
Siang ini semua keluarga telah disibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan Guna dan Ayunda. Penata rias telah datang dan membantu Ayunda mempersiapkan dirinya sejak pagi tadi. Dari ritual mandi dan juga semua ritual kecantikan yang telah dipersiapkan Adinda. Adinda juga tidak mau rugi ia pun ikut ritual kecantikan yang sama agar terlihat semakin cantik.
Adinda kesal karena Vivian tetap saja bersikap dingin padanya dan Ayunda. Tapi bukan Adinda namanya jika tidak bisa menaklukkan kegigihan Vivian untuk tidak berdekatan dengan mereka.
"Vian, mulai sekarang lo dan Mbak Ayu keluarga. Kalian bukan saingan lagi jadi ayo ikut, lo dan Mbak Ayu harus damai. Damai itu indah, lagian Gemal kan juga tampan dan pintar, jadi lo nggak rugi juga jadi bininya Gemal!" ucap Adinda.
"Lepasin lo pemaksa banget ya jadi orang!" kesal Vivian.
"Namanya juga orang Vi kalau gue binatang atau tumbuhan gue mana bisa narik lo kayak gini!" ucap Adinda.
"Lo mau apa?" teriak Vivian berusaha melepaskan tangan Adinda yang memegang lengannya.
"Kita spa bareng, lulur bareng, nyalon bareng dan dandan bareng!" ucap Adinda.
"Gue nggak mau!" tolak Vivian.
"Lo kenapa? lo kurapan? kudisan? korengan? atau bau badan lo busuk gitu? tenang aja kita nggak masalah kok!" ucap Adinda membuat Vivian kesal.
"Lo kenapa sih suka benget ngurusin urusan orang?" kesal Vivian.
"Gue bukan mau ngusrusin urusan orang Vian. Walau bagaimanapun sekarang lo itu adik ipar Mbak gue. Gue nggak mau kalian saling menyakiti lagi. Sekarang lo sudah jadi istri Gemal dan gue mohon lo berhenti jadi orang menyebalkan. Gue tahu sebenarnya lo nggak sejahat itu Vivian," ucap Adinda. "Ayo ikut kita luluran dan spa. Mbak Ayu itu orangnya pemaaf dan gue tahu lo juga menyesalkan dengan apa yang pernah lo lakukan selama ini. Nggak ada orang yang senang jahatin orang," ucap Adinda.
Farhan melihat Adinda dengan riang menarik tangan Vivian dan mengajak Vivian masuk kedalam ruangan yang telah disiapkan untuk mereka melakukan perawatan. Guna memang meminta Adinda untuk mencari jasa pelayanan lulur dan spa dan mengundang mereka ke rumah.
"Raka, lihat walaupun mahasiswa kamu itu menyebalkan bagimu tapi tidak bagi orang lain, dia anak yang baik," puji Farhan memuji sikap Adinda. Keinginannya menjadikan Adinda bagian keluarganya semakin besar. apalagi sosok ceria Adinda sangat cocok dengan sikap pendiam putra bungsunya ini.
Sementara itu saat ini Vivian merasa sangat canggung berada didalam ruangan yang sama dengan Ayunda. Namun tarikan tangan Adinda pada lengannya membuatnya dengan terpaksa akhirnya mendekati Ayunda.
"Mbak kita ikutan luluran ya, biar Mbak nggak bosan sendirian!" ucap Adinda
Ayunda tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Maafkan saya Mbak," ucap Vivian dan kali ini ucapan Vivian terlihat tulus membuat Ayunda menganggukkan kepalanya.
"Mulai sekarang kita adalah keluarga ya Vi jangan ada lagi kesalahpahaman diantara kita. Semua masalah bisa kita bicarakan baik-baik!" ucap Ayunda membuat Vivian menatap Ayunda dengan tatapan berkaca-kaca dan kemudian Adinda menarik tangan Ayunda dan Vivian.
"Kita adalah keluarga dan juga sahabat oke!" ucap Adinda meletakan telapak tangan Ayunda diatas telapak tangan Vivian.
"Iya," ucap Vivian dan Ayunda bersamaan.
Mereka kemudian berbincang bersama sambil memanjakan diri mereka dengan perawatan tubuh. Adinda merasa lega melihat Vivian dan Ayunda saat ini telah berbaikan. Keduanya juga telihat akrab dan bahkan tertawa bersama mendengar lelucuan darinya.