
Pukul sembilan malam ternyata tamu yang datang semakin banyak, Adinda menemani Raka berbicara dengan beberapa kolega bisnisnya. Adinda menggoyangkan lengan Raka membuat Raka menolehkan kepalanya.
"Kak Lapar!" bisik Adinda.
Raka memegang tangan Adinda dan menatap rekan bisnisnya ini dengan tatapan ramahnya "Pak Davi saya permisi dulu, nanti kita bicarakan tentang resort baru itu saat rapat selanjutnya. Sejujurnya saya sangat tertarik untuk bekerja sama lagi dengan Pak Davi!" ucap Raka.
"Aduh jadi ganggu pengantin baru nih!" goda Davi tersenyum.
"Istri saya lapar pak!" ucap Raka jujur membuat Adinda malu.
Nggak usah dibilang juga Dindanya lapar Kak, bohong dikit kenapa sih? ngeselin banget sih...
batin Adinda.
"Kamu sih Pa, ngomongin bisnis disini!" protes istri Davi membuat Adinda tersenyum karena istri Davi juga sangat ramah kepadanya.
Raka menjabat tangan Davi dan beberapa rekan bisnisnya yang lainnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya sambil memegang tangan Adinda keluar dari pesta ini.
"Makan didalam aja kali Kak, ngapain keluar nanti Papi nyariin kita gimana?" tanya Adinda.
"Ikut aja nggak usah protes!" ucap Raka seperti biasa, tidak ingin dibantah membuat Adinda kesal.
Adinda mengikuti Raka yang masuk kedalam lift dan menuju lantai atas. Lift terbuka dan mereka keluar dari dalam lift. Adinda membuka mulutnya saat melihat disepanjang koridor terbentang karpet merah dengan taburan kelopak bunga. Keduanya berjalan di koridor itu dan Adinda memeluk lengan Raka sambil tersenyum.
"Makasi Kak!" ucap Adinda membuat Raka tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Terimakasih buat apa?" tanya Raka.
"Kejutannya" ucap Adinda tersenyum manja.
"Siapa yang memberikan kejutan kepadamu?" ucap Raka datar membuat Adinda memukul lengan Raka.
"Dinda serius Kak, ini kenapa ada karpet merah segala? ada taburan bunga juga, nggak mungkin tiap hari kayak gini" ucap Adinda.
"Ini konsep dari hotelnya, ayo!" ajak Raka. Jelas-jelas Raka yang telah menyiapkan semua ini dan ini bukanlah konsep acara hotel mereka. Mereka melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu besar dan Raka mendorong pintu itu, membuat Adinda lagi-lagi tersenyum saat melihat kamar yang terlihat sangat besar dan mewah.
Adinda melepaskan tangannya dari lengan Raka dan ia menatap sekelingi kamar dengan kagum. Adinda tertawa saat melihat sebuah boneka twity bewarna kuning dan sebuah bantal pinsang terletak di atas sofa.
"Tahu aja Kakandaku ini sama boneka kesukaanku!" ucap Adinda. Ia memeluk kedua boneka itu dengan gemas.
Adinda kemudian mendekati ranjang yang terlihat sangat luas. Diatas ranjang ini terdapat fotonya bersama Raka membuat Adinda kembali tersenyum.
"Kenapa nggak ada kelopak bunganya diatas tempat tidurnya?" tanya Adinda.
"Saya nggak suka tidur diatas kelopak bunga Dinda!" jelas Raka.
"Memang Kakanda mau tidur sama Dinda disana?" goda Adinda menaik-turunkan alisnya membuat Raka menatap Adinda dengan tatapan datar.
"Saya tidak keberatan meniduri kamu di lantai kalau kamu mau!" ucap Raka membuat Adinda menyilangkan kedua tangannya seolah melindungi tubuhnya.
"Dasar mesum" ucap Adinda.
"Mesum sama kamu udah nggak dosa lagi!" ucap Raka.
"Tadi siang saya memeluk kunti yang sedang tidur, tapi sayang kuntinya nggak sadar dipeluk!" ucap Raka membuat Adinda terkekeh.
"Hehehe...Dinda tidur kayak kebo ya Kak, maafin ya!" ucap Adinda.
Raka melepaskan tangan Adinda dan memutar tubuh Adinda lalu ia memeluk Adinda dengan erat. "Katanya kamu lapar?" tanya Raka.
"Iya lapar banget" ucap Adinda.
"Ayo kita makan bersama untuk pertama kalinya sebagai suami dan istri, Nyonya Raka Candrama!" ucap Raka membuat Adinda merasa ia adalah wanita yang paling bahagia saat ini.
Raka mengambil sebuah remote dan menekannya. Perlahan gorden yang menutupi pintu kaca terbuka otomatis dan memperlihatkan tempat yang sangat indah. Terdapat meja makan dan lilin-lilin yang menerangi suasana romantis ini.
Raka mengajak Adinda untuk duduk membuat Adinda meneteskan air matanya. Ia tidak berharap Raka memperlakukannya dengan memberikannya kejutan seromantis ini. Isak tangis Adinda membuat Raka memeluk Adinda.
"Udah jangan nangis, air mata kamu nggak bisa membuat perut kamu kenyang Dinda!" ucap Raka. Tetap saja Raka dengan ucapannya yang tidak romantis itu, bertolak belakang dengan tindakan Raka yang romantis.
"Makasi Kak!" ucap Raka lagi.
"Nggak usah terimakasih, sekarang kamu harus banyak makan biar kuat!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum.
"Iya tapi suapin!" pinta Adinda.
"Kamu punya tangan Dinda makan sendiri!" ucap Raka.
"Romantisnya tanggung banget sih Kak, suapin dong!" ucap Adinda menunjuk steak yang masih hangat itu dengan isyarat bibirnya.
"Satu potongan satu ciuman!" ucap Raka membuat Adinda melototkan matanya.
"Dinda bisa makan sendiri Kak!" ucap Dinda segera memotong steaknya dengan kesal membuat Raka tersenyum.
Raka mengangkat steak miliknya yang telah ia potong-potong dan memberikannya kepada Adinda. "Makanlah!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum senang.
Adinda memakan steaknya dengan lahap sambil sesekali menatap Raka yang saat ini juga sedang memakan makananya. Adinda mendengar teriakan Ayunda yang berada di balkon kamar yang ada disebelahnya.
"Dinda... " teriak Ayunda.
"Mbak" teriak Adinda.
"Mbak Ayu makan malam juga kayak kita ya Kak?" tanya Adinda "Jadi ini idenya Gemal?" tebak Adinda membuat Raka menaikan satu alisnya.
"Menurut kamu?" tanya Raka.
"Menurut Dinda konsep kayak gini biasanya Gemal yang punya ide!" ucap Adinda.
"Ini semua saya sendiri yang persiapkan dan Guna juga ingin membahagiakan istrinya dengan cara yang sama. Saya tidak pelit berbagi ilmu untuk membahagiakan istri saya!" jelas Raka. "Tapi khusus buat kamu perlakuan saya yang romantis ini tidak gratis Dinda!" ucap Raka tersenyum sinis, membuat tenggorokan Adinda terasa kering.
Gue harus bayar pakai apa? jangan-jangan...
tbc...
Dukung terus novel ini dengan vote, jempol dan komentarnya. Terimakasih 🙏