
Setelah pembicaraannya alot bersama kedua keponakannya dan ia berhasil membalas perbuatan kedua keponakannya. Raka melangkahkan kakinya meningglkan Gemal dan Guna yang kesal dengan senyum penuh kemenangan. Ternyata menjadi lebih tua dari keduanya adalah keuntungan baginya. Ia bisa memeritahkan keduanya sesuka hatinya dan bisa mengancam keduanya dengan mengatakan jika ia adalah orang tua mereka.
Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat ini di kediamannya pasti sedang sibuk menpersiapkan acara makan malam keluarganya. Jangan sebut namanya Raka Candrama jika ia tidak bisa membalik keadaan. Raka melihat ponselnya dan istrinya menghubunginya. Ia tersenyum dan sudah menduga jika istrinya tidak akan tahan ia acuhkan tapi mengingat nama Rifki membuatnya benar-benar kesal.
Sementara itu Adinda menyebikkan bibirnya karena Raka tidak menjawab ponselnya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Raka marah padanya. Vivian sejak tadi mengamati Adinda yang terlihat sibuk dengan ponselnya dan membuatnya penasaran.
"Kenapa Din?" tanya Vivian.
"Aku salah, aku kekanak-kanakan. Dia marah sama aku Vian hiks...hiks..." tangis Adinda pecah membuat Vivian terkejut. Vivian mendekati Adinda dan memeluk Adinda dengan erat.
"Kok bisa gitu Din, cerita sama aku Din!" ucap Vivian.
Adinda terisak dan kemudian ia menceritakan kepada Vivian bagaimana tingkahnya yang sengaja ingin menggoda Raka dengan permintaan anehnya. Kalau soal pempek kapal selam yang ingin ia makan memang ia sangat ingin memakannya.
"Kak Raka itu marah banget karena aku bilang kalai Rifki dia pasti mau" ucap Adinda membuat Vivian melototkan matanya.
"Pantasan saja dia begitu marah sama kamu Din, Om Raka itu egonya tinggi. Dari kecil sampai sekarang apapun yang Om Raka inginkan pasti dia dapatkan Din. Apalagi Om sangat tidak suka orang lain dibanding-bandingkan dengan dirinya" jelas Vivian.
"Jadi aku harus gimana Vi?" tanya Adinda memegang tangan Vivian dan menatap Vivian dengan tatapan sendu.
"Biasanya kamu punya cara sendiri ngerayu Om Raka Dinda" ucap Vivian.
"Itu hanya perasaanmu saja Dinda, Om Raka nggak akan tega marah lama-lama sama kamu Din" ucap Vivian. "Yaudah coba kamu telepon Om Raka lagi!".
"Vian aku ke kamar dulu ya!" ucap Adinda.
"Ok, jangan nangis lagi ya Din!" ucap Vivian.
"Nggak janji Vian!" ucap Adinda membuat Vivian tertawa terbahak-bahak.
Adinda melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan ia tidak menyangka jika Raka saat ini sudah pulang. Raka menyadari kehadirannya dan hanya meliriknya sekilas tanpa tersenyum apalagi menegurnya. Adinda menggit bibirnya dan mendekati Raka yang sedang melepaskan dasi dan kemudian jam tangannya.
"Kak... " panggil Adinda. "Kakak baru pulang?" tanya Adinda lagi. Ia memegang lengan Raka membuat Raka membalikan tubuhnya dan menatap Adinda dengan datar.
"Kok telepon Dinda nggak diangkat Kak?" tanya Adinda sendu.
"Nggak sempat angkat telepon lagi sibuk" ucap Raka yang kemudian membuka kemejanya dan memasukan kemejanya kedalam tempat pakaian kotor. Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.
Adinda menatap punggung Raka dengan sendu, tangisannya pecah dan ia memilih untuk duduk diranjang. "Maaf" lirih Adinda menundukkan kepalanya dan ia menyesali perkataannya yang telah membuat suaminya itu marah padanya.
"Dinda keterlaluan Kak" lirih Adinda dan ia membaringkan tubuhnya sambil menangis.