kita lebih cocok bersahabat. Maaf aku lama memutuskan permintaanmu beberapa waktu yang lalu karena saat itu aku butuh waktu. Jujur saja aku sangat kecewa karena kita dulu punya hari-hari indah bersama. Kamu yang rela bolos kuliah hanya karena ingin nonton bersamaku" ucap Dinda menghela napasnya dan setetes air mata mengalir dipipinya.


"Kamu yang capek di Rumah sakit menyempatkan diri buat ngadain pesta ulang tahun untukku. Semuanya aku simpan dimemori otakku, jika aku pernah bahagia bersamamu, tapi satu kesalahan darimu membuatku sadar. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama karena jika bersama, kita hanya akan saling menyakiti!" ucap Adinda karena ia benci penghianatan.


"Apa kau tidak mencintaiku lagi?" tanya Rifki.


"Entalah tapi aku mencoba untuk berdamai pada hatiku dan aku lega jika hubungan kita harus berakhir Rifki. Yang jelas rasa kecewa yang ada dihatiku mengikis rasa cinta yang kita pupuk bersama selama ini!" jelas Adinda.


"Apa kau mencintai dia?" tanya Rifki. Ia penasaran apakah posisi dirinya dihati Adinda telah digantikan oleh Raka.


"Aku belum bisa memastikannya tapi yang jelas aku sempat merasa kesal jika aku dilarang untuk bertemu dengannya!" ucap Adinda.


"Kalau aku dan dia sama-sama terluka siapa yang akan kau hampiri pertama kali?" tanya Rifki.


Rifki tersenyum dan mengelus kepala Adinda "Kau belum menyadari perasaanmu. Jika dia menyakitimu aku akan segera merebutmu darinya!" ucap Rifki.


Adinda mengehela napasnya Raka memang baik padanya akhir-akhir ini, tapi kebaikan Raka itu untuk mewujudkan keinginan Papinya yang menginginkan dirinya menjadi istri Raka. Adinda tidak ingin menjalani hidupnya dengan laki-laki yang tidak mencintainya. Ia ingin seperti orang tuanya yag saling mencintai dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia.


Rifki memeluknya dan kemudian segera pergi meninggalkan Adinda yang masih terpaku memikirkan semuanya. Tentang hatinya yang menggap jika Raka itu penting untuknya. Ayunda mendekati Adinda dan mencubit lengan Adinda.


"Wah...wah...merasa cantik kamu ya Din?" tanya Ayunda membuat Adinda mendesis tak suka.


"Dari dulu aku memang cantik walau memang nggak secantik Mbak sih!" jujur Dinda.


"Om Raka udah nungguin kamu didepan!" ucap Ayunda.


"Mbak, Dinda mau tanya. Sejak kapan Mbak merasa kalau Mbak mencintai Kak Guna?" tanya Adinda penasaran.


"Sepertinya sudah lama Din. Mbak hanya merasa jika keberadaan Mas Guna disamping Mbak membuat Mbak nyaman dan terlindungi. Dia itu sosok yang sabar dan dibalik sikap cueknya sebenarnya dia sangat memperhatikan mbak. Lucunya ya Din, dia nggak suka Mbak bertemu Meta dan Ajeng kalau nggak sama dia. Dia takut Mbak mabok dan cium-cium cowok lain. padahal ya, Mbak itu suka dia karena Mami Elin loh yang tiap hari selalu menceritakan tentang dia hingga mbak terbiasa mengetahu semua tentang dia" jelas Ayunda.


"Ini soal Om Raka ya?" tanya Ayunda membuat Adinda menganggukkan kepalanya. "Nggak usah dipikirkan keinginan kakek! itu hanya dorongan untuk Om Raka. Coba kamu tanya hatimu dan lihat apa kamu melihat dia ada dimasa depanmu apa tidak!" ucap Ayunda membuat Adinda berpikir keras.