
Raka saat ini berada di Bandara menuju Singgapura, ia berencana ingin mengunakan fasilitas keluarganya yaitu pesawat pribadi Candrama grup, namun setibanya di Bandara ia dikejutkan dengan sosok sombong yang datang bersama adik bungsunya beserta asistennya. Melihat gaya bicara Brian yang angkuh membuat Raka ingin sekali memukul wajah Brian walaupun ia harus mengabaikan tangisan Radina.
"Pakek pesawat pribadi milik saya, karena lebih baru dan bagus dari pada milikmu. Radina sedang hamil jadi dia harus senyaman mungkin dalam perjalanan!" ucap Brian.
Raka merasa kesal karena adik iparnya yang ia anggap bocah edan ini sengaja ingin membuat emosinya memuncak "Kita berangkat dengan pesawat masing-masing!" ucap Raka.
"Radina mau satu pesawat dengan kalian!" ucap Brian.
Raka menghembuskan napasnya "Kalau begitu biarkan dia naik pesawat pribadiku!" ucap Raka.
"Mana bisa, kau sebagai kakak harusnya tidak egois kepada adikmu yang sedang hamil, Radina butuh kenyamanan dan pesawatmu itu tidak sebagus peswatku!" ucap Brian angkuh.
"Pesawatnya sudah siap Tuan!" ucap Adil asisten Brian.
"Kamu pasti belum merasakan naik pesawat canggih milikku!" ucap Brian tersenyum senang karena melihat ekspresi Raka yang mengeras.
Adinda dan Radina yang sejak tadi sedang berbincang mengalihkan pandangannya melihat suami mereka yang sepertinya sedang berdebat. "Pesawat milik keluarga saya tidak seburuk apa yang kamu pikirkan Brian!" ucap Raka.
"Tentu saja buruk, pesawatmu itu model lama dan ketinggalan zaman. Katanya kau lebih kaya dariku ternyata kau hanya biasa-biasa saja. Apa bisnismu sedang memburuk? kau perlu bantuanku?" ucap Brian sengaja menggoda Raka membuat Raka menatap tajam Brian.
"Jika saja saat itu Radina tinggal bersama saya, saya tidak akan membiarkan dia menikah denganmu sombong, narsis dan merasa paling hebat!" kesal Raka.
"Ini kenapa sih pakek ribut segala?" ucap Adinda memeluk lengan Raka dan mencoba menenangkan suaminya itu.
"Dia yang mencari masalah Dinda!" ucap Raka.
"Aku hanya mengatakan peswatku lebih bagus dan canggih jadi lebih baik menggunakan pesawatku saja. Tapi tidak kusangka kakak ipar terlihat tidak senang dengan ucapanku!" ucap Brian.
"Naik pesawat yang mana saja, asal sampai disana dengan selamat!" ucap Radina.
"Jadi maksud kamu, kamu lebih memilih naik pesawat mereka dibandingkan naik peswat suamimu yang kaya ini?" tanya Brian membuat Adil menepuk jidatnya karena Tuannya ini pasti akan membuat istrinya menangsi dan drama pun akan segera terjadi.
"Kamu ini kayak anak kecil tahu nggak..." teriak Radina.
"Anak kecil yang bisa membuat kamu dua kali hamil maksud kamu?" ucap Brian membuat Radina menyebikkan bibirnya.
"Jangan menggunakan trik murahan untuk membuatku menderita!" ucap Brian agar Radina tidak menangis.
"Naik pesawatku atau kau naik pesawatmu sendiri Brian dan aku akan membawa adikku bersamaku!" ucap Raka membuat Brian mengangkat alisnya dan Adil asistennya yang sejak tadi berada disampingnya berbisik ke telinga tuannya.
"Tuan turutin saja kemauan Pak Raka, jika tidak istri Tuan bisa menangis dan Tuan bisa sakit. Lagian Tuan kalau Tuan membiarkan Nyonya Radina sendirian naik peswat bersama mereka, bagaimana nanti kalau perutnya keram Tuan?" bisik Adil
"Saya hanya tidak ingin Tuan melihat Nyonya menangis!" ucap Adil.
Raka melipat kedua tangannya menunggu ucapan Brian dan jika kali ini Brian memaksanya atau mencoba membuatnya kesal, ia berjanji akan memukul wajah tampan Brian agar Radina tidak menyukainya lagi.
"Saya naik peswat bersama kalian, ini karena saya tidak ingin Radina merasa tidak nyaman jika saya tidak berada disampingnya!" ucap Brian membuat Radina melototkan matanya sedangkan Adinda menahan tawanya mendengar ucapan Brian.
"Ayo kita berangkat!" ucap Raka sambil memegang tangan Adinda dan melangkahkan kakinya menaiki tangga pesawat diikuti Radina, Brian dan Adil.
Raka memilih duduk di sebelah kiri bersama Adinda sedangkan Brian duduk disebelah kanan dan ia memperhatikan isi pesawat dan sesekali berguma membuat Adil merasa tidak enak karena Raka memperhatikan tingkah Tuannya saat ini.
"Dasar menyebalkan" kesal Raka membuat Adinda mengelus lengan Raka dengan lembut.
Raka masih memperhatikan tingkah Brian yang duduk dikursinya dan mencoba membaringkan tubuhnya. Brian menekan kursi sofa yang ia duduki dan memejamkan matanya mencoba merasakan keempukan sofa itu.
"Lumayan empuk" ucap Brian membuat Radina mencubit paha Brian. "Aw... " ucap Brian.
"Kamu ini kenapa?" kesal Brian.
"Malu tahu, jangn coba-coba menyinggung Kakakku!" pinta Radina.
"Kau selalu memujinya dan saya hanya ingin lihat apa dia itu memang lebih baik dari saya Radina. Kamu bilang kalau Raka bukan kakakmu kamu akan dengan senang hati memintanya untuk menikahimu!" ucap Brian.
"Memang benar dia lebih baik darimu!" kesal Radina.
"Tuan Nyonya lebih baik kita menikmati perjalanan kita!" ucap Adil.
"Diam!" teriak Radina dan Brian bersamanya membuat Raka dan Adina menghela napasnya.
Sebelum pesawat lepas landas, Raka dan Adinda menghubungi putri kecilnya dan mengatakan jika mereka hanya pergi beberapa hari. Untung saja Felisa menolak untuk pergi karena Felisa tidak ingin izin sekolah dan itu membuat Raka senang. Tentu saja ia bisa menghabiskan waktunya bersama Adinda hanya berdua saja. Raka juga merasa beruntung karena ada Vivian dan Gemal yang bisa diandalkan menjaga Papinya dan juga Felisa.
Raka menjanjikan kepada Gemal akan memberikan tiket jalan-jalan ke Eropa selama seminggu jika Gemal membantunya menangani hotel dan juga menjaga Papi dan anaknya. Tentu saja tidak akan Gemal tolak apalagi Vivian juga bisa membantunya.
Pesawat segera terbang dan dalam saat ini Adil asisten Brian hanya bisa melihat pemandangan yang membuatnya iri. Raka dan Adinda terlihat tertawa bersama sedangkan Brian sejak tadi sengaja ingin menggoda istrinya dengan mengatakan hal-hal yang membuat istrinya itu kesal padanya.
Pasangan aneh...
tbc...