CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Kumpul para suami


Guna menghela napasnya pagi ini istrinya tampak tidak keluar dari kamar. Ia sebenarnya khawatir dengan kondisi istrinya dan ia tidak ingin Ayunda berada dikondisi yang berbahaya seperti saat melahirkan Ghavin. Ayunda dan dengan segala pemikirannya terkadang membuatnya bingung. Guna membutuhkan saran dari adiknya dan Omnya. Guna menghubungi keduanya dan meminta mereka untuk bertemu disebuah cafe. Ketiganya memang sering menceritakan tentang bisnis dan juga masalah pribadi mereka. Terkadang para suami memang butuh berkumpul dengan sesamanya, sama halnya dengan para istri yang sering berkumpul bahkan berbelanja bersama.


Guna telah menghabiskan dua gelas jus naga sejak ia menunggu di cafe ini. Biasanya ia lebih menyukai kopi tapi beberapa hari ini ia merasa mual saat meminum secangkir kopi. Tiga puluh menit yang lalu Guna telah datang dan ia memang sengaja datang lebih awal karena setelah rapat, ia didera rasa khawatir terhadap kondisi istrinya. Saat pintu cafe terbuka munculah sosok Raka dan Gemal yang ternyata datang bersamaan. Namun yang tidak ia duga sosok Brian dan sekretarisnya berada di belakang Raka, membuat Guna menghela napasnya.


Kenapa si sombong itu bisa datang bersama mereka?


batin Guna.


Gemal menahan tawanya melihat ekspresi kesal Guna, saat melihat kedatangan Brian. Jika dulu Raka yang selalu kesal karena keberadaan Brian, namun kali ini tidak. Raka sekarang sudah sedikit memaklumi sikap sombong dan egois Brian. Raka malas berdebat dan melayani ucapan Brian. Berbeda dengan Guna yang Saat ini, ingin sekali mencekik laki-laki sombong yang selalu menjadi saingannya dalam hal memperebutkan penghargaan.


"Kenapa dia disini?" tanya Guna sinis.


"Kau mau mati rupanya," ejek Brian segera duduk dikursinya dan melipat sebelah kakinya sambil menatap Guna dengan sinis.


"Kau yang ingin ikut dan ingat apa janji yang kau ucapan tadi!" ucap Raka membuat Brian menaikan sudut bibirnya.


"Saya hanya ingin cerita kepada kalian berdua dan bukan kepada dia!" kesal Guna.


"Kau tahu Guna otakku bahkan lebih genius dari otakmu. Masalah apa yang tidak bisa aku selesaikan? jawabanya pasti bisa aku selesaikan dengan mudah," ucap Brian membuat Raka menghela napasnya karena sepertinya ia salah membiarkan adik iparnya ikut bersamanya ke cafe ini.


"Oke, aku akan meminta saran darimu sebagai orang yang paling cerdas di dunia ini" ucap Guna sinis.


"Hohoho... akhirnya kalian menyadari betapa hebatnya aku ini!" ucap Brian membuat Raka dan Gemal saling menatap dan keduanya menghela napasnya.


"Apa saranmu Brian kita akan mendengarkannya!" ucap Gemal.


"Istriku marah kepadaku karena aku pernah mengatakan jika aku tidak menyetujui dia hamil lagi dalam waktu dekat. Aku mengkhawatirkan keselamatannya. Sekarang dia hamil dan dia menyangka jika aku ingin menggugurkan kandungannya!" jelas Guna.


Brian tertawa "Hahaha.... " membuat sekretarisnya Adil yang berada disebelahnya menyenggol lengan Brian agar berhenti tertawa.


Guna memukul meja membuat suara gaduh dan semua orang di cafe menatap kearah mereka. Raka memegang lengan Guna. "Brian!" tegur Raka membuat Brian mengentikan tawanya. Beberapa orang melihat kearah mereka namun segera mengalihkan pandangannya saat melihat para bodyguard Brian.


"Kau lucu Guna, kalau nggak mau istri hamil pakai pengaman dong atau berhenti mengajak istrimu bercinta!" ucap Brian membuat Gemal tersedak dan Raka menahan tawanya agar tidak meledak. "Jangan salahkan istrimu kalau dia hamil lagi, toh itu semua karena kecebong punya kamu. Salahkan saja kecebongmu kenapa tidak dikarantina!" ucap Brian membuat tawa Gemal dan Guna meledak.


"Jika kau hanya bisa mengejekku lebih baik kau diam Brian!" kesal Guna.


"Oke, sabar ya Bro. Ini saranku yabg sebenarnya dengarkan baik-baik!" ucap Brian membuat Raka dan Gemal kembali saling pandang karena keduanya tahu jika makhluk bernama Brian hanya bisa membuat saran gila atau aneh.


"Sarannya apa Bri? nggak sabar lagi nih mendengar saran geniusmu itu!" ucap Gemal sambil menahan tawanya. Adil asisten Brian sejak tadi menaik-turunkan bahunya karena menahan tawanya mendengar ucapan bos mafianya yang aneh.


"Begini, kau minta maaf kepada istrimu dan mengatakan akan bersama-sama menjaga kehamilannya. Ajak dia konsultasi bersama dokter kandungan dan jaga asupan makannya serta pikirannya agar tidak stres. Satu lagi yang harus kau lakukan... " ucap Brian dengan isyarat tangannya meminta mereka semua mendekatinya dan mencondongkan tubuhnya kearah Brian.


"Apa yang harus aku lakukan lagi?" tanya Guna karena saran dari Brian memang akan ia lakukan dan ia ingin berkonsultasi kepada Gemal.


"Jangan lupa tetap mengkarantina si kecebong biar kehamilan istrimu terjaga, kalau nggak percaya tanya sama Gemal bahayanya jika kecebong itu mencari sarangnya saat istrimu sedang hamil!" ucap Brian membuat Guna mengepalkan tangannya karena ia sangat kesal saat ini.


"Hahaha... " Gemal, Raka dan Adil tertawa terbahak-bahak sedangkan Guna menatap Brian yang tersenyum dengan tatapan penuh dendam karena Brian sengaja mengejeknya.


"Makanya kalau perang itu siapkan dulu pengamannya!" ucap Brian tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Guna marah.