CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Tawa Raka


Mereka sampai dihotel Candrama, hotel ini baru saja diresmikan bulan lalu dan Raka yang langsung datang meresmikan hotel ini saat itu. Mereka masuk kedalam hotel disambut dengan hangat oleh manajer hotel yang terlihat sangat ramah. Jika tidak ramah, Raka pasti akan langsung menurunkan jabatannya, memindahkannya atau memecatnya. Raka memang terkenal tegas dan berwibawah, semua Karyawan bahkan telah bersiap menyambut kedatangan pemilik hotel ini sejak kemarin.


"Selamat datang Pak" ucap Pak Dedi menjabat tangan Raka dan mempersilahkan mereka masuk.


Brian mengikuti Raka, Adinda dan Radina dari belakang dengan asistennya serya beberapa bodyguardnya yang mengikutinya dari belakang. "Apa kamar kita sudah disiapkan?" tanya Raka.


"Sudah Pak, mari saya antar Pak!" ucap Dedi. Mangajak Raka menaiki lift bersama mereka namun Brian segera meminta para bodyguardnya untuk menyusul mereka dengan lift yang lain dengan isarat matanya.


Lift tertutup Raka menghela napasnya "Tuan Brian apa anda juga akan sekamar dengan para bodyguard anda?" ucap Raka membuat Brian menatap punggung Raka dengan kesal sedangkan Adinda menahan tawanya.


Radina memegang tangan Brian meminta Brian tidak memulai pertengkaran bersama Raka."Kak udah dong malu berantem terus!" bisik Adinda tersenyum.


lift terbuka membuat mereka semua keluar dan mereka mengikuti manajer hotel yang membawa mereka kedepan pintu kamar yang saling berhadapan.


"Ini dua kamarnya Pak Raka" ucap Pak Dedi.


"Terimakasih Pak" ucap Raka dan empat orang karaywan hotel yang baru saja tiba membawa barang mereka masuk mengikut Raka dan sebagian mengikuti Brian.


Adinda dan Radina saling berbisik dan berencana untuk berkeliling hotel ini, namun Raka segera memanggil Adinda agar segera masuk ke kamar mengikutinya. "Dinda" panggil Raka.


"Nanti ya dek, Mbak masuk dulu!" ucap Adinda.


"Iya Mbak, nanti kita janjian aja ya Mbak!" ucap Radina


"Iya, ayo masuk sana nanti para singa marah hehehe" kekeh Adinda dan ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar ia dan Raka yang berhadapan dengan kamar Radina dan Brian.


Dua orang karyawan hotel pamit dan segera pergi keluar kamar Adinda dan Raka. Saat ini Adinda takjub dengan kamar mewah mereka


ia membaringkan tubuhnya dan kembali memejamkan matanya. Raka saat ini sedang menghubungi pihak rumah sakit dan menanyakan kondisi Maminya. Setelah itu ya membalikan tubuhnya dan melihat istrinya terbaring diranjang.


Raka mendekati Adinda dan duduk diranjang. Ia memperhatikan tubuh istrinya itu yang terlihat sedikit lebih berisi dibandingkan sebelumnya. Raka mengelus pipi Adinda dan terdengar dengkuran Adinda yang cukup keras membuat Raka tersenyum. Ia memperbaiki posisi tidur Adinda dan melepaskan kaos kaki yang masih dipakai Adinda dan juga jaket yang dikenakan Adinda.


"Kak Dinda ngantuk banget!" ucap Adinda membuka matanya.


"Tidur pakai jaket gini mana nyaman!" ucap Raka.


"Kakak tidur juga sini sama Dinda, Dinda pengen tidur sambil dipeluk!" ucap Adinda membuat Raka membuka satu lapis pakaiannya dan menyisakahkan celana panjang yang ia pakai. Ia membaringkan tubuhnya disamping Adinda lalu menarik Adinda kedalam pelukannya.


"Kak Dinda pengen makan cake stawberry Kak, kayaknya enak banget" ucap Adinda sambil memejamkan matanya.


"Nanti kakak minta chef hotel membuatnya untuk kamu!" ucap Raka.


Adinda mengeratkan pelukannya "Nyaman banget... jadi tambah ngantuk" ucap Adinda karena tidurnya sempat terganggu saat Raka membuka jaketnya.


"Tidurlah!" bisik Raka membuat Adinda menganggukkan kepalanya dan mulai terlelap bersama mimpinya.


Setelah dua puluh menit tertidur nyenyak Adinda merasakan rasa mual yang begitu hebat hingga ia melepaskan pelukannya dari Raka dan segera bangun lalu berlari menuju kamar mandi membuat Raka ikut bangun dan melangkahkan kakinya mengikuti Adinda.


"Kamu kenapa?" tanya Raka khawatir.


"Huekk...huekk... " Muntahan Adinda hanya berupa air didalam westafel membuat Raka mengambil tisu dan membersihkan bibir Adinda dengan lembut.


Adinda membalik tubuhnya dan memeluk Raka dengan erat "Masih mual?" tanya Raka.


"Nggak lagi, Dinda lapar Kak" lirih Adinda.


Raka mengangkat tubuh Adinda dan mendudukkannya ke sebelas meja wastafel. Raka menatap wajah pucat Adinda dengan tatapan khawatir. "Mau ke dokter?" tawar Raka.


Adinda menggelengkan kepalanya "Nggak Kak Dinda mungkin ini hanya efek mabok dipeswat" ucap Adinda.


Raka menggendong Adinda seperti menghendong anak kecil, Kaki Adinda menggelung tubuhnya dan Raka melangkahkan kakinya mendekati bufet. "Ambil ponsel Kakak!" ucap Raka membuat Adinda segera mengambil ponsel Raka.


"Bawa steak dan beberapa sup serta makanan yang menurut kalian lezat kedalam kamar saya dan kamar adik saya!" ucap Raka.


Raka segera memutuskan sambungan teleponnya dan ia mengelus kepala Adinda dengan lembut. "Kamu sama Ayunda bandel suka telat makan, Mama udah peringatin saya agar mengingatkan kamu jangan sampai telat makan!" ucap Raka mencuil hidung mancung Adinda.


"Namanya juga nggak selera makan Kak, kalau lagi mau makan ya makan kalau nggak mau makan ya nggak mau makan!" ucap Adinda.


Raka tersenyum sinis "Sejak kapan kamu menolak dikasih makanan enak?" ucap Raka karena tahu nafsu makan Adinda sangat banyak.


"Sejak negara api melanda hati kita" ucap Adinda.


Raka terkekeh "Hehehe bisa saja kamu" ucap Raka.


"Enak banget dipangku kayak gini, Dinda ngerasa benar-benar jadi keponakan Om" ucap Adinda mengelus dagu Raka membuat Raka menepis tangan Adinda.


"Giliran kamu yang pegang-pegang aku nggak marah! ini giliran aku yang pegang malah marah" kesal Adinda menyebikkan bibirnya.


"Kamu itu mana cocok jadi keponakan saya, cocoknya jadi penghibur saya" ucap Raka mengecup bibir Adinda.


"Ini bibir bekas muntah tadi nggak jijik?" tanya Adinda membuat Raka mencium semua permukaan wajah Adinda hingga membuat Adinda geli "Kak....udah ampun...hahaha... " teriak Adinda bercampur tawa.


"Ampun? beneran ampun?" tanya Raka sambil menahan tubuh Adinda agar tidak lepas darinya.


"Ampun... " ucap Adinda.


"Oke, kiss" ucap Raka menunjuk pipinya dan Adinda segera mengecup pipi Raka.


"Bundanya Ayah pintar" ucap Raka mengelus kepala Adinda dengan lembut.


Ting...


Bunyi ketukan pintu membuat Raka segera mengambil remote otomatis yang ada disampingnya lalu menekannya hingga pintu terbuka. "Letakan saja dimeja!" ucap Raka setelah melihat Karyawan hotel membawakan makanan untuknya dan Adinda.


Adinda menyembunyikan wajahnya didada Raka karena malu dengan karyawan hotel, apalagi posisinya saat ini terlihat sangat memalukan. Bagaimana tidak ia saat inj sedang dipangku Raka dan menjadi tontonan para karyawan Raka. Raka melihat Adinda yang masih menyembunyihkan wajahnya didadanya membuatnya terkekeh.


"Heheh... malu ya?" goda Raka.


"Iya malu banget, kok nggak cerita pintunya bisa dibuka pakek remote?" kesal Adinda.


"Wah...kamu baru kali ini lihat pintu bisa dibuka pakai remote?" tanya Raka.


"Iya" kesal Adinda.


"Masa?" goda Raka.


"Nggak percaya banget sih dibilangin!" kesal Adinda.


"Hehehe ngambek ya?" goda Raka lagi.


"Iya tahu kamu kaya aku nggak" ucap Adinda membuat Raka tersenyum.


"Pintu mobilkan bisa dibuka pakek remote" ucap Raka membuat Adinda kesal.


"Dinda kan nggak bilang mobil tapi Dinda bilang pintu kamar hotel ini, Om Raka Candrama!" kesal Adinda membuat Raka menarik Adinda dan memeluk Adinda lalu mengelus punggung Adinda dengan lembut sambil tertawa.


"Hahaha.. iya, jangan marah ya Bun!" ucap Raka tertawa terbahak-bahak.


Mana ada lucunya eh... dia ketawa dasar si Om...