
Adinda adalah anak yang mandiri sejak kecil dan sebenarnya dulu Ratna sempat khawatir dengan Adinda. Bagaimana tidak Adinda yang merupakan putri bungsunya ini lebih mandiri dibandingkan Ayunda. Apalagi Adinda terlihat sangat tertutup padanya berbeda dengan Ayunda yang selalu mengatakan keinginannya. Saat ini Ratna sedang memasak beberapa makanan kesukaan Adinda. Adinda memang tidak memilih makanan, tapi ia sangat suka memakan makanan manis seperti red velvet, cake tiramisu dan juga japanese cake. Jika Ayunda mahir dalam memasak, Adinda sangat mahir dalam membuat kue.
Semenjak hamil Adinda memang malas sekali untuk memasak, apalagi membuat kue. Dulu sebelum hamil di hari minggu seperti ini Adinda pasti membuat kue di rumah ini. "Mama lagi kangen Dinda ya Ma?" tanya Ayunda.
"Iya Yu, Mama minta Dinda nanti kalau mendekati lahiran, tinggal disini saja biar Mama bisa bantu dia. Tapi dia nolak Yu, dia bilang nggak mau ngerpotin Mama katanya. Dia minta Mama jagain kamu aja karena kamu lagi hamil juga!" ucap Ratna terlihat kecewa karena Adinda menolak keinginannya untuk tinggal disini sementara sampai ia melahirkan.
"Biar nanti Ayu coba bicara sama Dinda Ma, kalau Dinda tinggal disini juga kan lebih baik Ma. Mama nggak perlu bolak-balik kesana Ma," ucap Ayunda.
"Dinda keras kepala, Mama udah bilang sama Raka tentang masalah ini. Tapi Raka menyerahkan semuanya kepada Adinda," jelas Ratna.
Sebagai seorang ibu Ratna ingin mendampingi kedua putrinya sekaligus yang sedang mengandung tapi Adinda menolak untuk tinggal disini. Sebenarnya Adinda memikirkan Raka karena jarak hotel dan kampus agak jauh dari sini. Apalagi semenjak Adinda hamil, Raka selalu menyempatkan diri untuk pulang makan siang bersama Adinda dan juga Farhan.
"Mama buat kue ini khusus buat Dinda dan kuenya sekalian mau dikirim ke Karina juga," jelas Ratna.
Ayunda memeluk Ratna "Mama kan sekarang punya anak perempuan tiga, Mama kalau mau mengunjungi Dinda dan nginap disana beberapa hari, nggak apa-apa kok Ma. Mama juga bisa pergi ke tempat Kaka Alfa dan Mbak Karina. Kalau Ayu nggak usah dikhawatirin Ma, Ayu punya suami dan ibu mertua yang sangat baik!" ucap Ayunda membuat Ratna tersenyum.
"Iya nak," ucap Ratna mengelus kepala Ayunda dengan lembut.
Setelah selesai memasak, Ratna segera membawa kue buatannya dan menuju kediaman Farhan Candrama diantar supir Ayunda. Seperti biasa Jakarta macet dan Ratna membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai di Kediaman Farhan Candrama. Akhirnya Ratna sampai di Kediaman Candrama. Sekarang ia mengerti kenapa Adinda menolak untuk tinggal bersamanya untuk sementara sampai ia melahirkan. Adinda tidak ingin membuat Raka susah karena harus menempuh kemacetan yang membutuhkan waktu cukup lama untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Ratna turun dari mobil dan ia melihat Felisa berlari mendekatinya dan segera memeluknya "Nenek," ucap Felisa memnuat Ratna tersenyum lalu ia segera menggendong Felisa.
"Wah Feli tambah gendut ya sekarang," ucap Ratna.
"Nenek jarang kesini," ucap Felisa sendu membuat Ratna mengelus rambut Felisa dengan lembut.
"Ini Nenek datang, nanti isyallah setiap minggu nenek datang ke sini!" ucap Ratna.
"Iya Nek," ucap Felisa tersenyum senang.
Beberapa maid tersenyum melihat kedatangan Ratna dan mereka membungkukkan tubuhnya memberikan salam hormat. "Kalian ini kayak sama siapa juga," ucap Ratna tersenyum ramah kepada para maid.
Ratna menurunkan Felisa dan ia mengajak Felisa masuk kedalam rumah. Terlihat Farhan sedang bermain catur bersama Adit di ruang tengah. "Ratna," panggil Elin.
"Kok nggak bilang kamu kesini Lin kalau tahu tadi kita bisa janjian jam berapa gitu biar bisa bareng!" ucap Ratna.
"Mendadak, Mas Adit diajak Papi main catur. Aku kan biasa Lin dimana ada Adit disitu ada Elin," ucap Elin membuat Ratna terkekeh.
"Heheh bisa aja kamu Lin, hmmm... Adinda kemana?" tanya Ratna.
"Diruang kerja Raka," ucap Elin. "Nah...itu dia!" ucap Elin menunjuk Adinda yang baru saja turun dari lantai dua. Perut Adinda terlihat telah membesar dan Raka membantu Adinda turun dari tangga dengan pelan.
"Mama... " ucap Adinda tersenyum senang. Ia mempercepat langkahnya namun Raka memegang lengannya.
"Jangan lari ingat kamu sedang hamil!" ucap Raka membuat Adinda menganggukkan kepalanya.
Ratna melangkahan kakinya mendekati putri bungsunya itu dan ia segera mencium kedua pipi Adinda lalu memeluk Adinda. "Mama sama siapa kesini?" tanya Adinda.
"Sendirian, Mama diantar supirnya Ayu," jelas Ratna.
Raka mendekati Ratna dan mencium punggung tangan Ratna. "Maaf Ma udah hampir dua minggu nggak mengunjungi Mama," jelas Raka.
"Iya Ka, Mama tahu kok kamu sibuk dan Dinda juga sedang hamil. Kamu nggak ngebolehin Dinda pergi diantara supir ke rumah Mama jika bukan kamu yang antar," ucap Ratna membuat Raka tersenyum dan ia memegang tengkuknya merasa malu karena ucapan mertuanya itu memang benar.
"Iya Ma." sejujurnya Raka saat ini sangat overprotektif kepada istrinya. Ia juga tidak ingin melewati satu malam pun, tidak memeluk istrinya saat tidur selama istrinya mengandung buah hatinya. Raka menolak untuk pergi ke luar daerah dan juga meminta wakilnya yang menggantikannya untuk berkunjung ke hotel yang berada di Luar kota.
"Ayo Ma kita duduk di sana!" ajak Raka.