CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Raka gila


Adinda tidak mengerti kenapa semua keluarga seolah mendorongnya untuk dekat dengan Raka. Saat ini ia sangat terkejut melihat kehadiran Raka dirumahnya di hari minggu pagi yang cerah ini. Adinda ingat bagimana pertemuan tiga hari lalu saat Farhan memintanya untuk menjadi calon menantunya dan ancaman Raka agar mengikuti keinginan Farhan agar kondisi Farhan tidak memburuk. Adinda tidak menolak dan juga tidak mengiyakan, Ia memilih tersenyum tanpa menjawab.


"Raka udah datang dari tadi lo dek, kamu mandi sana!" ucap Ratna.


Adinda melihat Raka yang berada dibawah dan sedang berbicara dengan Papanya. "Dinda malas mandi masih ngantuk Ma!" ucap Adinda kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya.


Itu orang mau ngapain sih... nggak bosan apa ketemu gue. Tiap hari gue aja bosen ngeliat muka songongnya. Apalagi semua kontak teman laki-laki gue dihapus kan gila banget. Niat dia ngambil ponsel gue ternyata ngeblok nomor Rifki dan menghapus no ponsel teman-teman gue yang berjenis kelamin laki-laki.


Mana Kak Alfa sekarang lagi sibuk mau nikah juga katanya. Nikah aja semua, gue ogah nikah dalam waktu dekat apalagi sama si Om. tiap hari berantem mulu nggak ada romantisnya, itu pasangan serasi?


"Dinda bangun!" teriak Ayunda tepat dibalik pintu kamaranya.


Adinda kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Ia tidak peduli meski sekarang suara Ayunda mulai mengganggunya. Ia kesal kenapa Ayunda juga datang pagi-pagi sekali ke rumah orang tua mereka. Ia ingat Mamanya kemarin membuatkan nastar karena Ayunda memintanya dengan alasan bawaan bayi.


Bawaan bayi apaan dia mah doyan. Sejak dulu kan memang doyan ngabisin kue nastar dan persaudaraannya.


"Dinda anak gadis bangunnya siang nggak malu kamu sama Om Raka?" ucap Ayunda.


"Nggak, ngapain malu sama dia. Lagian dia kenapa kesini pagi-pagi buta?" kesal Adinda. "Mbak sana jangan gangguin Dinda menikmati hari minggu Dinda!" kesal Adinda.


Adinda kembali terlelap namun tiba-tiba seseorang membuka pintu balkon kamarnya dan masuk dengan santai ke dalam kamarnya. Adinda lupa mengunci pintu balkonnya karena tadi malam ia sibuk menanyakan no ponsel teman-temannya kepada teman-temannya yang lainya. Tadi malam Rifki juga menghubunginya dan ia masih berharap agar Adinda mempertimbangkan hubungan mereka mengingat masa pacaran mereka yang cukup lama.


Raka mengedarkan pandanganya dan melihat Adinda tertidur pulas. Senyum setannya tercetak diwajah tampannya dan ia sengaja ingin mengganggu Adinda yang saat ini terbaring dengan terlentang diatas ranjang. Raka menyingkap selimut Adinda dan menaiki ranjang. saat ini ia ikut membaringkan tubuhnya dan siap membekap mulut Adinda saat mata Ainda terbuka.


Adinda merasakan sebuah kaki bergelung di pahanya membuatnya membuka matanya dan ingin berteriak saat melihat Raka berada diatas tubuhnya. Telapak tangan Raka menutup bibir Adinda. "Hmppttt....K... " ucap Adinda.


"Diam kalau kamu nggak mau kita dinikahkan saat ini juga karena teriakan kamu!" bisik Raka. Raka melepaskan telapak tangannya dengan perlahan.


"Om bakalan Dinda laporin ke polisi karena Om melakukan pelecehan!" ucap Adinda.


"Laporkan saja, saya tidak peduli. Kalau mau teriak, teriak saja!" ucap Raka memeluk tubuh Adinda membuat wajah Adinda memerah. Raka menarik kepala Adinda agar bersandar didada bidangnya.


"Om, ngapain sih kayak gini ke Dinda. Udahan yuk menuruti keinginan Kakek, Om!" ucap Adinda.


Raka menatap wajah Adinda yang saat ini sedang menatapanya. "Saya pernah mencium kamu dan saya akan bertanggung jawab untuk itu!" ucap Raka merapikan rambut Adinda yang berantakan.


"Nggak perlu Om, anggap saja saat itu kita lagi syuting adegan romance" ucap Adinda. Tapi sebenarnya ia juga tidak bisa melupakannya ciuman itu. Adinda tidak ingin terjebak dengan pernikahan yang terpaksa dilakukan karena keinginan Farhan. Adinda ingin menikah dengan laki-laki yang mencintainya.


"Oke sekarang kita juga lagi syuting adegan romance!" ucap Raka mendekatkan wajahnya dan mencium Adinda dengan lembut membuat Adinda terkejut. Raka memberishkan bibir Adinda yang basah akibat ulahnya.


Raka berdiri dan merapikan pakaiannya. ia melangkahkan kakinya membuka pintu kamar Adinda. "Bangun kalau dalam lima menit kamu nggak bangun saya datang lagi dan saya bakalan membuat kamu menjadi seorang ibu!" ucap Raka membuat Adinda kesal, ia melempar bantalnya kearah Raka.


"Gila..." teriak Adinda.


"Kamu tahu kan kalau saya cukup gila sama kamu! jadi mandi sekarang juga! atau kamu mau saya mandiin?" tanya Raka membuat Adinda segera berdiri dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.


Kak Guna di cemburuin. Dia mah udah bucin akut kenapa sih Mbak masih cemburuan?.


batin Adinda.


Adinda melihat Raka yang sedang memainkan ponselnya? ponselnya? Adinda mempercepat langkahnya mendekati Raka. "Sini ponsel Dinda!" kesal Dinda.


Raka menatap Adinda tajam membuat sekujur tubuh Adinda merasa terintimidasi. Adinda memilih untuk menjauh dan mendekati Ayunda yang saat ini menangis kesal sambil memakan nastar buatan Mama mereka.


"Pagi-pagi teriakkin Dinda ternyata mau curhat ya Mbak? lagi meranin drama apa?" goda Adinda.


"Ma, Dinda kurang ajar banget sih Mah!" kesal Ayunda.


"Dek, jangan mulai deh. Sana temanin nak Raka!" ucap Ratna.


"Ma, sejak kapan Om Raka jadi anak Mama?" kesal Adinda ia duduk disamping Ayunda dan ikut memakan nastar buatan Ratna.


"Beberapa hari yang lalu nak Raka minta kamu sama Papa dan Mama!" ucap Ratna.


"Minta? memang Dinda barang. Om Dinda bukan barang ya, nggak usah diminta-minta!" teriak Adinda membuat Raka terseyum sinis.


"Dinda, nak Raka baik orangnya. Mana pinter banget dia, kan dia juga diuji sama Papa tentang agama ternyata orangnya top markotop!" ucap Ratna.


Top markotop Mama nggak tahu siapa dia sebenarnya setan aja kalah sama dia. Asal Mama tahu ya, Raka itu suka cium-cium Dinda. Rifki aja paling pegang tangan Dinda eh... tahunya suka main gundu sama cewek yang lain. Nah yang ini keliatan banget mesumnya bisa saja kan suka jajan dimana saja.


"Ma jangan mudah percaya sama yang tampan Ma, biasanya mereka suka memanfaatkan wajah tampanya Ma. sekarang Dinda tanya tampan mana Rifki sama Om Raka?" tanya Adinda.


"Tampan Om Raka lah Din" ucap Ayunda membuat Raka menyunggingkan senyumannya menyetujui ucapan Ayunda kalau dirinya memang lebih tampan dari pada Rifki.


"Makanya Dinda nggak mau mbak, Dinda mau cari yang biasa-biasa saja. Lihat Mbak Ayu capek kan jagain Mas Guna kemana-mana, agar nggak kepincut cewek lain yang lebih seksi dan nggak bengkak kayak gini!" ucap Adinda membuat Ayunda menangis kencang.


"Mama...hiks...hiks... " tangis Ayunda kembali pecah.


"Dinda... kamu ini kebiasaan ya!" teriak Ratna membuat Adinda tertawa terbahak-bahak.


"Makanya Bu Mil, kalau cemburu itu jangan kelewat batas. pakek ngambek segala! Kak Guna itu bucin tingkat dewa sama Mbak. Namanya juga lagi hamil wajar kan jadi gemuk" ucap Adinda.


Tadi malam ia juga mendapatkan pesan dari Guna yang mengatakan jika Ayunda cemburu pada resepsionis baru yang cantik di kantornya, usut punya usut Ayunda kesal karena Guna tersenyum pada resepsionis itu. Ayunda merasa dirinya gemuk dan mungkin akan membuat Guna tidak menyukainya lagi.


tbc...


jangan lupa vote, jempol dan komentar ya!