CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
pedas


Raka dan Adinda menghembuskan napasnya. melihat Vivian yang saat ini diangkat tubuhnya oleh Gemal dan berhasil menggapai kertas yang bergantungan dipohon. Raka memikirkan cara lain bagaimana ia bisa mendapatkan kertas itu tanpa harus menirukan Gemal dan Vivian.


"Kita duluan ya! jangan banyak ngelamun!" ejek Gemal. Ia kemudian melangkahkan kakinya bersama Vivian yang terlihat kelelahan mencari jalan keluar dari taman labirin ini.


Adinda menatap punggung keduanya dengan kesal. "Om ayo cepat pikirkan gimana cara ngambil itu kertas!" ucap Adinda.


Raka menghela napasnya sepertinya memang ia harus mengendong Adinda di pundaknya seperti Gemal dan Vivian tadi "Om itu sepertinya suara Kak Alfa dan Kak Tama" ucap Adinda panik.


"Nggak ada cara lain ayo naik!" ucap Raka menjongkokkan tubuhnya.


"Om Dinda malu ih... " ucap Dinda.


"Mau menang apa nggak sih?" kesal Raka.


"Om kuat nggak kira-kira?" tanya Dinda.


"Kamu pikir saja kira-kira saya kuat nggak gendong kamu yang tukang makan?" ucap Raka dingin.


"Kuat Om kuat, coba tadi Om minun vitamin kuat dulu biar kita nggak jatuh nanti!" ucap Adinda.


"Ngaco kamu ayo naik! Dengerin mulut kamu ngomong lama-lama telinga saya jadi bermasalah. Cepat naik!" perintah Raka lagi membuat Adinda segera naik ke punggung Raka dengan hati-hati dan bluss... pipi Adinda memerah karena jujur ia sangat malu saat ini.


Kalau sama pacat sih ini sangat romantis tapi sama si Om... ya ampun mimpi apa gue semalam.


"Dinda... " panggil Raka. ia telah berhasil berdiri tapi Adinda tidak kunjung menggapai kertas yang berada diatas pohon. "Dinda" teriak Raka.


"E... iya Om" ucap Dinda.


"Cepat ambil kertasnya sekarang juga!" teriak Raka.


"Hehehe... hampir lupa, keenakan digendong sory bos!" ucap Adinda segera mengambil kertas itu. "Udah Om".


Raka dengan perlahan kembali duduk agar Adinda bisa turun dari pundaknya dan ia memegang leher dan pundaknya yang terasa pegal. "Kalau badan saya sakit kamu yang harus tanggung jawab!" ucap Raka kesal.


"Iya Om gampang, ayo cepat kita pergi Om! nah... itu Kak Alfa dan Kak Tama" teriak Adinda. ia menarik tangan Raka dengan cepat.


"Tunggu, lewat sini!" ucap Raka. ia melepaskan tangannya yang dipegang Adinda lalu ia yang saat ini memegang tangan Adinda.


Setelah berhasil keluar dari Taman labirin, Raka dan Adinda merasa lelah. Mereka kemudian melihat beberapa karyawan Resto menyiapkan makanan untuk mereka disebuah pondok "Om ayo kita makan dulu perut Dinda lapar aw... ".


Raka melihat Adinda memegang telapak kakinya dan Raka kembali menjongkokkan tubuhnya. "Naik!" perintah Raka.


"Makasi Om" ucap Adinda. Ia kemudian naik keatas punggung Raka. Tidak ada pembicaraan saat mereka menuju sebuah pondok yang ternyata tempat itu memang disediakan untuk mereka makan siang karena setelah ini mereka akan langsung mengikuti misi selanjutnya


Vivian dan Gemal sedang makan dengan santai disana. Raka dan Adinda mendekati mereka. "Wah mesra banget ya. bentar lagi kita bakalan ada pesta lagi nih kayaknya" goda Gemal saat melihat Raka menggendong Adinda.


"Astaga Om, ternyata Om nggak rela gendongin Dinda?" kesal Adinda.


"Saya nggak mungkin gendong kamu selama acara ini berlangsung. Kamu pikir saya supermen?" ucap Raka membuat Gemal tertawa terbahak-bahak sedangkan Vivian menahan tawanya.


"Ya ampun Om tadi Dinda pikir Om itu lee min ho nya Dinda tapi ternyata Om...Kesel pokoknya Dinda kesel sama Om!" ucap Dinda.


Raka mengembalikan ponsel karyawan itu dan ia duduk disamping Adinda. Adinda menyebikkan bibirnya namun ia tetap saja membantu Raka mengambilkan makanan untuk Raka. "Ini makan yang banyak Om biar kuat dan nggak bawel lagi!" ucap Adinda.


"Hahaha... Om Raka bawel? sejak kecil dia itu pendiam banget mungkin hanya sama lo Din, dia bawel" jelas Gemal.


Raka memakan makananya dengan cepat. Adinda juga memakan makananya dengan wajah yang ditekuk karena kesal. Adinda memotong stik dengan kesal dan brutal. ia mencincang potongan daging dengan pisaunya.


"Stop, kamu mau makan atau mau bikin keributan?" tanya Raka kesal.


"Makan!" kesal Adinda.


Raka mengambil makanan miliknya dan ia menyodorkan kedepan mulut Adinda "Apa maksudnya ini?" tanya Adinda.


"Buka mulutmu!" ucap Raka.


Adinda membuka mulutnya dan Raka menyuapkan makanan yang ada disendoknya itu kedalam mulut Adinda. Adinda mengunyahnya dan ia merasakan pedas dimulutnya. "Om pedes banget, Om mau bunuh Dinda?" teriak Dinda. ia mengibaskan mulutnya karena kepedasan.


"Makan makanamu biar nggak pedas lagi!" perintah Raka.


Mata Adinda berair karena ia sangat kepedasan saat ini hingga ia meneteskan air matanya. "Om jahat banget sih... hiks...hiks...".


Raka mengambil tisunya dan mengelapkan tisu itu ke wajah Adinda yang berkeringat karena kepanasan akibat makanan yang ia makan tadi terlalu pedas. "Emang apa yang Om kasih ke Dinda?" tanya Gemal.


"Dua biji cabe rawit dan ditambah merica" ucap Raka membuat Gemal terkejut.


"Hmptttt... Hahaha" tawa Gemal.


"Hiks... ini KDRT namanya... jahat banget sih" ucap Adinda.


Raka memberikan makananan lain kepada Adinda. "Makan ini dan jangan berisik!" ucap Raka membuat Adinda menuruti perintah Raka dan memakan makanannya dengan cepat.


"Setelah ini misinya apa?" tanya Gemal.


"Coba baca kertasnya!" ucap Raka.


tbc..