
Raka sangat marah karena Adinda terluka dan yang paling menyakiti hatinya yaitu saat putri kecilnya itu terisak dipelukannya. Ia tidak mengerti kenapa masih saja ada orang-orang seperti Indra dan Elysa yang tega menyakiti putri kecilnya. Felisa pernah sangat terluka saat kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan dan Felisa harus tinggal dipanti.
Adinda bisa melihat wajah dingin Raka dan rahangnya mengeras seolah ingin sekali menghajar Indra. Adinda menghela napasnya karena ia tidak ingin masalahnya menjadi semakin memanas. Apalagi jika Raka tahu, Indra pernah menaruh hati padanya dan berusaha mendekatinya walaupun saat itu Indra telah menikah.
Dua orang bodyguard mendekati mereka. "Istri saya dan anak saya akan pergi bersama saya! kalian boleh pulang!" ucap Raka dingin. Raka ingin memarahi kedua bodyguardnya itu, tapi ia menyadari jika semua ini tidak sepenuhnya salah mereka karena Adinda yang tidak ingin keduanya mengikutinya.
"Baik Pak," ucap salah satu dari mereka.
Adinda mengambil alih Felisa dari gendongan Raka dan mereka segera masuk kedalam mobil. Raka menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Adinda tidak berani memulai pembicaraan karena tipe suaminya ini jika sedang marah, yang pastinya akan membuatnya takut. Ia ingat saat kejadian waktu itu Raka yang marah hilang kendali dan menciumnya dengan kasar. Gemal juga pernah mengatakan padanya jangan coba-coba membangunkan singa tidur.
"Ada yang ingin kamu jelaskan?" tanya Raka membuka pembicaraan.
"Nanti saja Yah," ucap Adinda. Raka melirik Felisa yang ternyata saat ini menatapnya dengan air mata yang masih menetes membuat Raka, mengulurkam tangannya dan mengelus kepala Felisa dengan lembut.
"Anak Ayah, kok masih nangis?" tanya Raka dan ia saat ini mengubah ekspresi amarahnya yang sejak tadi ia tunjukkan dengan ekspresi yang melembut.
"Feli minta maaf Yah! Ayah jangan marah sama Feli dan sama Bunda hiks...hiks..." tangis Felisa pecah membuat Raka menghela napasnya.
"Siapa yang marah sama Feli? Ayah nggak marah sama Feli," jelas Raka sambil mengemudikan mobilnya.
"Ayah marah, Feli lihat Ayah tadi ngeliatin Bunda kayak gitu. Feli memang sering berantem sama Nisa Yah. Nisa nggak bolehin Feli main sama dia dan teman-teman Feli yang lain. Katanya Feli itu anak panti, Maminya bilang begitu. Feli kan memang pernah tinggal disana tapi Yah Feli anak Aya dan Bunda!" ucap Felisa. "Feli marah terus... maaf Yah hiks...hiks... Feli nggak nakal dan marah-marah lagi. Feli bilang kalau Feli anak Ayah dan Bunda tapi mereka nggak percaya," ucap Felisa menangis pilu membuat Adinda memeluknya dengan erat.
"Feli mau pindah sekolah?" tanya Adinda.
Raka tahu putrinya sangat suka bersekolah disana tapi ia tidak ingin putrinya dibully di Sekolah dan diejek anak pungut. "Kalau Feli masih mau sekolah disana Feli harus kuat dan jangan mudah marah!" ucap Adinda. "Feli nggak boleh jadi pemarah kayak Ayah!" goda Adinda mencoba mencairkan suasana agar Felisa berhenti menangis.
"Apa-apaan kamu Bun, Ayah mana ada pemarah," ucap Raka menatap istrinya itu dengan kesal.
"Kata Mbak Vian, yang pemarah itu Kak Gemal," ucap Felisa membuat Adinda tertawa. Gemal yang meminta Felisa memanggilnya Kakak biar keliahatan masih muda.
"Hahaha sama aja, keluarga kita itu yang laki-laki pemarah semua," tawa Adinda. "Lucu ya Yah, Feli diminta Gemal manggilin dia Yah," ucap Adinda.
"Memang harusnya begitu Bun," ucap Raka.
Raka melihat Felisa membuka mulutnya karena mengantuk. "Feli ngantuk?" tanya Raka.
"Iya Yah," ucap Felisa.
"Tidur aja nak kalau ngantuk!" ucap Raka.
Adinda mengelus kepala Felisa dan ia tahu setelah Felisa tertidur Raka pasti akan kembali bertanya padanya. Beberapa menit kemudian Felisa tertidur dipelukan Adinda. Raka menghela napasnya saat mengingat kejadian tadi.
"Lain kali kalau ada masalah seperti ini kamu jangan mencoba menyelesaikannya sendiri!" pinta Raka. Ia kesal dengan dirinya karena tidak bisa melindungi istri dan anaknya. Jika saja ia terlambat tadi, Adinda pasti akan dipukul Indra.
"Kamu tahu Dinda bagaimana sifat saya, mereka yang mulai dan jangan menyesal jika nanti mereka menerima akibatnya!" ucap Raka dingin membuat Adinda menelan ludahnya karena sepertinya Elysa dan keluarganya pasti terkena imbasnya.