CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Resort mewah


Saat ini mereka semua sedang melakukan perjalanan dengan mobil menuju resort baru milik Farhan yang menjadi tempat untuk mereka menginap dan juga merayakan ulang tahun Gunadarma Candrama. beberapa menit kemudian mobil-mobil yang menjemput mereka berhenti didepan resort mewah yang begitu indah dan menakjubkan. Bagaimana tidak bangunan yang saat ini ada dihadapan mereka begitu indah. Didepan bangunan terdapat kolam renang bertingkat dengan airnya yang berwarna biru muda.


Bentuk bangunan resort ini percampuran antara etnik dan juga modern. Guna juga baru tahu jika resort itu adalah aset milik keluraganya karena sebelumnya sang Kakek tidak mencantumkannya dalam daftar aset keluarga mereka. Ayunda dan Adinda tampak begitu kagum hingga Adinda menatap resort mewah ini dengan membuka mulutnya sambil mengerjapkan kedua matanya.


"Gila Mbak, Dinda pengen nyemplung dikolam renangnya. Bertingkat kayak gitu ya ampun keren banget. Kalau Dinda post di media sosial pasti para netijen pada iri dah" ucap Adinda membuat Ayunda menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Adinda.


"Din, ternyata keluarga mertua Mbak benar-benar kaya tujuh turunan Din. ini resort berapa duit buatnya?" ucap Ayunda membuat Gemal tersenyum.


"Kita cucunya aja nggak tahu kalau Kakek punya tempat mewah kayak gini!" jelas Gemal.


"Vian mungkin tahu?" ucap Adinda menatap Vivian yang saat ini ada disebelahnya.


"Aku hanya tahu Kakek membangun resort baru kira-kira dua tahun yang lalu" jelas Vivian.


Raka saat ini hanya diam dan menatap Resort mewah ini dengan tatapan datar namun sebenarnya Raka sedang menyelidiki Resort yang saat ini ada dihadapannya. Raka menghela napasnya karena bangunan ini menjadi kejutan baginya. Guna mendekati Raka dan kemudian menyenggol lengan Raka dengan lengannya.


"Dia sungguh menyayangimu" ucap Guna membuat Gemal, Ayunda, Vivian dan Adinda menatap kearah Guna. Sedangkan Alfa berserta teman-temannya sedang memeriksa keadaan resort dan mengumpulkan beberapa karyawan resort menanyakan keamanan resort. Meta dan Ajeng sedang sibuk mengabadikan bangunan yang ada dihadapannya dengan kamera ponsel mereka.


Guna tersenyum "Ya, desain seorang anak muda berbakat yang masih duduk dibangku SMA" ucap Guna membuat Raka menopang dagunya dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Gemal merangkul bahu Guna dan menatap Raka dengan tatapan penasaran "Jangan bilang kalau bangunan ini alias resort mewah nan indah ini adalah desain Om saat Om mendapatkan penghargaan waktu SMA itu ya?" tanya Gemal. ia menatap Raka dan Guna dengan tatapan seriusnya dan menunggu jawaban Raka dan Guna.


Guna menganggukkan kepalanya "Itu desain yang dibuat Om Raka saat ia mengikuti lomba desain secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kakek tapi ternyata desain itu menang. Kakek saat itu sangat terkejut dan bangga kepada Om Raka. Namun... " ucapan Guna terhenti. ia melihat tatapan Raka yang saat ini terlihat sangat serius.


"Desain itu saya robek didepan Kakek karena desain itu terlalu berharga untuk di wujudkan desain yang saya buat untuk resort liburan keluarga tapi nyatanya saya tidak pernah dipedulikan oleh siapapun dikeluarga saya. Desain yang saya anggap adalah penggambaran tempat ternyaman yang ingin saya habiskan bersama keluarga saya" ucap Raka membuat Ayunda, Vivian dan Adinda terkejut.


"Om bisa membuat ide desain ini dari mana Om?" tanya Gemal.


"Saya bertanya kepada teman-teman SMA mereka kemana mereka liburan bersama keluarga mereka dan tempat apa yang ingin mereka kunjungi. saya bertanya kepada mereka karena Kakak atau Papi saya tidak pernah mengajak saya liburan seumur hidup saya dari kecil hingga saya SMA. mereka semua sibuk tapi Mbak Elin sebenarnya pernah ingin membawa saya ke Bali bersama kalian berdua namun ditolak Papi. Dulu hubungan Mbak Elin dan Kakek sangat buruk jadi setiap liburan saya hanya menghabiskan waktu sendiri di rumah. saya sengaja mengikuti lomba desain itu untuk menampar Papi secara tidak langsung mengenai liburan keluarga tapi tenyata Papi tidak mengerti keinginan saya!" jelas Raka.


"Karena Om memilih untuk diam dan tidak mengatakan keinginan Om kepada Kakek!" ucap Gemal membuat Raka mengangkat kedua alisnya dan kemudian menganggukkan kepalanya. Raka hanya tidak mengatakan secara langsung keinginannya karena saat itu ia ingin Papinya memperhatikannya dan mengerti keinginannya tanpa harus ia katakan secara langsung. Raka pernah ingin mengingatkan jika ia kesepian dan ingin pergi liburan bersama Papinya namun setiap ia ingin mengatakannya Sang Papi selalu terlihat sibuk di ruang kerjanya bahkan sempat memarahi para pekerjanya.


"Makanya Om punya mulut itu dipakai dong dan dipergunakan. Jangan mikem mulu, sekali keluar suaranya pedas banget kayak cabe level tiga belas bikin mencret!" ucap Adinda membuat Raka menatap Adinda dengan dingin.