
Ayunda memapah Guna masuk kedalam kamarnya. Ia kemudian duduk diatas ranjang bersama Guna. Ayunda kembali meletakkan telapak tangannya ke atas dahi Guna. Ia kemudian menakup kedua pipi Guna dan menatap Guna dengan sendu.
"Mas maafkan Ayu ya!" lirih Ayunda membuat Guna segera memeluk Ayunda dengan erat.
"Mas juga minta maaf sama Ayu, Mas salah!" ucap Guna.
Ayunda menggelengkan kepalanya "Nggak Mas nggak salah, Ayu yang salah karena mudah marah, menyebalkan dan menjadi perasa!" ucap Ayunda melepaskan tangannya dari kedua pipi Guna dan ia menundukkan kepalanya. "Mas udah cukup sabar dengan sikap Ayu yang kekanak-kanakan dan berubah sejak Ayu hamil. Ayu jadi pemalas, jelek dan sangat manja sama Mas. Pada hal, Mas capek kerja dari pagi samapau sore tapi masih sempat nanyain Ayu, teleponin Ayu dan minta mama-mama jagain Ayu bergantian!" ucap Ayunda sendu.
"Bagi Mas nggak masalah Yu, kamu memang harus mendapatkan perhatian dari Mas sayang!" ucap Guna.
"Ayu juga bodoh banget Mas, masa Ayu marah hanya karena Mas lupa beliin Ayu makanan yang Ayu mau, Pada hal Ayu bisa minta Gemal, Adinda atau Vivian buat beliin makanan yang Ayu mau. Tapi Ayu pengennya Mas yang beliin kan Ayu udah jahat sama Mas perintah-perintah Mas yang lagi sibuk. Jadi Ceo kan sibuk banget hiks...hiks... Lihat Om Raka aja filenya bertumpuk kayak gunung, Si Om kan Ceo juga. Ayu mau juga jadi asisten Mas, biar bisa bantu Mas kayak Adinda!" ucap Ayunda membuat Guna tersenyum.
"Tahu dari mana kerjaan Ceo itu banyak?" tanya Guna mengangkat wajah istrinya yang menunduk dengan pelan. Guna melihat air mata menetes dipipi Ayunda, ia segera menghapusnya dengan jemarinya.
"Ayu sering lihat postingan Adinda" ucap Ayunda. Adinda sering memotret berkas yang ada di meja Raka dan dengan jahilnya ia mengatakan jika pekerjaannya sangat banyak gara-gara si Om galak. Ayunda merasa jika ia bisa membantu Guna memeriksa berkas seperti Adinda.
"Kamu nggak perlu membantu Mas Ayu, bagi Mas yang penting kamu dan bayi kita sehat. Kerjaan Mas sudah ada yang membantu, nanti kalau sudah melahirkan kamu bisa selalu datang ke kantor sambil membawa anak kita dan menemani Mas disana. Kalau Mas lapar kamu kan bisa nyuapi Mas!" ucap Guna lembut.
"Maaf Mas, Ayu pernah berpikir Mas nggak cinta lagi sama Ayu. Apalagi Ayu suda jelek begini!" ucap Ayunda membuat Guna menarik Ayunda kedalam pelukannya.
"Mana mungkin saya nggak cinta sama permempuan baik seperti kamu, siapa bilang kamu nggak cantik? kamu cantik sayang!" ucap Guna lembut. "Apalagi sekarang kamu lagi hami anak kita, kamu semakin cantik bagi Mas Ayu. Nah kan... Mas jadi pengen..." ucap Guna menggaruk tengkuknya.
"Nggak usah sayang, tadi Dinda udah kasih obat sama Mas!" ucap Guna menghela napasnya karena ia berbohong pada istrinya.
*Aduh gara-gara pura-pura sakit nggak bisa kangen-kangenan sama istri. Tadinya pengen peluk, cium dan mengunjungi bayi kita.
batin Guna*.
"Mas Ayu bikin jahe hangat ya biar nggak flu, Ayu ngerasa Ayu jahat banget ngusir Mas dari kamar!" ucap Ayunda.
"Jangan lagi ya sayang ngusir Mas kayak gitu! kalau marah sama Mas lima menit aja!" ucap Guna meletakan tangannya diatas kepala Ayunda dan menatap mata istrinya itu yang berkaca-kaca.
"Iya Mas, Ayu cinta sama Mas Guna. Kalau Mas nggak sakit.... " ucap Ayunda terhenti.
"Kenapa kalau Mas nggak sakit?" tanya Guna menatap Ayunda dengan penasaran.
"Kan Ayu pengen Mas jengukin dedek!" ucap Ayunda membuat Guna terkejut dengan permintaan istrinya dan ia menghela napasnya.
Ternyata berbohong itu sangat tidak baik, coba saja ia memelas dan tidak menyerah merayu Ayunda untuk memaafkannya, mungkin ia tidak akan berbohong. Karena kebohongannya ia tidak bisa menyalurkan kerinduannya. Bisa-bisa malam ini ia akan mandi malam lagi. Padahal istrinya yang sedang hamil menjadi menggemaskan dan sangat menggoda.
"Ayo Mas bobok, istirahat ya Mas!" ucap Ayunda meminta Guna berbaring dan ia menyelimuti tubuh Guna dan segera keluar menuju dapur untuk membuatkan Guna segelas air jahe.