
Raka keluar dari kamar mandi membuat Adinda segera memejamkan matanya. Raka memakai handuk di pinggangnya. Ia menggosokan handuk dikepalanya agar rambutnya segera kering. Raka melihat kearah ranjang dan ia melangkahkan kakinya mendekati Adinda membuat jantung Adinda berdetak dengan cepat. Raka duduk diatas ranjang dan ia menyunggingkan senyumannya karena tahu Adinda berpura-pura tidur. Raka melempar handuk hingga mengenai wajah Adinda membuat Adinda terkejut.
Astaga pakek dilempar segala handuknya. Kok gue jadi ngeri gini ya...
Raka tersenyum dan ia menarik handuknya dengan pelan dari wajah Adinda. "Nggak mau lihat benda sakti yang ajaib punya saya?" goda Raka membuat wajah Adinda memerah.
"Nanti dimarahin Mbak Karin masa itu disamakan sama Kakaknya kak Sakti" ucap Adinda.
Adinda membuka matanya pelan dan melihat sosok Raka yang masih memakai handuk dipinggangnya membuatnya merasa lega. "Aku ngantuk Kak mau tidur!" ucap Adinda.
"Tidur aja silahkan!" ucap Raka menyunggingkan senyumannya. Adinda
membalikan tubuhnya dan sengaja memunggungi Raka. Ia memejamkan matanya dan setelah itu ia tidak mendengar pergerakan dari Raka Ia membuka matanya perlahan mencari keberadaan Raka. Adinda menghela napasnya karena Raka sepertinya tidak ada didekatnya.
Kok jadi horor gini sih, astaga gue kayak bocah jadinya. Kak Raka kemana ya...
Adinda tidak tahu karena tiba-tiba sebuah tangan memegang lengannya. Raka segera naik keatas tempat tidur dan saat ini ia berada diatas tubuh Adinda. Adinda kembali berpura-pura memejamkan matanya.
"Saya tahu kamu tidak mengantuk Dinda! jadi jangan coba-coba menghindar dari saya!" ucap Raka dingin. Ia memegang kedua tangan Adinda dan meletakannya ke atas kepala Adinda.
"Mau ngapain Kak! jangan gini malu tahu!" ucap Adinda.
"Malu sama siapa?" tanya Raka sambil menatap mata Adinda dalam membuat jantung Adinda lagi-lagi berdetak dengan kencang.
"Sama kamu!" cicit Adinda, ia akhirnya menyerah dan menatap wajah Raka yang hampir tidak berjarak itu dengan tatapan rindu.
Raka membisikkan sesuatu di telinga Adinda membuat Adinda menatap Raka dengan tatapan sendu. "Saya mau kamu!" ucap Raka.
"Besok-besok aja ya Kak!" tawar Adinda sambil menelan ludahnya.
"Besok saat saya minta, pasti kamu akan bilang besoknya lagi!" ucap Raka. "Saya tidak suka penolakan Dinda!" jelas Raka dengan tatapan mengintimidasinnya membuat Adinda menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Iya Dinda mau..." ucap Adinda membuat Raka tersenyum melepaskan tangannya tang tadi mengukung pergerakan Adinda.
"Itu ada mukena, kita sholat dulu!" ajak Raka.
"Si mesum masih aja ingat sholat!" ejek Adinda membuat Raka mengelus kepala Adinda.
"Saya laki-laki Dinda dan susah nolak istri cantik kayak kamu tidur disebelah saya!" ucap Raka melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi dan kembali mengambil wudhunya.
Adinda menuruti kata-kata Raka dan ia bergantian mengambil Wudhu. Untuk pertama kalinya keduanya sholat berjamaah dan membuat hati Dinda menghangat. Setelah doa selesai dibaca Raka, Adinda mencium punggung suaminya itu dan kemudian meneteskan air matanya karena haru.
Raka melipat sajadahnya dan membuka baju kokoh dan menggantungnya. Adinda melipat mukenanya dan menyimpanya didalam lemari. Ada rasa canggung saat Adinda melewati Raka. Raka memengang lengan Adinda dan menatap mata Adinda dengan dalam. Raka menuntun Adinda untuk duduk diatas ranjang disampingnya.
"Tidak perlu memakai baju!" ucap Raka membuat tenggorokkan Adinda kering.
Raka membisikkan doa ketelinga Adinda dan kemudian ia mencium dahi Adinda dengan lembut. Adinda menahan napasnya saat Raka mencoba untuk mempersempit jarak keduanya. Adinda memilih memejamkan matanya dan merasakan sentuhan lembut dari Raka. Ia tak mampu untuk menolak perlakuan lembut dari suaminya saat ini.
kecupan-kecupan kecil membuat Adinda merasa terbang melayang dan suhu tubuhnya menghangat karena sosok laki-laki yang saat ini ada diatasnya menuntunnya untuk melakukan ibadah yang telah halal bagi keduanya.
"Percayakan semuanya pada saya Dinda!" bisik Raka menatap wajah Adinda yang memerah karena malu dan titik-titik keringat mulat menetes didahinya. Suhu udara dikamar ini terasa dingin namun tidak dengan sepasang suami istri yang saat ini saling mencubu itu.
"Janji dulu nggak ada istri kedua dan ketiga!" ucap Adinda membuat Raka terkekeh.
"Kamu bisa nggak berbicara serius sama saya?" tanya Raka.
"Dinda selalu serius sama kakak!" ucap Dinda menujuk-nunjuk dada Raka membuat menarik jari Adinda dan mengigitnya. "Sakit Kak!" ucap Adinda.
"Baru jari gimana yang lain, kamu takut?" ejek Raka.
"Dinda nggak takut! ayo Kakak mau apa?" tantang Adinda.
"Awas ya kamu jangan menyesal!" ucap Raka kembali menciumi bibir Adinda lagi dan lagi seolah ia tidak akan pernah puas. Raka melucuti semua yang ada ditubuh istrinya sampai ia memegang sebuah benda. Raka mencoba menarik benda itu dan mengangkatnya keatasnya "Kamu pakai celana dalam saya?" tanya Raka membuat Adinda tersenyum malu.
"Iya" ucap Adinda "Jangan marah Kak!" lirih Adinda karena Raka tidak menghentikan tangan yang bergeliya ditubuhnya.
"Kalau kamu suka kamu bisa terus memakainya!" ucap Raka membuat Adinda tertawa disela-sela kemesraan keduanya.
"Hahaha...aduh... jangan disitu!" ucap Adinda namun Raka seolah tuli dan tidak menerima penolakan dari Adinda.
Adinda tidak menyangka jika saat ini ia telah menyerahkankan apa yang ia jaga selama ini. Raka telah melakukanya dengan lembut dan Adinda hanya merasa sedikit tidak nyaman namun ketika melihat senyuman Raka membuat Adinda tenang. Adinda memberanikan diri memeluk Raka dengan erat. Entah berapa kali mereka melakukannya dan yang Dinda tahu sosok yang menjadi suaminya ini sepertinya tidak henti-hentinya melakukannya hingga membuatnya lelah.
"Terimakasi Dinda!" bisik Raka.
"Iya kanda sama-sama!" ucap Adinda membuat Raka terkekeh.
Raka dan Adinda memulai pergulatan panas mereka hingga Adinda akhirnya terlelap karena lelah. Raka memeluk tubuh Adinda dengan erat dan ia menatap wajah cantik yang selalu ia rindukan ini sambil tersenyum. Wajah ini yang beberapa bulan ini selalu mengganggu tidur nyenyaknya. Raka kembali mencium dahi Adinda dengan lembut.
Apapun yang terjadi nanti kamu harus selalu percaya jika kamu adalah satu-satunya dihati saya.
tbc....
Aku tak pandai menulis adegan ranjang. aku butuh pertimbangan karena tidak semua pembaca disini adalah orang dewasa 🙏🙏🙏
jangan lupa vote dan like ya!