CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Cemburunya Raka


Adinda menelan ludahnya saat matanya bertatapan dengan mata tajam milik Raka. Ia tidak ingin perdebatannya bersama Raka menjadi konsumsi publik orang-orang yang saat ini memperhatikan mereka. Adinda menyadari jika sosok Raka memang menarik untuk dipandang kaum hawa. Apalagi saat ini Adinda mendengar bisik-bisik yang mengatakan jika Raka sangat tampan.


Tanpa kata Raka menarik tangan Adinda dan mengajak Adinda segera keluar dari bioskop. Adinda hanya diam dan ia juga merasa jika tempat ini memang bukan tempat, yang tepat untuk berdebat dengan Raka tentang masalah mereka tadi pagi.


Adinda memegang perutnya karena ia merasa sangat lapar. "Om lapar!" ucap Adinda membuat Raka menghentikan langkahnya.


"Mau makan apa?" tanya Raka.


"Dinda mau makan disana saja!" ucap Adinda menunjuk sebuah cafe yang terlihat cukup ramai.


"Ayo!" ucap Raka. Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah cafe yang dimaksud Adinda.


Mereka masuk kedalam Cafe dan Raka mengedarkan pandanganya, ia memilih untuk duduk ditempat yang tidak terlalu ramai. Keduanya duduk saling berhadapan dan Adinda segera memesan makanan saar karyawan cafe memberikan menu kepadadanya.


"Pesan bebek tumis sambal hijau, soup iganya satu pakai nasi. Om mau pesan apa? biar Dinda yang traktir!" ucap Adinda tersenyum manis membuat karyawan itu ikut tersenyum mendengar ucapan Adinda.


Hehehe kan gue bayarnya pakai kartu milik Kakandaku tersayang.


"Nasi bakar" ucap Raka.


Adinda kembali mengingat Ayunda yang memintanya membelikan nasi bakar. "Mbak nasi bakarnya satu lagi ya tapi yang satunya dibungkus!" ucap Adinda. "Untuk Mbak Ayu karena udah ngasih tahu keberadaan Dinda disini!" ucap Adinda sinis.


Karyawan itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan Adinda dan Raka untuk menyiapkan pesanan mereka. "Om ngapain jem..bbbb.... uuu... tttt Dinda?" tanya Adinda.


"Jemput bukan jem....bbbb.. uttt...!" ucap Raka.


"Terserah Dinda mau ganti jemput sama jem...bbbb... ut.... !" ucap Adinda menyebikkan bibirnya.


"Saya khawatir sama kamu!" ucap Raka membuat Adinda menatap Raka dengan tatapan berbeda.


"Khawatir? tapi Om nggak mau balas pesan Dinda!" ucap Adinda kesal.


"Saya sibuk jadi saya lupa buka ponsel saya!" ucap Raka berbohong.


"Bohong, berarti Om nggak khawatir sama Dinda!" Adinda menyipitkan matanya melihat Raka yang saat ini terlihat kesal. "Om kenapa nggak ngajakin Dinda ke Kampus? dan Om itu sengaja nggak mau balas pesannya Dinda. Nggak usah bohong sama Dinda, Om ngambek sama Dinda iya kan?" tanya Dinda.


"Saya cemburu" ucap Raka membuat Adinda menatap Raka dengan tatapan tidak percaya. Ucapan Raka membuatnya jantungnya berdetak cepat dengan mulut yang ternganga lebar sekakan kata-kata itu tidak akan terucap dari bibir Raka. Adinda menelan ludahnya karena tenggorokannya terasa kering.


"Om... nggak lagi bohong sama Dinda? " tanya Adinda.


"Kenapa nggak dipukul?" tanya Adinda tersenyum menggoda.


"Nanti kamu yang nangis kalau saya pukul dia!" ucap Raka.


"Itu sudah pasti Om, kan Kak Adam nggak salah. Kita nggak pacaran, kita itu teman lama!" jelas Adinda.


Karyawan cafe mengantarkan makanan untuk mereka membuat Adinda tersenyum senang karena saat ini ia merasa sangat lapar. Ia melirik Raka yang saat ini masih menatapnya.


"Om marahnya ditunda dulu ya, Dinda lapar Om!" ucap Adinda membuat Raka menghela napasnya sepertinya ia akan sulit untuk berlama-lama marah pada Adinda karena tunanganya ini sangat menggemaskan.


Dinda memakan makananya dengan lahap membuat Raka merasa khawatir, ia mendekatkan minuman yang ada dihadapanya. "Makannya nggak usah terburu-buru Dinda!" pinta Raka.


"Dinda nggak selera makan tadi karena berantem sama Om! Om kalau ngambek jangan ngebuat selera makan hilang dong Om!" ucap Adinda.


"Iya kamu makan dulu, saya aneh kami ini badan kecil muatan gede. kamu kemanakan makanan sebanyak ini kalau habis sama kamu?" tanya Raka.


"Jadi kotoran Om, pertanyaan Om basi banget sih. Ini masih dikit buat Dinda Om!" ucap Adinda. Ia kemudian mendekatkan sendok yang berisi makanan kepada Raka karena sejak tadi Raka disibuk melihatnya tanpa menyentuh makanannya.


"Kanda sayang yang nggak ngambek lagi sama Dinda, buka mulutnya dong!" goda Adinda membuat Raka mengedarkan pandangannya karena ucapan Adinda membuatnya malu.


"Jangan membuat saya malu Dinda!" ucap Raka.


"Iya hehehe, becanda Om. Ayo anak pintar buka mulutnya!" ucap Adinda sengaja menggoda Raka lagi membuat Raka membuka mulutnya.


"Aduh anak Mama cakep banget!" Adinda mengelus dagu Raka membuat Raka tersenyum.


Ya ampun ganteng banget si Om, Dinda nggak rela bagi-bagi. Om kalau senyum gini sama Dinda aja ya Om...


"Makasi Ma!" ucap Raka membuat wajah Adinda memerah.


Om membuat Dinda sakit jantung....


"Bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat? kita bisa pacaran seperti ini setiap hari setelah menikah. Bagaimana menurut kamu Dinda?" tanya Raka membuat Adinda kembali terkejut.


Ada apa dengan si Om? kenapa minta dipercepat?


tbc...