
Adinda menatap Ayunda dengan tatapan memohon agar Ayunda tidak bertindak bodoh dan memancing kemarahan mereka. Pikiran Ayunda melayang mengingat sosok Guna dan Ghavin jika ia benar-benar akan dibunuh oleh mereka mengingat senjata tajam yang saat ini siap menusuk pinggangnya.
"Saya mohon jangan sakiti kami!" ucap Adinda.
"Kalau begitu kalian ikut kami!" ucapnya.
"Baiklah!" ucap Adinda membuat Ayunda menggelengkan kepalanya. Namun saat melihat air mata Adinda menetes membuat tenggorakan Ayunda makin keluh dan akhirnya menganggukkan kepalanya.
Ayunda dan Adinda mengikuti langkah kaki mereka dan digiring masuk kedalam mobil. Salah seorang dari mereka segera menghubungi seseorang yang Adinda yakin adalah orang yang memerintahkan mereka untuk menculiknya dirinya dan Ayunda "Saya sudah menangkap perempuan yang ada didalam foto itu Tuan" ucapnya.
"Saya mau melihatnya!" ucapnya.
"Baik Tuan" ucapnya.
Laki-laki itu segera mematikan ponselnya lalu segera kembali menghubunginya dengan video call agar bisa memperlihatkan wajah Adinda dan Ayunda "Kenapa ada dua?" tanyanya saat melihat Ayunda dan Adinda.
"Kami bingung tuan keduanya mirip" ucap laki-laki itu yang kemudian menatap Ayunda dan Adinda. Adinda dan Ayunda memang agak mirip dari segi hidung dan mata. Tapi rambut dan juga bentuk wajah berbeda. Ayunda memiliki pipi tirus sedangkan Adinda memiliki pipi yang agak tembem.
"Saya hanya ingin membawa istri Raka Candrama bukan yang lain!" teriaknya membuat Ayunda dan Adinda terkejut.
Adinda dengan cepat menarik ponsel itu membuat laki-laki itu menampar wajah Adinda hingga membuat Ayunda berteriak histeris. "Jangan sakiti adikku!" teriak Ayunda mendekati Adinda dan memegang pipi Adinda yang lebam.
"Biarkan aku berbicara dengan bos kalian!" ucap Adinda dengan berani membuat seseorang yang sedang berbicara diponsel mendengar ucapan Adinda.
"Maaf tuan salah satu dari wanita ini ingin berbicara kepada anda!" ucap laki-laki itu menatap layar ponselnya.
"Biarkan dia berbicara kepadaku!" ucapnya.
Laki-laki itu menyerahkan ponselnya kepada Adinda. "Yang anda mau adalah istri Raka Candrama dan saya istrinya. Saya mohon kepada anda agar Kakak perempuan saya dibebaskan. Dia memiliki putra yang masih bayi dan masih sangat membutuhkannya. Saya akan menuruti keinginan anda asalkan Kakak perempuan saya dilepaskan!" ucapan Adinda membuat Ayunda menggelengkan kepalanya.
"Tidak, jangan Dek. Mbak akan menemani kamu!" ucap Ayunda, ia tidak ingin terpisah dari Adinda.
"Apa kau pikir kau berhak menentukan apa yang ingin aku lakukan kepada kalian? Hahaha...karena kecerobohan keluarga kalian aku kehilangan anakku!" ucapnya.
"Saya tidak tahu masalah apa yang membuat anda mara kepada suami saya tapi saya mohon jangan libatkan orang lain dalam masalah ini!" ucap Adinda.
Maaf mbak, Dinda nggak mau Mbak terlibat masalah ini. Kasihan Ghavin dia masih membutuhkan Mbak.
"Hahaha tidak semudah itu Nyonya Raka Candrama!" ucapnya menatap Adinda dengan kesal.
"Saya mohon Tuan, saya tidak tahu masalah anda dengan suami saya hingga anda menculik saya. Jika anda menginginkan nyawa saya saya bersedia memberikanya asalkan bebaskan Kakak perempuan saya!" ucap Adinda dengan tatapan memohon. Ayunda terisak dan ia menggelengkan kepalanya agar Dinda menghentikan ucapannya.
"Apa kau mau bekerja sama denganku?" tanyanya membuat Adinda menganggukkan kepalanya. "Saya akan melakukan apapun asalkan anda membebaskan kakak perempuan saya!" ucap Adinda lagi.
Jika kau menginginkan tubuhku maka detik itu juga aku memilih mati dari pada hidup ternoda dan mengkhiantai suamiku hanya untuk menyakitinya.
"Suamimu telah membuatku murka, dia berani ikut campur masalahku setelah aku memperingatkan kepala keluarga kalian!" ucapnya.
"Iya saya minta tolong tuan, saya tidak peduli dengan nyawa saya tapi saya mohon permintaan terakhir saya dikabulkan. Bebaskan kakak perempuan saya!" ucap Adinda mengiba.
Laki-laki itu tidak tahu jika Ayunda juga bagian dari keluarga Candrama jika ia tahu ia tidak akan pernah melepaskan Ayunda. Tangis kembali Ayunda pecah, adiknya akan melakukan apapun demi menyelamatkan dirinya sedangkan dirinya hanya bisa menangis dan memohon agar mereka tidak menyakiti adiknya.
"Jangan sakiti adik saya, saya mohon hiks...hiks.. !" pinta Ayunda.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan?" tanya laki-laki itu menatap Tuannya menunggu perintah dari Tuanya.
"Kau ingat apa perintahku? jangan sakiti dia! saya hanya memeritahkan kamu untuk membawanya dan bukan untuk memukulnya!" ucapnya. Saat berbicara dengan Adinda ia sempat melihat wajah Adinda yang lebam.
"Maafkan saya tuan, saya tidak akan mengulanginya!" ucapnya.
"Lepaskan Kakaknya dan bawa istri Raka Candrama segera kehadapanku!" ucapnya.
"Brian... " lirih Adina. Ia ingat satu nama yang akhir-akhir ini sering diceritakan Radina kepadanya. "Brian aku tahu itu kamu kan! aku mohon bebaskan kakakku dan aku yakin suamiku akan membantumu!" ucap Adinda karena tidak ada pilihan lain baginya untuk menyelamatkan Ayunda selalin berusaha menujukan jika ia akan membantunya.
"Kakakmu akan dilepaskan!" ucap laki-laki itu membuat Adinda menghembuskan napas legahnya.
Adinda memeluk Ayunda dengan erat "Tenanglah dia tidak akan menyakitiku, ini masalah keluargaku Kak. Maaf telah melibatkanmu!" ucap Adinda.
"Tidak ini juga masalahku, aku akan ikut denganmu dek. Jangan begini aku lebih memilih mati jika aku tidak bisa melihatmu lagi!" ucap Ayunda membuat tanging Adinda pecah.
"Hiks...hiks... Mbak percayalah Dinda tidak akan apa-apa. Laki-laki itu Brian dia ada kaitanya dengan keluarga Mamanya Kak Raka. Dia tidak akan menyakitiku!" ucap Adinda mencoba meyakinkan Ayunda kalau dia tidak akan apa-apa.
"Kita akan menurunkannya di dekat sana!" ucapnya.
"Jangam sampai Mbak Ayu terluka sedikit pun jika itu terjadi aku tidak akan memaafkan kalian mesikpun aku harus mati ditangan kalian, kalian harus tahu jika aku menjadi hantu aku akan lebih berbahaya!" ucap Adinda sengaja mengatakan kekonyolannya agar Ayunda sedikit tenang karena ia terlihat tidak takut saat ini. Padahal Adinda sebenarnya ingin menangis ketakutan namun ia menutupinya agar terlihat kuat.
Mereka berhenti dipinggir jalan dan mengeluarkan Ayunda dan segera melepar tas Ayunda. Ayunda terduduk dan memangis histeris melihat mobil yang membawa adiknya itu pergi meninggalkannya.
"Adinda... hiks...hiks... tolong adik saya!" teriak Ayunda membuat beberapa orang mendekati Ayunda. "Adik saya diculik tolong!" lirih Ayunda.
Ayunda mengambil ponselnya dan menghubungi Guna yang saat ini sedang rapat bersama Raka. Guna segera mengangkat ponselnya.
"Halo assalamualikum" ucap Guna sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat. "Waalikumsalam Mas hiks...hiks... tolong Ayu Mas hiks...hiks... " tangis Ayunda membuat Guna terkejut dan ia begitu cemas saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya Guna panik.
"Dinda dibawa orang pergi Mas, Ayu sekarang sendirian Ayu takut Mas... tolong Mas... " teriak Ayunda histeris.
"Mas akan kesana sekarang juga sayang!" ucap Guna.
Guna segera masuk kedalam ruang rapat dan mendekati Raka. Ia membisikkan sesuatu ditelinga Raka membuat wajah Raka terlihat sangat murka.
"Rapat ini saya akhiri sampai disini!" ucap Raka membuat peserta rapat bingung dan gaduh.
Tanpa pamit Raka dan Guna segera meninggalkan ruang rapat. Raka menghubungi para bodyguardnya "Kemana kalian? dimana istri saya?" teriak Raka membuat beberapa karyawan yang mendengarnya terkejut. Apalagi wajah Raka dan Guna terlihat tidak biasa saat ini seperti ingin melenyapkan seseorang yang telah berani mengusik keluarganya.
tbc...