CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Nasehat Raka


Suster mendekati Adinsa dan ia melihat pipi Adinda membiru. Ia berbisik kepada Adinda sambil menatap kearah Raka.


"Mbak suaminya ganteng amat tapi sayang ya suka mukul," ucap Suster itu membuat Adinda melototkan matanya karena terkejut dengan ucapan suster itu. Adinda bisa melihat tatapan kekaguman dari suster itu melihat ketampanan suaminya. Adinda juga merasa sangat beruntung memiliki suami setampan Raka. Untung saya Rayhan mirip dengan suaminya dan Adinda yakin jika Rayhan besar nanti, Rayhan akan menjadi para idola perempuan.


"Hehehe Suster salah paham, suami saya ada nyamuk dipipi saya aja pukul pipi saya, dia nggak tega. Apa lagi mukulin pipi saya sampai biru dan bengkak kayak gini!" jelas Adinda.


"Jadi karena apa Mbak?" tanya Suster itu penasaran.


"Berantem sama ibu sosialita yang sombong banget Mbak dan tega banget nyakitin hati putri saya. Lah saya ibunya aja ngejaga banget hati anak saya biar nggak terluka, eh dia beraninya membuat anak saya nangis," kesal Adinda mengingat sosok Elysa dan Indra.


"Aduh ngeri ya Mbak sampai main pukul gitu," ucapnya.


"Dinda," panggil Raka.


"Permisi ya Sus!" pamit Adinda dan ia segera mendekati Raka dan duduk disamping Raka.


"Kenapa Kak?" tanya Adinda. Raka memberikan isyarat matanya karena beberapa perempuan menatap kearah Raka membuat Raka merasa tidak nyaman.


Adinda terkekeh melihat tingkah suaminya "Hehehe... salah sendiri kenapa kalian itu para Candrama gantengnya kebangetan," ucap Adinda.


Raka mengelus kepala Adinda membuat Adinda memeluk lengan Raka dengan erat. Beberapa menit kemudian Adinda diperiksa dokter permpuan yang ternyata juga takjub melihat wajah tampan Raka. Dokter segera memeriksa Adinda dan saat ini ia sedang menuliskan resep. Dokter perempuan itu kemudian kembali menatap wajah Raka "Hmm... Pak saya boleh nanya nggak?" tanyanya.


"Boleh, kenapa Dok?" ucap Adinda mewakili Raka. Adinda penasaran dengan pertanyaan yang ingin ditanyakan Dokter itu. Adinda juga harus waspada melihat sang Dokter yang sepertinya sejak tadi tertarik dengan wajah tampan Raka.


"Bapaknya kenal nggak dengan Kak Adam?" tanya Dokter itu.


"Hehehe... Dok suami saya ini Kakaknya Adam," ucap Adinda terkekeh.


"Beneran Mbak?" tanya Dokter itu dan ia segera mengganti panggilan formalnya menjadi Mbak kepada Adinda. "Pantas saja Mbak, soalnya matanya mirip sama mata Kak Adam," ucap Dokter itu yang ternyata bernama Nadia.


"Saya Nadia Kak, Mbak. fansnya Kak Adam," ucap Nadia membuat Raka menganggukkan kepalanya tanpa tersenyum.


"Ya ampun Mbak mirip benget mirip banget dengan Kak Adam tapi Kak Adam lebih tampan," ucap Nadia membuat Raka terbatuk dan Adinda tertawa terbahak-bahak.


"Nad, kamu mau jadi adik ipar aku ?" goda Adinda membuat suster yang berada disebelah Nadia menahan tawanya.


"Mau banget Mbak," ucap Nadia menatap Adinda dengan tatapan penuh harap.


"Main kerumah ya, mana no ponsel kamu!" pinta Adinda. Nadia dengan cepat memberikan ponselnya agar Adinda segera mengetikkannya.


"Mana resep obatnya Dok?" tanya Raka dingin.


"Ini!" ucap Nadia menyerahkannya kepada Raka.


Nadia mendekati Adinda dan berbisik kepada Adinda. "Mbak dingin-dingin mirip banget sama Kak Adam. Walau Kak Adam nggak suka sama Nadia, tapi Nadia masih terus kasih perhatian sama Kak Adam. Karena batu aja yang sangat keras kalau ditetesin air bisa hancur juga Mbak. Apalagi hati kalau Nadia tetesin dengan perhatian lama-lama hatinya luluh juga Mbak!" ucap Nadia membuat Adinda tertawa dan kemuidan ia mengeluh karena pipinya terasa sakit.


"Aduh... " ringis Adina.


"Kita pamit Dok, terimakasih!" ucap Raka.


"Sama-sama Kakak ipar," ucap Nadia membuat Raka menghela napasnya. Ia menarik tangan Adinda agar segera pulang. Adinda dengan isyarat tangannya meminta Nadia agar segera menghubunginya.


Adinda dan Raka melangkahkan kakinya menuju mobil. Adinda menahan tawanya mengingat dokter imut bernama Nadia yang ternyata menyukai Adam. Keduanya saat ini telah berada didalam mobil. "Kak," panggil Adinda.


"Hmm..."


"Menurut Kakak Nadia cocok nggak sama Adam?" tanya Adinda.


Raka melirik Adinda dan kemudian kembali fokus mengemudikan mobilnya. "Jangan ikut campur masalah Adam, Dinda!" ucap Raka.


"Hahaha...terlambat Kak Dinda udah minta Adam pulang biar bisa ketemu Nadia," tawa Adinda.


"Dasar jahil," ucap Raka mengacak-ngacak rambut Adinda.


"Kak pipi Dinda masih biru besok pasti Feli nanya Kak, gimana ya?" tanya Adinda.


"Bilang aja kamu jatuh dari tempat tidur! Hmmm... besok Kakak mau ketemu kepala sekolah Felisa," ucap Raka.


"Mau ngapain?" tanya Adinda.


"Minta anaknya Indra itu pindah kelas!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum karena Raka tidak meminta kepala sekolah mengeluarkan Nisa dari sekolah. "Nisa anak kecil besok mungkin dia sudah main lagi sama Feli, yang perlu Kakak lakukan adalah membuat keluarga mereka jera Dinda. Karena kekayaan bukanlah segalanya dan kamu juga harus tahu Dinda, Harta yang kita miliki itu sebagian adalah milik orang lain Dinda. Jadi nggak usah sombong dengan apa yang kita miliki. Kita itu harus menginfakkan sebagaian harta kita untuk orang-orang yang berhak seperti anak yatim piatu, orang miskin dan tempat ibadah. Bukan menghamburkan uang untuk memperlihatkan kemewahan dan menujukkannya kepada orang-orang," jelas Raka membuat Adinda bertambah kagum dengan suaminya.


"Kakak tidak melarang kamu berkumpul dengan para sosialita tapi kamu harus tahu posisi kamu. Kamu bisa lihat Mbak Elin, dia mendedikasikam dirinya untuk hal-hal positif yang sosial Dinda!" nasehat Raka.


"Iya Kak," ucap Adinda tersenyum dan ia sangat setuju dengan ucapan suaminya.