CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Melukai harga diri


Raka dan Adinda sampai di Kantor utama Candrama grup, Keduanya langsung menuju ruangan Guna dan keduanya segera masuk kedalam ruangan Guna. Adinda tersenyum saat melihat foto Ayunda, Ghavin dan Gayatri bersama Guna berada di atas meja kerja Guna. Ruangan Guna rapi dan terlihat sekali jika Ayunda sering datang kesini saat Adinda melihat batal bermotif love berada di sebuah sofa santai.


"Ruang kerja kamu kak, ada foto kayak gini nggak?" tanya Adinda menujuk foto Guna dan keluarga kecilnya. Raka mendekati Adinda dan duduk dikursi kerja Guna.


"Kita kan belum sempat foto Din, yang ada diatas meja kerja Kakak sekarang itu foto kamu yang sedang makan es krim!" jelas Raka membuat Adinda menyebikkan bibirnya.


"Itu kan foto waktu kita masih pacaran Kak, pokoknya minggu depan kita ke studio buat foto keluarga!" ucap Adinda membuat Raka menganggukkan kepalanya.


"Oke," ucap Raka dan ia kemudian kembali fokus dengan ipad yang ada ditangannya.


"Dinda juga akan sering bawa anak kita ke kantor kamu Kak, biar cewek yang suka sama kamu tahu, kalau kamu sudah punya buntut!" ucap Adinda.


"Kakak kan memang punya buntut Dinda, kalau Kakak nggak punya buntut kakak nggak bisa hehehe... "


"Kak, ih... jorok," ucap Adinda mencubit lengan Raka membuat Raka menarik pinggang Adinda hingga Adinda duduk dipangkuannya.


"Kak kalau ada yang masuk kan nggak enak!" ucap Adinda menatap Raka dengan tatapan malu-malu. Ia memegang wajah Raka membuat Raka menatap wajah cantik Adinda dengan tatapan kagum. Raka menarik tengkuk Adinda dan kemuidan ia mendaratkan bibirnya dengan lembut di bibir Adinda.


"Maaf Kak," ucap Adinda.


"Nggak apa-apa Tante, kalau mau lanjut duduk disana tapi minta sekalian sama suami Tante biar benar-benar jadi CEO disini biar Guna yang jadi CEO perhotelan!" ucap Guna membuat Raka terkekeh.


"Hehehe... nggak bisa Guna, kamu harus mengalah pada yang tua!" jelas Raka.


Guna menghembuskan napasnya, jika ia menjadi CEO di perhotelan, pekerjaannya tidak akan sebanyak ini. Dia bisa menghabiskan banyak waktu menemani istriya sambil menjaga anak mereka. Raka sebenarnya juga sangat sibuk karena ia masih mengajar di Universitas dan juga menjadi seorang CEO. Jika mereka bertukar peran pada pekerjaan, dapat dipastikanRakan tidak akan ada lagi waktu libur untuk bersama keluarganya. Posisi keduanya saat ini adalah yang paling ideal, apalagi keduanya juga memberikan Gemal tanggung jawab agar Gemal tidak hanya menerima gaji buta dari perusahaan keluarga mereka.


"Om yang menang, sebagai keponakan yang baik Guna mengalah. Om kayaknya mereka sudah ada di ruang rapat, ayo kita kesana!" ucap Guna membuat Raka segera berdiri dan melangkahkan kakinya sambil memegang tangan Adinda.


Mereka keluar dari ruangan Guna menuju ruang rapat, disana ternyata telah ada Indra, Elysa dan Herman kakak sulung Elysa. Raka tersenyum sinis melihat kedatangan mereka begitupun dengan Guna namun tidak dengan Adinda yang menghela napasnya karena suaminya ini ternyata telah berhasil melakukan rencanannya.


Dua orang pengacara masing-masing dari kedua perusahaan telah hadir. Guna mempersilahkan Raka untuk menduduki kursi yang selalu ia duduki ketika sedang melakukan rapat bersama karyawannya. Elysa menundukkan kepalanya seolah tidak percaya jika ia harus menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf kepada Adinda karena telah memukul Adinda dan juga menyakiti hati Felisa.


Elysa terpaksa melakukannya karena jika tidak perusahaan keluarganya akan teracam bangkrut. Apalagi saat ini suaminya telah dipindahtugaskan ke Kota lain. Membuat Elysa meminta suaminya itu, melepaskan karirnya dan bergantung pada perusahaan keluarganya. Namun ternyata perusahaan keluarganya itu hampir bangkrut, membuat harapan Elysa agar suaminya menjadi manajer pupus sudah. Elysa tidak sanggup kehilangan kemewahannya selama ini dan ia akan melakukan apa saja termasuk meminta maaf kepada Adinda walau itu melukai harga dirinya.