
Raka meninggalkan Luna dan Lastri. Ia dengan santai masuk kedalam kamar Adinda dan mendekati Adinda yang saat ini sedang duduk diatas ranjang. Raka duduk disebelahnya dan menatap Adinda dengan datar. Tak ada pembicaraan diantara mereka berdua membuat keadaan dikamar ini menjadi hening. Adinda menelan ludahnya karena ternyata Vivian benar, Raka lebih mementingkan dirinya dari pada Lastri dan Luna. Adinda merasa sangat senang dan bahagia saat ini.
Tatapan Raka saat ini seolah membuktikan keseriusan dirinya. Adinda memahami apa yang mungkin saat ini Raka pikirkan. Tadi saat Vivian membantunya mengganti pakaian, Vivian menceritakan bagaimana Raka terlihat sangat khawatir padanya dan berlari lalu menceburkan dirinya tanpa menghiraukan Luna dan Lastri. Mengingat semua itu membuat wajah Adinda memerah. Raka mungkin tidak akan mengatakan jika ia mencintai Adinda secara langsung, tapi secara tersirat laki-laki ini memperhatikannya lebih dari yang ia kira.
Rifki mungkin tidak akan seperhatian ini padanya. Entalah buncahan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, membuatnya merasa ia berjanji tidak akan menghindari sosok tampan yang bernama Raka, yang perlahan tapi pasti telah terukir dihatinya.
Adinda menghela napasnya, Raka mungkin tidak memulai pembicaraan jika ia tidak memulainya "Om pacaran sama Bu Luna? Bu Luna itu dosen juga kan Om? Dinda pernah ketemu dia tapi Dinda belum pernah masuk kelasnya. Dia kan Dosen S1 ya Om?" ucap Adinda membuka pembicaraan mereka.
Astaga, sekian banyak kata, kenapa yang keluar dari mulut gue kata-kata ini sih...
Raka menghela napasnya "Jadi kamu mau saya pacaran sama Luna?" tanya Raka dingin.
Nggak Om bukan itu maksud Dinda.
Adinda menggelengkan kepalanya. Sejujurnya ia tidak rela jika Raka berpacaran dengan wanita manapun karena saat ini Raka telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. "Kalau kamu nggak mau saya pacaran sama Luna, stop untuk bertanya tentang dia karena saya tidak suka membicarakan dia!" ucap Raka tegas. Raka mendekati Adinda hingga wajah keduanya terasa sangat dekat. Tangan Raka terulur dan mengelus rambut Adinda lalu merapikan poni Adinda.
Adinda merasakan ada sesuatu yang menghangat dihatinya saat Raka merapikan poni miliknya dengan jari telunjuknya. "Kamu nggak boleh berenang kalau tidak ada saya!" ucap Raka dengan nada memerintah dan tidak ingin dibantah.
"Iya Om" ucap Adinda menundukkan kepalanya. Raka yang seperti ini membuatnya ingin sekali memeluk Raka tapi ia menahannya karena jika ia melakukannya akan berpotensi berbahaya untuk jantung dan hatinya
Raka meletakkan telapak tangannya ke dahi Adinda, ia kahawatir jika suhu tubuh Adinda panas. "Perut kamu nggak apa-apa?" tanya Raka. Tangannya dengan lancangnya turun ke bagian perut Adinda dan ia memegangnya membuat wajah Adinda memanas hingga bersemu merah.
"Perut Dinda, nggak apa-apa Om!" ucap Adinda menyingkirkan tangan Raka dari perutnya.
"Istirahatlah!" ucap Raka mendorong tubuh Adinda dengan pelan dan membaringkan tubuh Adinda. Raka kembali memdekatkan wajahnya membuat Adinda memejamkan matanya seolah menunggu apa yang akan dilakukan Raka padanya. Raka mencium dahi Adinda dengan lembut.
"Terimakasih Om" lirih Adinda. Raka tidak menjawab ucapan Adinda namun ia kembali mengelus kepala Adinda. Kata cinta mungkin menjadi tak penting saat perhatian dan kesungguhan Raka terlihat begitu jelas padanya saat ini. Raka bahkan tak segan masuk kedalam kamarnya dan menjaganya.
"Berjanjilah jika kamu akan berhati-hati Dinda! Kamu membuat saya sangat khawatir tadi!" jujur Raka. "Kalau terjadi sesuatu padamu saya kasihan pada kamu Dinda!" ucap Raka menjauhkan tubuhnya dan memilih duduk di sofa.
"Kasihan?" tanya Dinda menatap Raka dengan kesal. Sepertinya Raka akan mengucapkan kata-kata kasarnya seperti biasanya membuat Adinda bersiap untuk mendengarnya.
"Iya, kasihan karena kamu akan kehilangan saya dan saya mungkin akan segera mencari perempuan yang tidak ceroboh, tidak hebo dan tidak secerwet kamu. Kamu bakal rugi karena laki-laki sesempurna saya, perlahan akan melupakan kamu!" ucap Raka.
Kesal? tentu saja kesal. Tapi mungkin dalam keadaan normal Adinda akan marah bahkan mengamuk seperti sebelumnya. Ia akan mengajak Raka berperang seperti biasanya, entah itu mencoba memukul lengan Raka atau menarik rambut Raka. Namun sekarang ia tahu apa yang diucapkan Raka berbeda dengan hatinya.
Adinda kembali mendudukkan tubuhnya dan kemudian turun dari ranjang lalu melangkahkan kakinya mendekati Raka. Ia duduk disamping Raka, ia mengangkat tangan besar Raka agar merangkul tubuhnya dan ia memeluk tubuh Raka dengan erat. Raka melihat tingkah Adinda yang memeluknya dengan erat membuat senyum dibibirnya terbit. Raka memilih untuk menikmati pelukan Adinda dan memilih untuk diam.
"Terimkasih Om" ucap Adinda. Raka mengelus kepala Adinda menyalurkan rasa sayangnya pada sosok yang selalu mengganggu hari-harinya. Hanya hari ini ia bisa memanjakan perempuan yang ada disampingnya ini, karena besok di kantor, perempuannya ini akan kembali menjadi asistennya yang galak dan yang sering memancing perdebatan diantara keduanya.
tbc...