
Adinda mengunyah makanannya dengan gugup, jika biasanya ia bisa makan banyak dan lahap, tapi sekarang tiba-tiba menelan makanan pun ia sulit karena Raka sedang mengamati pergerakannya. Raka mengulurkan garpunya yang berisi sepotong daging ke dekat mulut Adinda.
S**atu potong daging satu ciuman, aduh kok gue gugup begini ya...
"Buka mulutmu!" ucap Raka dingin dengan gaya memerintahnya.
"Nggak usah Kak, Dinda udah kenyang!" ucap Dinda menolaknya secara halus.
"Saya tahu porsi makan kamu itu dua kali porsi makan saya!" ucap Raka.
"Nggak Dinda nggak makan banyak kok, siapa bilang Dinda selalu makannya dua porsi" ucap Adinda malu karena Raka mengingat porsi makannya yang begitu besar. "Kalau merasa rugi punya istri makan banyak kayak Dinda, Dinda bisa beli sendiri!" ucap Adinda membuat Raka terkekeh.
"Bisa, tapi pasti pakai uang saya!" goda Raka.
Ya ampun sekarang kakandaku ini sudah bisa menebak apa yang aku pikirkan.
"Kamu mana mau rugi, ayo buka mulutnya!" ucap Raka membuat Adinda segera membuka mulutnya dan Raka segera memasukkan potongan daging kedalam mulut Adinda. Adinda dengan wajah yang merah karena malu, mengunyah makanannya dengan pelan.
Setelah menghabiskan steak milik Raka, Adinda saat ini memperhatikan kesekelilingnya, Pemandangan lampu-lampu kota terlihat begitu indah dan ia terkejut saat melihat Raka saat ini sedang memunggunginya dan memakai sebuah teropong bintang yang ternyata sudah ada sejak tadi di sudut balkon. Adinda mendekati Raka karena ia penasaran dengan apa yang Raka lihat.
"Mau lihat juga kak!" ucap Adinda membuat Raka mengulurkan tangannya agar Adinda lebih dekat lagi dengan Raka. Adinda tersenyum dan menyambut uluran tangan Raka. Adinda merasakan sebelahtangan Raka memeluk pingganya dan sebelah tangan Raka yang satunya lagi memegang teropong sambil mengaturnya.
"Lihatlah!" ucap bisik Raka membuat sesuatu menghangat ditubuh Adinda akibat perlakuan manis dari Raka.
Adinda mendekatkan matanya kedalam teropong dan ia tersenyum saat melihat bintang bertaburan di langit terlihat begitu jelas.
"Bintang yang paling terang itu seperti kamu Dinda. Banyak perempuan yang cantik disekeliling saya, banyak perempuan yang hebat yang menginginkan saya, tapi hanya satu bintang yang selalu saya ingat. Bintang itu kamu!" ucap Raka membuat Adinda membalikan tubuhnya dan memeluk Raka dengan erat membuat Ayunda dan Guna yang juga berpelukan dibalkon disebelah mereka tersenyum melihat kemesraan Adinda dan Raka.
"Terimakasih," bisik Adinda.
"Sama-sama istriku," ucap Raka membuat Adinda mengeratkan pelukannya.
Angin berhebus dan udara semakin dingin membuat Raka melepaskan pelukannya "Ayo masuk sudah malam, besok pagi-pagi kita akan pergi ke suatu tempat!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum manis menatap wajah tampan yang ada dihadapannya.
Cup, Raka mengecup bibir Adinda membuat Adinda malu. "Makeupnya dibersihkan sebelum tidur! saya tidak mau tidur sambil memeluk kunti!" ucap Raka membuat Adinda menyebikkan bibirnya.
"Kunti kemarin kan istri kamu!" ucap Adinda menunjuk dada Raka membuat Raka terkekeh. Ia menarik tangan Adinda dan mengigitnya pelan membuat Adinda memukul dada Raka karena kesal. "Udah mulai jahi ya kamu Kak!" ucap Adinda.
"Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Adinda manja. Raka mengangkat sebelah alisnya membuat Adinda kesal karena Raka tidak menjawab pertanyaanya.
"Mandi sana! Kalau kamu nggak mau mandi, saya bisa memandikan kamu!" ucap Raka tiba-tiba memintanya untuk mandi.
"Nggak usah, Dinda bisa mandi sendiri!" ucap Adinda dengan wajah memerah medemar ajakan Raka. Dimana keberaniannya untuk merayu Raka? Ternyata bibirnya hanya berani berucap tapi tidak berani melakukan aksinya.
Adinda melepaskan pelukannya dan segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Sedangkan Raka memilih untuk menghubungi seseorang dan memerintahkannya melindungi Radina. Ingin sekali rasanya Raka memukul wajah laki-laki yang telah membuat adiknya itu, memiliki trauma yang begitu besar. Raka masuk kedalam kamar, ia membuka jas yang ia pakai dan juga kemeja yang ia kenakan. Adinda keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya itu terlihat begitu tampan dengan dada bidang dan perut ratanya yang begitu seksi.
perut gue buncit, Perut Kak Raka rata...ckckck... pantasan aja banyak yang suka sama Kak Raka. Astaga gue nggak nyangka aja punya suami sehebat dan setampan lo Kak. Ketamoanan lo bahkan melebihi Kakak ipar gue yang pelukable.
Raka menolehkan kepalanya melihat Adinda yang hanya memakai jubah mandi dan wajah alami istrinya itu membuat Raka terpesona. Adinda baginya lebih cantik tanpa makeup seperti sekarang. Raka mengerutkan dahinya saat melihat Adinda ya g terlihat bingung.
Adinda mencari keberadaan kopernya dan ia menatap Raka dengan kesal. "Koper Dinda nggak ada, masa Dinda tidur pakai handuk" ucap Adinda kesal.
"Nggak usah pakai baju!" ucap Raka yang kemudian membuka celananya, membuat Adinda membuka mulutnya. Raka tersenyum sinis karena melihat ekspresi wajah istrinya dan ia tahu apa yang dipikirkan istrinya saat ini. "Saya masih pakai celana Dinda, menang banyak kamu kalau ngelihatin benda sakti punya saya!" ucap Raka membuat Adinda melepar bantalnya kearah Raka.
Raka mendekati Adinda membuat Adinda waspada. "Pakai kemeja saya!" ucap Raka menunjuk kopernya membuat Adinda dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Raka tersenyum karena berhasil menggoda Adinda. Ia kemudian mencium bibir Adinda dengan lembut membuat jantung Adinda berdetak dengan kencang. Raka tersenyum puas karena melihat wajah Adinda merah padam.
"Saya mandi dulu ya!" bisik Raka membuat bulu kuduk Adinda meremang. Raka segera masuk kedalam kamar mandi membuat Adinda mematung karena Raka berhasil menggodanya.
Arghh... gue bisa gila. Baru kali ini gue kalah sama cowok yang biasanya malu gue godain. ini gue yang tergoda. ini nggak bisa dibiarni. Gue harus cepat pakek baju dan tidur duluan.
Adinda bergegas membuka koper Raka dan ia melihat kemeja putih milik Raka dan segera memakainya. Adinda mengambil celana dalam Raka dan memakainya walaupun terlihat kebesaran untuk tubuhnya.
Ini si Mbak Ayunda dan Mbak Karina mau ngerjain gue...koper gue bukannya di bawa kesini tapi hilang entah kemana.
Adinda segera membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Ia berharap
ia bisa segera tidur saat ini, karena hari ini membuatnya sangat lelah dan malam ini ia ingin apa yang direncanakan Raka padanya gagal total.
tbc...