
Raka berencana akan pergi ke puncak hari minggu pagi dan ia akan menginap bersama keluarganya disebuah Vila miliknya. Ia menatap istrinya yang saat ini sedang tertawa bersama Papinya. Raka mendekati Adinda, ia bisa mendengar pembicaran Adinda dan Papinya.
"Pi, Dinda pengen makan steak juga Pi kayaknya enak banget. Tapi makanya direstauran Pi biar romantisan gitu," ucap Adinda sambil menonton adegan romantis disebuah drama yang saat ini ia tonton bersama Farhan. Adegan di Tv memperlihatkan suasana makan siang di sebuah Restauran.
"Ajak suami kamu dong Din!" ucap Farhan.
"Suami Dinda sibuk Pi, Dinda perginya nanti sama Felisa aja besok atau lusa karena Dinda mau cari digoogle restauran yang menu makanannya ade steak yang kayak di Tv" ucap Adinda membuat Raka yang ada dibelakang Adinda menghela napasnya. Adinda pasti tidak akan mengatakan keinginannya itu padanya.
"Kakak nggak sibuk, Din" ucap Raka membuat Farhan tersenyum. Ia tahu jika hubungan Raka dan Adinda sedikit bermasalah. Adinda membalik tubuhnya dan terkejut saat melihat Raka yang saat ini ada dibelakangnya. Raka melangkahkan kakinya mendekati Adinda, Ia merangkul Adinda yang sedang duduk dari belakang dan mencium pipi Adinda dengan lembut.
"Kok udah pulang?" tanya Adinda menatap Raka dengan bingung. Biasanya hari sabtu Raka akan datang ke hotel untuk mengadakan rapat mingguan dengan semua karyawan hotel yang memimpin hotel di kota-kota besar lainnya.
"Kangen istri," ucap Raka singkat namun membuat wajah Adinda memerah karena malu dan juga senang. Jawaban Raka membuat kupu-kupu seperti mengelitik perut Adinda dan ia merasa sangat bahagia saat ini. Perhatian kecil Raka, mampu membuat ibu hamil seperti dirinya merasa sangat bahagia. Berbeda dengan sebelumnya Adinda bisa protes karena Raka sibuk bekerja dan ucapan Raka yang dingin biasanya hanya akan ia anggap angin lalu. Hormon kehamilan yang membuatnya sering kali berpikiran aneh dan sikapnya menjadi lebih sensitif.
"Mau ke Restauran? Restauran mana ayo Kakak antar!" ucap Raka membuat Adinda menatap Raka dengan tatapan bingung. Ia mengerjapkan matanya dan itu terlihat sangat menggemaskan bagi Raka. Adinda bingung ingin menjawab apa. Pikirannya masih sama saat ini, jika ia tidak ingin merepotkan Raka dan takut Raka akan mendiamkannya seperti saat dulu.
"Kakak nggak repot?" tanya Adinda membuat Raka menghela napasnya.
Farhan memahami situasi ini, Raka dan Adinda membutuhkan waktu berdua. "Papi mau pergi sama Felisa ke Rumah Aditya. Kalian kalau mau pergi, pergi saja!" ucap Farhan.
"Papi ikut aja sama kita!" ucap Raka membuat Farhan menghela napasnya.
Raka memang sama seperti dirinya tidak romantis dan cenderung dingin. Untung saja Raka memiliki istri sebaik Adinda yang pengertian, jika tidak mungkin Adinda memilih pulang ke Rumah orang tuanya.
"Kalian aja pergi berdua, Papi sama Felisa mau main sama Ghavin!" ucap Farhan. "Raka, perhatikan istrimu, jangan bisnis aja yang kamu pentingkan. Ingat keluarga nomor satu!" ucap Farhan mengingatkan putra bungsunya itu agar tidak melakukan kesalahan seperti dirinya dulu.
"Iya Pi."
Farhan meminta perawat yang menjaganya agar segera membawanya ke ruang bermain tempat Felisa yang saat ini sedang bermain dengan boneka-boneka kesukaannya. Ia akan mengajak Felisa pergi ke rumah putra sulungnya dan menghabiskan waktu seharian disana.
Saat ini Raka duduk disamping Adinda dan ia menatap istrinya itu yang sepertinya terlihat sedang banyak berpikir. Raka menarik lembut kepala Adinda agar bersandar dilehernya. "Kamu takut Kakak mendiamkanmu lagi?" tanya Raka membuat Adinda menganggukkan kepalanya.
"Dinda nggak suka Kakak begitu sama Dinda," lirih Adinda.
"Waktu itu Kakak cemburu. Setiap kamu mengatakan tentang Rifki, ada perasaan iri karena Rifki lebih mengenal dan memahamimu dari pada Kakak Dinda" ucap Raka membuat Adinda terkejut.
"Kamu boleh minta apapun, kalau Kakak bisa kabulkan akan Kakak lakukan Dinda" ucap Raka mencoba membujuk Adinda agar mau bergantung padanya.
Tadi pagi Raka dimarahi Maminya dan juga Raka telah membuat Lastri maminya itu yang kembali meminta maaf padanya. Lastri merasa karakter Raka yang dingin juga karena dirinya yang tidak menjaga dan membesarkan Raka. Lastri meminta Raka untuk lebih terbuka kepada Adinda dan mengatakan apa yang diinginkan Raka.
"Janji nggak akan marah lagi sama Dinda?" tanya Adinda.
Raka tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya "Janji."
"Nanti setelah anak kita lahir dan umurnya sudah bisa dibawa jalan-jalan keluar negeri" ucap Raka membuat senyum Adinda terbit dan ia segera mengecup pipi Raka membuat Raka tersenyum.
"Kalau Dinda minta dibuatin pizza?" tanya Adinda lagi.
"Kita buat, nanti Kakak hubungi chef biar masak dirumah sambil ajarin Kakak biar bisa buat pizza untuk kamu dan dia" ucap Raka mengelus perut Adinda membuat Ainda menahan rasa harunya dan menganggukkan kepalanya.
"Dinda boleh bobok siang di kantor bersama Kakak?" tanya Adinda lagi. Raka menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja boleh, asalkan... "
"Jangan sebut nama Rifki" ucap Adinda.
Raka menganggukkan kepalanya "Ya."
"Kalau gitu sekarang aja perginya!" ucap Adinda pelan membuat Raka tersenyum.
"Oke," ucap Raka menatap istrinya itu dengan tatapan dalam seolah menyelami mata istrinya yang saat ini sedang berkaca-kaca.
"Terimakasih Kak," lirih Adinda.
"Itu sudah kewajibanku sayang... " ucap Raka yang terlihat kikuk karena sikap lembutnya membuat Adinda terkekeh.
Adinda memberanikan diri mencium bibir Raka duluan membuat Raka merasa kata-kata lembutnya ternyata tidak sia-sia. Raka tidak menolak kesempatan ini dan ia mencium bibir Adinda dengan lembut hingga keduanya terhanyut membuat Gemal yang baru saja datang terbatuk.
"Uhuk... " Gemal sengaja terbatuk agar Adinda dan Raka mengetahui keberadaanya.
"Pindah ke kamar, ini tempat umum!" ucap Gemal kesal.
"Kamu juga sering Gem kayak gini di Rumah sakit. Kalau enggak kenapa kamu minta Vivian datang anterin makan siang buat kamu. Pada hal alasannya bukan pengen makan siang, kamu disana pasti minta yang macam-macam sama Vivian" ejek Raka.
"Mana ada, ngarang aja si Om" kesal Gemal
Raka memeluk Adinda yang malu membuat Gemal terkekeh. "Udah damai ya? Tante harusnya berterimakasih sama Gemal Tante. Karena suami Tante yang minus kisah cinta ini, meminta saran dan nasehat dari kita!" ucap Gemal.
"Makasi Gem" ucap Adinda membuat Gemal membuka mulutnya. Adinda yang ia kenal barbar sekarang terlihat sangat manis dan pemalu.
"Hahaha.. mending lo hamil tiap tahun aja Din, biar jadi kalem gini!" tawa Gemal.
tbc...